Menjual Kepercayaan

koleksi pribadi

koleksi pribadi

Kegiatan rutinitas pagi, siang hingga malam tiap orang berbeda. Masing-masing punya kesibukan tersendiri. Demikian pula halnya dengan saya sendiri. Kegiatan rutin yang selalu berulang kadang lupa ada momen tertentu yang mestinya dibagi kepada orang lain. Pagi ini, aktifitas pagiku sarapan diseputar Lempuyangan Yogyakarta.
Tersebab karena kebiasaan, pandangan yang yang semula biasa saja tiba-tiba ada sekelebat pandangan sehingga saya harus mengabadikan suasana salah satu pom bensin. Padahal kereta api lali lalang yang diselingi dengan suara pluit dan horn. Cukup memekakkan telinga.
Lokasinya di seputar Lempuyangan, tepatnya  sebelah timur Stasiun Kereta Api. Berhadapan dengan kantor DPD Golkar Kota Yogyakarta atau Warung Ijo langgananku. Warung hijau yang legendaris menyediakan makanan tradisonal. Lokasinya cukup  luas. Fasilitas pendukung cukup tersedia. Dengan kode 41 menandakan bahwa usaha menjual bahan bakar minyak tersebut milik pemerintah.

Tempat itu, dulunya hanya untuk mangkal kendaraan tangki. Terminal kendaraan untuk mensuplai kebutuhan BBM bagi masyarakat Jogja. Di pinggir area teronggok tabung gas yang kadang kala tampak menggunung tidak rapi. Namun, sekarang sebagian lahan telah disulap untuk menjual BBM. Penampilannya rapi dan bersih.
Apa istimewanya pom bensin tersebut dengan yang lain?  Karena hampir tiap 2 hari lewat jalan tersebut, maka yang kucatat pertama adalah antrian kendaraan.
Tak mengenal waktu jeda, aktifitas kendaraan hampir selalu mengular. Jenis bahan bakar apapun yang diambil kendaraan bermotor. Mulai dari roda 2 sampai 6 atau lebih. Di sudut tertentu, konsumen bahkan disuruh ambil sendiri setelah membayar dengan sejumlah uang.
Saya sering menjumpai ada petugas khusus yang sedang menera ulang ukuran literan. Artinya bahwa di waktu-waktu tertentu, volume bahan bakar minyak harus tepat sesuai dengan standarnya.
Kedua, apa yang kulihat sementara boleh saya mengatakan bahwa pom bensin ini bukan menjual tetes-tetes bahan bakar minyak, tapi menjual kepercayaan.  Terbukti terjadi antrian kendaraan di setiap waktu. Selalu mengukur ulang isi setiap liternya agar tidak berkurang.
Mengapa menjual kepercayaan? Setiap bisnis memiliki ciri dan karakternya masing-masing. Menjual makanan punya tingkat resiko yang berbeda dengan penjual pakian. Alat kelontong tidak sama dengan bisnis persewaan. Bisnis minyak, faktor kepercayaan lebih utama dibanding dengan tempat. Meskipun areanya luas dan dapat menampung berpuluh-puluh kendaraan, tapi curang dalam setiap liternya, konsumen akan lari.
Memanjakan konsumen juga belum tentu menjamin terjualnya barang-barang dagangannya. Persiangan bank saat ini, bukan pada rasa nyaman saat menjamu konsumen. Tapi lebih pada saling percaya. Bisnis transportasi harus berjibaku dengan sesama yang mengandalkan sistem on line. Penjual ritel sekarang baru kelimpungan menghadapi pasar on line.
Bisnis apapun, termasuk juga pendidikan harus  membuka lebar pintu alternatif agar tidak tergerus dengan jaman atapun pesaing. Tak hanya kenyamanan, terpenuhinya fasilitas atau memberi bonus yang berlebihan, untuk menarik konsumen agar menjadi pelanggan, akan tetapi faktor kepercayaan adalah faktor utama dalam setiap berusaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *