5 Peran Guru

Mengenyam pendidikan di abad-21 sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Teknologi informasi sangat berperan dalam alih budaya yang semakin cepat. Era digital menuntut setiap orang untuk berpikir cepat dan tepat.
Cepat saja tidak mungkin. Bisa salah sasaran. Andai salah sasaran, dan tidak mampu memperbaiki, ia akan semakin tersesat. Jauh dari jalan yang mestinya ia tempuh.

Tepat saja juga tidak mungkin. Perhitungan hidup saat sekarang sudah diukur dengan detik. Tiap detik sangat mempengaruhi keputusan yang hendak diambil. Setiap keputusan pasti telah diperhitungkan dengan perhitungan yang baik.
Setiap insan yang sedang melakukan transformasi lewat pendidikan mesti memiliki kemampuan untuk memadukan kecepatan dan ketepatan. Subyek pendidikan bukan hanya guru atau dosen. Obyek pendidikan bukan hanya siswa atau mahasiswa. Subyek dan obyek menjadi satu. Karena setiap manusia selalu dalam masa belajar. Tak ada jeda sedikitpun.
Guru, sebagai subyek sekaligus obyek dalam ranah pembelajaran memiliki lima peran yang harus diemban, agar budaya belajar terus dikembangkan, tak pernah mengenal padam.
Pertama sebagai pengajar. Guru dituntut bersikap profesional. Amanat Pendidikan Nasional adalah jaminannya. Guru harus mampu menyampaikan materi pelajaran secara jujur. Selain sebagai suri tauladan, guru dituntut untuk selalu up date ilmu agar siswa menerima pengetahuan yang tidak usang. Profesional berarti ahli dalam bisang tertentu. Teori maupun implementasi harus menyatu dalam genggaman guru. Tak sia-sia pemerintah menggelontorkan dana yang sangat besar untuk mengangkat derajat guru. Guru harus dimuliakan.
Kedua berperan sebagai penjaga gawang. Saat penyerang sudah kebobolan dalam menjaga zona wilayahnya dari serangan musuh, dan pemain tengah tak mampu untuk melapisi, apalagi pemain belakang sebagai beteng pertahanan sudah jebol, harapan terakhir cuma pada penjaga gawang. Bagaiamana agar bola tak masuk dalam sarang, maka ketangguhan penjaga gawang harus dioptimalkan.
Demikian pula guru sebagai penjaga gawang. Dia akan menjaga wilayah pertahanannya dari serangan lawan yang akan meruntuhkan pendidikan. Guru menyaring informasi agar data yang hendak diserap siswa sesuai dengan tujuan pendidikan. Guru juga mesti memiliki kekebalan tubuh, agar virus yang akan merusak jaringan pembelajaran dapat dimusnahkan. Jati diri guru sebagai orang yang perlu ditiru mesti dipertahankan dan dikembangkan.
Ketiga menjadi fasilitator yang unggul. Guru berfungsi sebagai teman agar dapat diajak diskusi dalam setiap pembahasan pelajaran. Bahkan bukan hanya pembelajaran saja. Persoalan apapun yang dihadapi siswa. Tentang kehidupan, keluarga, asmara atau cita-cita. Siswa sangat mengidamkan partner dalam bertukar pikiran. Manusia tidak memiliki kebenaran mutlak. Manusia hanya bisa memberi alternatif yang terbaik dari berbagai pilihan.
Keempat mampu menjadi katalisator. Setelah semua data difilter, tahap berikutnya adalah mengidentifikasi atau digolongkan sesuai dengan karakteristiknya. Pemilihan ini bertujuan agar tercapai keefektifannya.
Guru juga ahli dalam identifikasi potensi siswa. Tak hanya masalah pelajaran. Bakat dan minat sangat membantu siswa untuk mengenal dirinya sendiri.
Kelima bersimbiose menjadi penghubung. Lembaga pendidikan syarat dengan berbagai macam kepentingan. Kadang kala, tidak ada kaitannya dengan pendidikanpun sering dihubungkan dengan ranah pendidikan. Tidak hanya ketimpangan, tali seeing terjadi disharmonisasi.
Siapa lagi kalau bukan guru yang ambil peran? Guru yang tahu benar tentang arah pendidikan mesti menjadi peran sentral dalam setiap pergaulan dengan luar. Mereka mesti mendengarkan sumpah serapah sampai pujian tentang budaya di sekolah. Mereka juga menjelaskan perihal kemana sekolah hendak melangkah. Mereka mampu menterjemahkan bahasa-pendidikan ke masyarakat, agar publik menerima informasi dengan benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *