Khotbah Jum’at (1)

Hadirin sidang jum’at yang dimuliakan Allah

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada siang hari ini, kita masih diberi kesempatan untuk mengagungkan asma Allah, mengingat Allah, memenuhi panggilan Allah, dalam majelis yang sangat mulia yaitu melaksanakan ibadah sholat jum’at. Seminggu sekali kita asah kembali kadar keimanan kita, seminggu sekali kita isi ruhani  dengan mendengarkan bimbingan rasul dan jalan yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Saya berdiri disini selaku khotib, untuk mengingatkan kepada diri kami pribadi dan jama’ah yang berbahagia, untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, yaitu dengan selalu menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-larangan Allah.  Sholawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada kekasih Allah junjungan kita nabi besar Muhammad saw. Kepada sahabat-sahabatnya, keluarga dan juga kaumnya sampai akhir zaman nanti.

Sidang jum’at Rahimakumullah

Sebagaimana telah kita ketahui bersama dari informasi sejarah Islam bahwa Al-qur’an diwahyukan pertama kali oleh Allah kepada nabi Muhammad pada bulan Ramadhan tahun 601 M. Al-qur’an sendiri tidak menyebutkan tanggal berapa persisnya diturunkan. Namun umat Islam Indonesia (juga mayoritas umat Islam Negara lain) menggunakan hasil penelitian sejarah bahwa pertama kali Al-qur’an diturunkan adalah pada tanggal 17 Ramadhan. Ayat yang mula-mula diwahyukan sangat pendek dan sederhana namun mengandung nuansa yang cukup spektakuler. Ayat yang dimaksud adalah :

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Itulah lima ayat Al-Qur’an yang pertama kali diwahyukan ketika Nabi Muhammad saw sedang bertahannuts (beribadah seorang diri) di gua hira’. Lima ayat perdana ini langsung mengajarkan tentang Tuhan, manusia, dan sarana mutlak bagi manusia untuk dapat menunaikan fungsi hidupnya. Ayat tersebut sekaligus pula mengajarkan kepada manusia agar mengenal Tuhannya, mengenal dirinya sendiri, dengan perangkat ilmu yang disimbolkan dalam lafal iqra’.

Tuhan, menurut penegasan ayat pertama, adalah yang telah menciptakan semesta alam. Jangan bertuhan kepada yang tidak pernah menciptakan alam. Manusia, menurut penegasan ayat yang kedua, adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang proses kejadiannya melewati fase dari segumpal darah yang bergantung dan bersarang pada dinding rahim, setelah keluar dari tempat pembuahan. Tuhan, menurut penegasan ayat yang ketiga, adalah mahamulia. Tuhan menurut ayat yang keempat, mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam (pena). Dengan perantaraan kalam itu, Tuhan menurut ayat yang kelima, mengajarkan manusia banyak hal yang semula tidak diketahuinya.

Memperhatikan kandungan lima ayat perdana dari Al-qur’an itu, dapat diyakinkan bahwa ayat-ayat Al-qur’an itu benar-benar berasal dari wahyu Allah yang dengan perantaraan Malaikat Jibril diterimakan kepada Nabi Muhammad saw. Mustahil ayat-ayat yang sependek itu (yang mengandung ajaran sangat fundamental tentang Tuhan, manusia dan peranan ilmu bagi kehidupan manusia) datang dari Nabi Muhammad sendiri.

Hadirin siding jum’at yang dimuliakan Allah.

Al-qur’an menyatakan bahwa jin dan manusia diciptakan Allah agar senantiasa mengabdi kepada-Nya.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Adz-Adzariyat 51 : 56

Manifestasi pengabdian kepada Allah itu adalah dengan diberikannya kepercayaan kepada manusia pengemban amanat Allah untuk memakmurkan kehidupan di bumi. Karena tugasnya yang sangat mulia itu, manusia diberi predikat khalifah (wakil atau pengganti) Allah di bumi.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Al-Baqarah 2 : 30

Untuk memungkinkan tugas hidupnya, segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ditundukkan (dijadikan fasilitas) kepada manusia. Tugas hidup yang sangat mulia itu menentukan kedudukan manusia di tengah-tengah makhluk lainnya. Manusia menempati posisi yang istimewa dibanding dengan makhluk lainnya. Keistimewaan kedudukan manusia disimbolkan dari ketika Adam diciptakan oleh Allah, dimana malaikat diperintahkan bersujud, maka malaikat langsung sujud, sedangkan Iblis membangkang dengan congkaknya.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Al-Baqarah 2:34

 Ketinggian martabat manusia dan kemulian tugas hidupnya memerlukan perangkat-perangkat yang memang telah disiapkan oleh Allah sejak awal diciptakannya. Manusia diciptakan dengan unsur jasmani yang menarik, debekali akal dan rasa serta kehendak. Didalam jiwa manusia terdapat dua potensi, yaitu potensi konstruktif dalam arti memenuhi hidupnya dengan yang diamanatkan Allah, dan potensi destruktif dalam arti mengingkari tugas hidupnya sebagai pengemban amanat Allah. Dua potensi yang saling berlawanan itu diwakili oleh nurani dan hawa nafsu. Nurani yang mendorong manusia meningkatkan kualitas hidupnya, sedangkan hawa nafsu senantiasa menarik manusia untuk ingkar terhadap tugas hidupnya. Dalam hal ini Allah mengingatkan manusia akan berjaya jika dapat menyucikan jiwanya, dan akan gagal bila mencemarkannya.

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Al-A’raf 7 : 10

Hadirin siding jum’at yang dimuliakan Allah.

Dari sini dapat kita peroleh kunci peningkatan kualitas menurut ajaran Al-qur’an, yaitu mengenal dengan tepat tentang Tuhan, manusia dan alam. Tuhan menciptakan manusia tidak sia-sia, bertujuan jelas, agar manusia mengabdi kepada-Nya. Etos pengabdian kepada Tuhan akan mendorong lahirnya kekuatan untuk memenuhi tugas utamanya sebagai “khalifah Allah di bumi”. Pengabdian kepada Tuhan akan sempurna, bila totalitas kemanusiaannya berfungsi secara maksimal. Fisik kuat, sehat dan trampil. Akal dibekali ilmu yang memadai dan potensi untuk berfikir sehat serta sanggup dikembangkan. Rasa wajib mempertahankan dan mengembangkan nilai kehormatan kemanusiaan, baik sebagai makhluk individu, makhluk social maupun makhluk penghuni dan pengelola alam, dapat selalu dibina. Kehendak untuk menyempurnakan penunaian tugas hidup pun dapat diperkuat dan dikembangkan, serta berkesanggupan untuk menanggulangi berbagai kendala, baik intern maupun ekstern. Akhirnya, kesadaran Tanggung jawab kepada Tuhan, sebagai makhluk pengemban amanah-Nya benar-benar harus selalu menyertai manusia dalam menjalani hidupnya di dunia.

Jika kita adakan kajian secara saksama terhadap ayat-ayat Al-qur’an yang menyebutkan tentang kualitas manusia, maka akan kita peroleh rincian sebagai berikut :

  1. Iman

Iman adalah keyakinan terhadap Allah, terhadap malaikat-Nya, terhadap kitab-kitab-Nya, terhadap rasul-rasul-Nya, dan terhadap hari akhir. Iman yang benar merupakan penentu (barometer) nilai hidup manusia. Iman yang benar bertumpu pada keyakinan tauhid, mengesakan Allah. Iman yang benar mendorong manusia untuk berbuat banyak dalam hidupnya menuju ridla Allah.

  1. Amal Shalih

Amal baik merupakan manifestasi dari iman yang benar. Terhadap Allah taat beribadah, terhadap diri sendiri berupaya memenuhi yang menjadi haknya yaitu ruhani dan jasmani. Terhadap keluarga memenuhi yang menjadi hak keluarga, terhadap tetangga berupaya memenuhi hak tetangga demikian seterusnya. Manusia adalah makhluk social yang saling memiliki hak dan kewajiban, dan solidaritas harus senantiasa ditumbuhkembangkan. Hidup saling tolong menolong harus ditegakkan.

  1. Ilmu Pengetahuan

Untuk dapat merealisasikan amal salih yang multidimensial itu, ilmu pengetahuan mutlak diperlukan sebagai sarananya. Untuk berilmu, Allah mengisaratkan dengan “pena” sebagai alatnya. Dengan menggunakan pena, manusia dapat mencatat segala sesuatu yang dijumpai di alam raya ini. Alam raya merupakan kamus yang khusus diperuntukkan kepada manusia. Bagi yang berilmu Allah berjanji akan mengangkat derajatnya. Yang sungguh-sungguh takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang yang berilmu. Karena ilmu memegang peranan yang sangat sentral, maka sabda nabi “ Barang siapa yang menghendaki dunia, hendaklah dengan ilmu. Barang siapa yang menghendaki akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki keduanya, hendaknya dengan ilmu”

Hadirin siding jum’at rahimakumullah

Berhimpunnya tiga rincian tersebut diatas yaitu iman, amal salih dan ilmu pengetahuan yang terdapat pada seseorang akan melahirkan pribadi-pribadi yang pandai memelihara diri dari kesengsaraan hidup menurut pandangan Allah, dalam Islam sering disebut dengan taqwa. Manusia paling taqwa adalah manusia yang :

  1. Paling mulia dihadapan Allah
  2. Memiliki perasaan yang tajam untuk memebedakan yang benar dan yang salah
  3. Akan mudah menemui jalan keluar dari kesulitan-kesulitan hidupnya
  4. Akan dianugerahi cahaya Ilahi yang menyinari jalan hidupnya
  5. Selalu berusaha memelihara keseimbangan hidup, jasmani-ruhani, individual-sosial, dunia-akhirat dan sanggup berkorban untuk tegaknya ajaran-ajaran Allah di muka bumi ini
  6. Berhati-hati dalam hidupnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *