Ulumul Qur’an

ulumulMinggu lalu, saya mengantar anak ke toko buku sosial agensi yang berada disebelah timur Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta. Memang selama ini anak dan istri lebih senang membeli buku di sosial agensi. Karena koleksi bukunya cocok dengan yang diharapkan. Saya sendiri senang ke gramedia, atau kalau ada pameran buku.

Setelah buku terpilih dan membayar dengan harga yang tertera, kami lantas meninggalkan toko buku. Tepat di pintu keluar, saya melihat salah satu karyawan sedang membaca jurnal. Bukunya lebar. Bentuk dan kemasannya mirip dengan jurnal Ulumul Qur’an. Karena penasaran, sayapun bertanya langsung kepada karyawan tadi. Benar saja, buku jurnal Ulumul Qur’an.

Sewaktu masih mahasiswa, saya selalu membeli Ulumul Qur’an, kalau pas ada uang. Sampai sekarang jurnal itu telah saya jilid rapi tapi tidak urut. Tergantung edisi yang terbeli. Saat itu memang tidak banyak rekan-rekan tertarik dengan Ulumul Qur’an. Hanya satu alasan teman-teman tidak membelinya, yang sampai sekarang masih terekam. Bahasanya sulit dicerna.

Dibanding dengan jurnal yang sekelas, seperti “Hikmah” misalnya, Ulumul Qur’an jauh lebih mudah dipahami. Hikmah memang lebih banyak mengkaji pemikiran yang berkembang di Iran. Filsafat dan pemikiran Islam yang berkembang di Iran dikupas. Sudah barang tentu aliran syiah, lebih banyak porsinya. Pemikiran Islam versi Murtadha Muthahari lebih mendominasi, dibanding dengan Ali Syariati atau Mulla Sadra.

Saya termasuk orang yang cuek. Dikatakan Syiah saya anggap angin lalu saja. Dalam pikiran saya cuma satu. “Belajar memahami pikiran orang lain”. Memang ada teman yang lebih mendalami tentang syiah sampai pada amalannya. Itu hak temanku. Namun rata-rata, yang saya amati, lebih banyak teman-teman yang hanya sebatas pada wawasan.

Kembali ke Ulumul Qur’an. Pertama kali terbit, sekitar bulan April 1989, Ulumul Qur’an mencuri perhatian. Terutama di kalangan kampus. Ulumul Qur’an terbit, dikarenakan untuk menangkap dan mewadahi kecenderungan wacana perkembangan pemikiran Islam, terutama di Indonesia pada waktu itu, antara lain : gagasan reaktualisasi pemikiran Islam dari Munawir Sjadzali, islamisasi pengetahuan dari Ismail R al-Faruqi, pembaharuan pemikiran Islam dari Fazlur Rahman, dan kajian Islam tentang kecenderungan masa depan dari Ziauddin Sardar.

Tulisan yang selalu saya baca pertama kali adalah Ensiklopedi Al-Qur’an yang ditulis sendiri oleh pendirinya, M. Dawam Raharjo. Saat ini beliau sudah berumur 70 tahun. Namun semangat untuk membangkitkan lagi jurnal ini masih masih ada.

Beliau orang LSM yang dengan konsisten mengangkat derajad orang pinggiran. Hanya satu yang beliau perjuangkan, “keadilan”. LSM yang digeluti dalam bidang ekonomi, sehingga melahirkan jurnal yang cukup prestisius, yaitu “prisma”. Sampai sekarang tidak pernah berubah. Kalau dulu terjun langsung ke masyarakat, sekarang lebih banyak memperjuangkan pemikiran lewat tulisan.

Ensiklopedi bukan tafsir Al-Qur’an. Dawan Raharjo sendiri bukanlah seorang mufassir (ahli tafsir Al-Qur’an). Ensiklopedi Al-Qur’an sebagai salah satu rubrik yang selalu hadir, memberikan warna tersendiri, setelah tafsir al-Qur’an sejenis Al-Maraghi, Ibnu Katsir dianggap usang. Ensiklopedia mengangkat tema yang muncul sehari-hari, seperti Fitrah, Amanah, Ulil Amri. Meski bukan tafsir, yang saya rasakan, setelah membaca ensiklopedia muncul gairah untuk membuka buku lain untuk konfirmasi dan membandingkan. Belakangan, muncul tafsir yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Semakin beragam dan semarak khasanah pemikiran Islam.

Rubrik lain yang cukup menarik adalah mengangkat kebudayaan. Selama ini budaya islam diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat tradisional dan kuno. Tidak lagi sesuai dengan jamannya. Seni dan budaya pernah mendapat predikat terpuruk di kalangan umat Islam sendiri. Maka, dengan mengangkat tema budaya, dimaksudkan untuk menyulam kembali serpihan-serpihan Islam di Indonesia yang sebenarnya cukup anggun.

Masih banyak tema lain yang menawarkan obat dahaga bagi pembaca yang suka dengan pemikiran dan perkembangan Islam, khususnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *