Belajar Bersama Bang Ali Sadikin

sumber gambar : sejarahri.com

sumber gambar : sejarahri.com

Maka jadilah saya disebut “Bang Ali”, sebutan yang terasa akrab dan dihormati. Saya terima sebutan itu, bahkan kemudian dinobatkan oleh sebuah yayasan masyarakat Jakarta Yayasan Husni Thamrin yang dipimpin oleh Mayjen Dr. Azis Saleh, sebagai Bang Ali dan istri saya “Empok Nani” dalam satu upacara yang serba Jakarta. Pakaian ala Jakarta, suguhan ala Jakarta, dan dekorasi ala Jakarta. Pendeknya : semua serba Jakarta. Dan memang saya mendambakan sekali agar semua orang yang tinggal di Jakarta ini merasa bahwa mereka penduduk Jakarta, bukan lagi penduduk tempat lain. Mereka harus mencintai Jakarta, merasa bagian dari Jakarta.

Kutipan diatas saya sadur dalam sebuah buku : Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi, buah tangan Ramadhan K.H. Buku setebal 630 halaman berisi tentang sepak terjang beliau dalam menata kota Jakarta. Kalau boleh bilang, bahwa buku itu bukan otobiografinya Bang Ali. Karena berisi tentang kita-kita mengelola sebuah kota yang besar dengan segala macam persoalannya.

Diangkat langsung menjadi Gubernur Jakarta oleh Presiden Soekarno, Bang Ali sukses menjadi pemimpin dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pernah digadang-gadang menjadi Presiden oleh mahasiswa di Jakarta, namun tokoh orde baru “Soeharto” tidak berkenan. Makanya tidak heran bila saat ini sebagian warga DKI Jakarta mendambakan pemimpin seperti beliau.

Buku itu saya dapatkan sebenarnya sudah lama, tapi belum sepertiga yang sempat saya baca. Tiap bagian dalam bab, banyak inspirasi yang saya dapatkan. Seperti kutipan di atas. Bang Ali menginginkan agar semua warga Jakarta, baik yang penduduk asli maupun pendatang, dapat merasakan menjadi warga Jakarta. Oleh karenanya, dalam setiap kebijakannya hampir selalu bermusyawarah dengan warga. Sehingga kebijakan yang diambil mengakar. Demikian pula pada saat sosialisasi, beliau turun langsung di tengah masyarakat, setelah sebelumnya dikonsultasikan dengan pihak DPR.

Ada beberapa pemerintah daerah, Gubernur dan Bupati atau Wali Kota secara diam-diam meniru model Bang Ali. Menjadikan daerahnya benar-benar menjadi milik masyarakat dengan tidak memandang suku dan agama. Disaat semangat otonomi daerah yang disakralkan, beberapa jabatan harus dipegang oleh pribumi, invertor harus putra daerah, masih ada beberapa kepala pemerintahan yang masih waras. Ia lebih mengutamakan semangat kompetensi. Ia masih sadar bahwa semua warga adalah orang Indonesia.

Semangat yang disebarkan oleh Bang Ali, mestinya bisa diserap oleh semua kepala wilayah sampai kepada Bapak/Ibu RT (Rukun Tetangga). Bahkan kepala rumah tangga. Bahwa semua warga berhak untuk mendapatkan rasa nyaman. Sebaliknya, wargapun harus memiliki kewajiban untuk menciptakan suasana yang aman dan damai.

Menjadi tuan rumah yang baik ternyata tidak mudah jika tidak terbiasa berkecimpung dalam bermasyarakat. Perbedaan cara pandang mesti disikapi sebagai sebuah wawasan. Mengayomi masyarakat juga bukan perkara gampang manakala kita tidak menghargai orang lain. Berbahagialah bila kita hidup dalam masyarakat yang heterogen.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *