Bukit Selfie

ropoh

Kemarin saya benar-benar suprise, karena setelah puluhan tahun tak jumpa teman SMP, baru kesampaian terlaksana dalam ajang silaturahmi seduluran saklawase. Acara yang dikemas santai dan penuh kangen sebenarnya telah dipersiapkan oleh teman saya sendiri yang juga menjadi Camat di Kecamatan Kepil Wonosobo.
Mengapa saya menyebut surprise, karena setelah saya ikuti sejak awal hingga usai, rombonganku disuguhi berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh warga Desa Ropoh Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo. Semuanya itu telah dipersiapkan oleh teman-teman yang bermukim di Kepil. Terima kasih sobat.

Apa istimewanya Desa Ropoh?  Menurut pengakuan Pak Camat, Bapak Singgih Kuncoro, tiga tahun yang lalu, Desa Ropoh adalah desa yang paling terbelakang se Propinsi Jawa Tengah. Namun sekarang desa tersebut sudah menduduki rangking 15 dari desa berprestasi dari segi progresif se Jawa Tengah.
Desa Ropoh memiliki luas kurang lebih 7,01 km2, berjarak sekitar 38 km dari Kota Wonosobo. Desa yang terletak di lereng Gunung Sumbing dan dikelilingi pegunungan yang rata-rata hutan pinus ini ternyata mempunyai potensi wisata yang tidak mengecewakan. Sebagian besar penduduk Desa Ropoh berprofesi sebagai petani, akan tetapi juga ada industri rumahan berupa ukiran (mebel), opak, batik khas Desa Ropoh.
Saat ini penduduk telah memiliki etos kerja yang tinggi dan mendayagunakan potensi yang ada disekitarnya. Mungkin pembaca tidak percaya, kalau di desa ini sudah punya industri batik. Disamping juga eksplorasi makanan tradisional. Namun dikemas dalam bentuk yang apik. Tak kalah dengan industri makanan camilan yang sudah kita kenal.
Diakui oleh Pak Camat, bahwa untuk membangkitkan semangat kerja harus dilakukan bersama-sama. Dengan berbagai macam pelatihan, akhirnya penduduk setempat trampil mengemas industri makanan tradisional, industri batik dan mengelola alam (Bukit Selfie) menjadi komoditi yang menguntungkan.
Bukit Selfie Desa Ropoh Kecamatan Kepil diresmikan pada tanggal 30 Juli 2017. Baru beberapa bulan. Pengunjung mulai berdatangan.  Selain udaranya yang masih sejuk pengunjung dimanjakan oleh pemandangan alam yang  masih asri hingga pengunjung tak sabar untuk berselfie di tempat itu. Untuk lebih memajukan wisata bukit selfie tersebut kini telah dibangun pelengkap tempat wisata tersembunyi ini seperti tempat duduk, taman bermain, spot foto, WC dan tempat sholat.
Dibanding dengan bukit Becici, masih jauh. Mereka sudah lama melenggang. Namun bukit selfie ini bila dikelola dengan baik, saya yakin bisa bersanding dengan bukit lain, yang telah berpredikat sebagai destiny wisata. Sebab di lingkungannya terdapat bukit lain yang akan menambah apiknya daerah tujuan wisata.
Membangun wisata pada akhirnya bukan investasi memperbaiki fasilitas. Didalamnya ada promosi, akses menuju tempat wisata, kesiapan masyarakat menyambut tamu. Di jaman yang semakin mudah dalam balutan Teknologi Informasi, promosi menjadi medan juang yang membutuhkan strategi yang jitu. Internet telah memberi peluang yang sangat luas untuk menangkap peluang. Pak Camat dan jajarannya mesti berusaha seoptimal mungkin untuk meningkatkan taraf hidup bagi warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *