Menabung atau Hutang

Dunia perbankan mengalami perkembangan yang cukup tajam. Walaupun dekade yang lalu Indonesia diterjang krisis ekonomi. Perlahan tapi pasti, perjalanan bank di tanah air semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Modal utama pengelolaan keuangan lewat lembaga resmi seperti bank memang dari kepercayaan masyarakat.

Bank syariah, yang kemunculannya kurang mendapat respon, ternyata bisa membuktikan bahwa biduk keuangannya tidak terimbas badai krisis ekonomi. Hal ini menambah kepercayaan masyarakat terhadap bank di tanah air. Meski lembaga keuangan yang ilegalpun bermunculan, kehadiran bank syariah memberi tawaran tersendiri di antara problem keuangan yang dihadapi masyarakat.

Dua kosa kata yang melekat dalam dunia bank adalah menabung dan hutang. Dua istilah itulah yang selalu ada di media bank. Bila kelebihan uang, salah satu cara yaitu dengan menabung. Bila membutuhkan dana untuk keperluan, salah satu cara dengan hutang di Bank. Sehingga menabung dan hutang identik dengan bank.

Di sekolah sudah diajarkan tentang menabung lengkap dengan bunga. Jual-beli lengkap dengan diskon. Materi menabung terdapat dalam bab aritmetika sosial. Sebenarnya, materi ini sangat mudah, karena berhubungan langsung dengan kegiatan sehari-hari. Bahkan setiap hari, siswa sudah melakukan transaksi. Dalam realita, anak justru kesulitan memahami tentang menabung dan diskon.

Salah satu sebab yang sampai sekarang belum terpecahkan adalah susunan redaksi. Kalimat yang disusun untuk pembelajaran tentang keuangan masih dirasa belum dimengerti secara utuh oleh siswa.

Fenomena lain, mengapa materi keuangan kurang dapat diterima oleh siswa adalah adanya selebaran yang bertebaran tentang kredit. Perumahan, kendaraan bermotor, barang elektronika yang dapat kita jumpai dimanapun berada. Tampak kontras antara ilmu yang didapatkan dari bangku sekolah dengan derap kehidupan sehari-hari.

Bila memang gejala dalam masyarakat yang dijumpai semakin semarak dengan hutang, kenapa tidak diformalkan saja tentang hutang? Sehingga materi pelajaran bisa ditambah lagi yaitu hutang.  Karena secara perhitungan matematis tidak jauh berbeda dengan menabung, dapat diskon, menghitung bruto,  neto dan tara. Siswa dalam menerima akan merasa lebih membumi, karena berhadapan langsung dengan praktek kehidupan.

Guru, dalam menyusun rencana pembelajaran, membimbing siswa dalam proses pembelajaran, sampai pada karakter yang hendak diusung lebih mudah. Dahulu, seorang guru dalam menyusun rencana pembelajaran selalu tidak ketinggalan mencantumkan “setelah menerima materi pelajaran, diharapkan siswa dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari”. Sekarang kalimat itu hilang. Diganti dengan pendidikan karakter. Sehingga bunyinya (mungkin) menjadi “setelah menerima pelajaran diharapkan siswa dapat mengembalikan hutang secara cepat dan tepat tanpa harus takut dikejar debt collector”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *