Film Everest Mengajarkan Kehidupan

sumber gambar : seatondevon

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca buku tentang pendakian gunung tertinggi mount everest di Nepal. Buku itu sejenis catatan jalan seorang penulis. Tepatnya wartawan di sebuah surat kabar. Ia bertutur pengalaman mencapai puncak tertinggi di dunia. Karena seorang wartawan, tulisannya enak dibaca. Gaya turturnya runtut. Sayangnya buku itu cuma aku pinjam di sebuah warung peminjaman buku. Saya pernah mencoba dua kali ke warung tersebut, tapi gagal memperoleh buku itu. Saya juga tak lupa, kalau ke toko buku akan mencari buku tersebut. Hasilnya nihil. Andai saja ada pasti sudah kubeli.
Rasa kecewa karena tidak mendapatkan buku tersebut, sedikit terobati saat ada film Vertical Limit diputar di sebuah stasiun televisi. Meskipun tidak sama, tapi setidaknya pelipur rindu terlunasi. Apalagi beberapa minggu keudian, film tersebut ditayangkan lagi meski stasiun berbeda.

Rasa balas dendamku akan semakin terobati setelah kemarin aku melihat film EVEREST di bioskop. Film yang diangkat dari sebuah kisah nyata pada tahun 1996, kala sebuah rombongan beritikad naik ke puncak gunung tertinggi itu. Karena diangkat dari kejadian nyata, namun film toh harus mengangkat sebuah hiburan. Enak ditonton, dan diusahakan agar penonton seraya melakukan pendakian. Akibatnya animasi tak terhindarkan. Untunglah Hollywood jagonya kalau hanya urusan rekayasa.
Walaupun hanya mendapat predikat datar-datar saja dari kritikus film, setidaknya film everest ini mengungkit kembali sebuah kisah nyata. Atau membangunkan kembali film petualangan pendakian terekstrim di dunia. Kita masih ingat film Cliffhanger (1993) dan Vertical Limit (2000). Sebuah petualangan yang dianggap tidak mungkin. Karena ganasnya alam. Cuaca yang tidak bisa diprediksi. Badai bisa datang sewaktu-waktu. Karenanya, orang menyebuykan petualangan jemput kematian, meskipun telah dilakukan pelatihan yang amat ketat. Bila belum memenuhi standar kebugaran, sang pelatih tak akan merekomendasikan untuk naik.
Film Everest, menurut saya mengajarkan tentang kehidupan, kalau harus dikomparasikan dengan kejadian sehari-hari yang hampir setiap saat kita jumpai. Pertama adalah focus. Dikisahkan dalam film itu, Rob Hall diperankan oleh Jason Clarke adalah seorang instruktur pendaki gunung. Rob, mempersiapkan diri sepenuh hati paling tidak 4 bulan. Ia memastikan setiap anggotanya untuk menjaga stamina dan persiapan mental. Rob memang harus memilih salah satu. Mendaki atau menunggu kelahiran anak pertamanya. Jan, sang istri diperankan oleh Keira Knightey sampai harus mewanti wanti agar Rob selalu hati-hati karena ditunggu sang buah hati. Namun sebagai seorang instuktur profesional ia meman harus memandu pendaki lainnya.
Persiapan yang matang adalah ajaran kedua. Petualangan pendakian dengan status hidup-mati perlu dibekali ilmu. Tak sekedar tekad dan tersedianya finansial. Walaupun dalam hidup ini kita menjalani kebiasaan yang terus menerus, persiapan mutla diperlukan. Karena keadaan kemarin breda dengan hari ini, apalagi esok hari.
Back Weathers diperankan oleh Josh Brolin adalah seorang miyarder. Dalam kisah itu, ia gagal mencapai puncak. Bahkan ia terkapar dan membeku bersama pendaki lainnya. Dua hari tak bergerak. Ia pun dinyatakan tewas. Tuhan menghendaki lain. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia terhuyung menuruni tebing curam sendirian. Diprediksi tak akan mampu menuju kamp di bawahnya. Namun istrinya menghendaki lain. Karena orang kaya raya, segalanya menjadi mungkin. Dijemputlah back dengan sebuah helikopter.
Ketiga, kerja sama. Ungkapan berat sama dipikul ringan sama dijinjing sangat tepat sebagai gambaran untuk saling tolong menolong. Untuk bisa menjejakkan kaki di puncak everest adalah obsesi semua maniak pendaki gunung. Semua pendaki dari segala penjuru dunia akan merindukan yang amat sangat gunung tertinggi itu. Mereka pasti memilih waktu yang tepat untuk menaklukkan. Bulan Mei adalah waktu favorit. Karena diperkirakan suhu dan cuacanya tidak ekstrim. Namun sekali lagi itu perhitungan manusia. Realisasinya bisa datang tak terduga. Badai salju adalah momok yang paling ditakuti. Karena para pendaki menginginkan waktu yang hampir bersamaan, diperlukan kerja sama antar kelompok.
Rob, sebagai pemeran utama, menawarkan kepada kelompok yang lain agar berjalan bersama dan saling membantu. Dalam benaknya sudah diprediksi, bahwa tidak semua pendaki lulus mencampai finish. Diperlukan bahu-membahu, terutama kebutuhan finansial, yakni oksigen. Seperti yang telah diduga. Ada yang menerima tawaran, ada yang menolak.
Demikian pula dalam kehidupan. Menerima dan menolak itu sudah biasa. Hanya saja kalau argumen yang telah kita tawarkan dengan meminimalisir kerugian, tetap saja ditolak, janganlah putus asa. Sebaliknya, manakala ada orang lain memberi solusi yang lebih baik, tidak ada salahnya kita mengikutinya. Pada akhirnya semuanya berakhir pada tujuan yang dikehendaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *