Strategi Belajar dengan Metakognisi

Pendidikan tak hanya membahas masalah kecerdasan semata. Pendidikan adalah segenap perilaku manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Kecerdasan hanya sebuah pilar dalam membangun pendidikan. Ki Hajar Dewantara, sebagai orang peletak dasar pendidikan, telah menancapkan tiang dasar, yaitu cipta rasa dan karsa. Faktor rasa atau emosi dan perkembangan fisik juga harus mendapatkan tempat dalam wadah pendidikan.

Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom. Pengertian kognitif afektif psikomotorik dalam Taksonomi Bloom ini membagi adanya 3 domain, ranah atau kawasan potensi manusia belajar.

Kognitif (proses berfikir) adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Afektif (nilai atau sikap) adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa. Dan Psikomotorik (keterampilan) adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik.

Trisula yang dikenal dalam pendidikan itu sampai sekarang belum terbantahkan. Masih dipakai referensi untuk kegiatan belajar. Namun apakah dari ketiga ranah tersebut tidak memiliki kekurangan? Atau masih adakah jalan untuk membangun budaya manusia selain dari ketiga ranah tersebut? Karena, dunia ini mengalami perkembangan yang demikian cepat. Sehingga selalu ada saja lobang yang bisa ditembus untuk melakukan terobosan dalam dunia pendidikan.

Peluang tersebut adalah metakognitif. Wikipedia mencatan bahwa Metakognitif adalah kemampuan untuk mengontrol ranah atau aspek kognitif. Kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif.

Karena metakognitif adalah salah satu alternatif dalam pengembangan belajar, maka tidak ada salahnya untuk dicoba. Langka-langkah yang mesti ditempuh dengan cara ini antara lain :

Perencanaan. Belajar harus dengan perencanaan yang matang, meliputi tempat dan waktu. Pelajaran yang bersifat eksakta atau hitungan tentu berbeda dengan pelajaran seni, sastra atau hafalan. Belajar memang tak harus di sekolah, rumah atau perpustakaan. Belajar dimanapun Anda berada.

Kelebihan dan kekurangan. Unsur ini tak bisa dihindari. Taka da manusia yang sempurna. Pasti ada kekurangannya. Identifikasi kelebihan dan kekuarangan sangat menunjang dalam strategi belajar. Menyikapi kekurangan bisa bertanya langsung pada ahlinya. Namun sangat dihargai apabila kelebihan yang dimiliki untuk dibagi kepada orang lain.

Pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pemeo ini benar adanya. Pengalaman langsung berhubungan dengan belajar secara langsung, meskipun (mungkin) tanpa teori. Pengalaman akan memberi pengetahuan yang sangat bermanfaat.

Diskusi. Diskusi adalah saling tukar informasi. Mereka yang tergabung dalam diskusi adalah manusia pembelajar. Di lingkungan diskusi saling memberi dan menerima. Usahakan, manakala perlu untuk menjadi pimpinan dalam berdiskusi. Karena disana sumber serapan yang sangat banyak. Dengan memimpin diskusi, akan dapat mengetahui tiungkat pengetahuan, alur penyampaiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *