Perang Salib (1)

sumber gambar : dzargon.com

Pepatah bahwa ikan membusuk tak mungkin dari ekor, sudah terbukti sejak lama. Pada abad ketujuh, perkembangan Islam sudah bisa menunjukkan taringnya. Pengaruh Islam demikian kuat menghujam terutama di Irak, Mesir Syiria dan Persia. Islam besar bukan karena pengikutnya, tetapi pengaruh budaya yang dibawa Islam untuk menjawab permasalahan yang terjadi di daerah itu.

Puncaknya terjadi pada abad kedelapan. Ekspansi ke daerah timur tercatat sampai Turkistan barat dan Asia Utara. Jelajah ke barat sampai Andalusia dan al-Maghribi. Kedua kubu (kearah barat dan timur) memiliki ghirah yang sama. Puncak ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar dikembangkan dan mencapai puncaknya. Di saat yang sama, Eropa masih mengalami kegelapan.

Lambat laun, dua imperium tersebut, sedikit-demi sedikit mengalami gangguan dari dalam. Persaingan antar pangeran atau penguasa setempat. Atau perebutan kekuasaan antar kerajaan hanya karena merasa superioritas. Fanatisme kabilah antar sesama orang arab. Khalifah Abbasiyah dan Umayah benar-benar diuji kepemimpinan justru dari dalam.

Tidak heran, orang Eropa (Kristen, Protestan) selalu mengintai. Kecemburuan atas prestasi yang dibuat orang Islam, membuat Eropa meradang. Mereka seperti binatang liar yang siap menerkam mangsanya. Cita-cita orang Kristen yang dikomando oleh Paus menghembuskan profokasi, yaitu menguasai seluruh alam Masehi, terutama pada masa Gregory VII dan Innocent III. Mereka mengerahkan semua tenaga dan menyusun kekuatan supaya alam Masehi tunduk di bawah satu pemerintahan.

Berdirinya kerajaan Venici dan Genoa menambah amunisi kaum Kristen untuk mendobrak dunia Islam. Kedua kerajaan yang bermukim di Italia Selatan dan Kepulauan Sisilia, seakan menjadi pemicu bersatunya Negara Eropa. Mereka yakin, dengan satu komando dunia akan dikuasai. Satu kubu mengalami karapuhan, kubu lainnya semangatnya berkobar.

Perang salib tak bisa dihindari. Perang yang selalu meninggalkan kedukaan, jatuhnya korban dan mendatangkan kesengsaraan. Rentetan peristiwa ini seperti garis kontiunitas, yang beberapa kali mengalami pasang naik dan pasang surut. Kalah menang tergenggam pada akhir peristiwa.

Perang Salib Pertama

Palestina. Negara ini seperti piala bergilir yang diperebutkan demi nafsu dan ambisi. Pemenang maupun pecundang pasti mengalami kerugian jiwa dan harta serta kehormatan. Berawal dari Kongres Clearmont 1096, kaum bangsawan dan intelektual secara bersama-sama menyusun kekuatan untuk diterjunkan demi mengusir kaum Muslimin dari Palestina.

Berkat kerapihan organisasi pasukan itu, yang dipimpin oleh Godfrey, Hertog, Lothringen tidak menemui halangan ketika melewati Hongaria. Namun halangan muncul ketika melewati kerajaan Byzantium. Kaisar Alexius tidak akan memberi jalan kepada pasukan Kristen meskipun mereka akan menghajar kaum Muslimin.

Oleh sebab itu Alexius tidak akan memberi jalan kepada pasukan Kristen sebelum menandatangani perjanjian dan bersumpah, bahwa mereka akan menjunjung tinggi pertuanannya dan mengakui bahwa tiap-tiap negeri yang mereka taklukkan merupakan tanah pinjaman.

Tahun 1099 Kota Yerusalem dapat ditaklukkan. Godfrey diangkat menjadi raja di Baitul Makdis. Capaian gemilang ini bukan tanpa pengorbanan yang besar. Sebab di Tahun 1097 terjadi terjangkitnya penyakit yang menimpa pasukan Kristen. Di kota Antichea mereka tertahan disaat persediaan makan menipis. Andaikata emir-emir tidak berseteru, tentu dengan mudah pasukan Kristen dapat ditumpas oleh Pasukan Muslim. Akhirnya kekalahan jatuh pada pasukan Muslim. 10.000 orang tewas mengenaskan hanya karena superioritas antar penguasa Muslim.

Usai perang, kaum salib mendapat berbagai keuntungan anatara lain :

Berdirinya kerajaan Latin di Syam, yaitu Baitul Maqdis diperintah oleh Raja Godfrey. Di Antiochea diperintah oleh Bohemond. Raja Bouwijn berkuasa di Edessa dan Emir Raymond mendapat wilayah di Tripoli.

Kerajaan Venecia semakin menancapkan kekuasaannya untuk mengadakan hubungan luar negeri dengan titik berat pada perdagangan. Ekonomi semakin menggelembung. Negara Palestina dibanjiri oleh bangsa-bangsa barat.

Pertalian antara raja-raja Salib dengan bangsawan semakin erat yang mengakibatkan kokohnya peraturan pembagian tanah.

Bahasa Perancis menjadi bahasa resmi kerajaan salib. Secara tidaka langsung, sedikit demi sedikit menggerus bahasa pribumi. Rakyat menjadi semakin jauh dengan bahasa ibunya sendiri.

Perang Salib Kedua

Setelah mengalami kekalahan yang cukup telak, yaitu jatuhnya Palestina ke pangkuan pasukan salib, membuat pasukan Muslim seperti terpidana. Bukan hanya harta benda yang dirampas, hak kepemilikan tanah terlepas, namun budayapun terinjak-injak. Bani Saljuk baru sadar akibat pertikaian antar emir. Penguasa Bani Saljuk saling menjatuhkan bahkan sampai terjadi perang antar kerajaan.

Tahun 1127 tampillah Atabeg Imaad-Din Zanggi. Belia tampil menyatukan dan mengorganisir seluruh kaum Muslimin serta menyusun kekuatan untuk mengusir bangsa Barat yang telah menginjakkan kaki di bekas kekuasaan Bani Saljuk. Beliaau menjadi Raja yang disegani oleh rakyatnya. Keamanan negeri terjamin dan selalu melindungi rakyat.

Prestasi pertama yang dia raih adalah merebut kembali kota Eddesa pada tahun 1144, dengan terlebih dahulu menguasai kota Damaskus, Aleppo dan Hamimah. Penguasaan kota tersebut terbilang tidak menemui hambatan, bukan karena pasukan Muslim kuat, akan tetapi karena pasukan Salib telah menunjukkan sikap saling menjatuhkan. Roh pasukan Salib sedikit goyah.

Setelah Atabeg Imaad-Din Zanggi wafat, kekuasaan beralih pada anaknya yang bernama Saifuddin dan Nurdin. Beliau juga Raja yang tangkas. Tak kalah dengan sang Ayah. Kedua putra mahkota membagi kekuasaannya. Saifuddin di Mosul dan Nurdin di Syam dan Aleppo. Negara-negara eropa menjadi gentar menghadapai beliau berdua. Kolaborasi antara Rahib Perancis yang bernama Bernard Clairvaux, Raja Louis VII dan Raja Cunrad III dari Jerman dapat ditumpas.

Setelah perang salib yang kedua ini, rakyat dan pasukan Muslim dapat berziarah kembali ke Baitul Maqdis. Kehidupan di wilayah Bani Saljuk normal kembali, meskipun masih ada sisa-sisa pasukan salib. 40 tahun lamanya, rakyat kembali menemukan kebebasan.

Perang Salib Ketiga

Selama Nurdin mengendalikan pemerintahannya, ia menghadapi dua masalah yang cukup krusial. Bagaimana menaklukkan Damaskus dan Mesir yang sedang dikuasai Pasukan Salib. Namun dengan bantuan rakyat, tahun 1154 Damaskus dapat direbut kembali. Sekarang tinggal Mesir yang masih dibawah genggaman Bani Fatimah yang masih dalam pengaruh pasukan salib.

Dengan berbagai pertimbangan politik dan pemerintahan, sedikit demi sedikit Bani Saljuk dapat menguasai Mesir. Munculnya Shalahuddin al-Ayyubi yang masih berumur 31 tahun saat itu, menambah daya dobrak kaum muslim. Beliau tak saja tangkas menata pemerintahan, tapi juga santun dan sederhana. Tak heran rakyat begitu mencintainya.

Perang salib yang ketiga ini memang menyita banyak perhatian. Munculnya sang fenomenal “Shalahuddin al-Ayyubi” yang demikian terkenal, perpindahan kekuasaan di Bani Saljuk sendiri, peperangan antara Bani Saljuk dan Bani Fatimiah, Kekuatan Negara-negara Eropa yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Namun secara de facto dan de jure, pasukan salib kalah pada perang Salib yang ketiga.

Bahan bacaan : Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropah karya Drs. M. Yahya Harun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *