Pola Bilangan dan Ritme Kehidupan

Pembaca pasti tahu barisan ke-10 dari pola bilangan berikut : 2, 5, 8 … Mengapa? Karena barisan bilangan tersebut memiliki pola, yaitu selalu bertambah 3. Demikian pula pada model barisan berikut : 216, 108, 64 … kita akan mengetahui dengan tepat bilangan pada baris ke-8 yaitu 2. Karena pola barisan tersebut, dibagi 2. Memiliki langkah yang selalu tepat dan konstan, dengan mudah kita dapat menangkap untuk peristiwa berikutnya. Bahkan bisa jadi dapat menebak dengan mudah untuk waktu yang akan dating. Semua berpulang pada basic, yaitu pola
Model atau pola barisan matematika tersebut yang sering pula disebut dengan deret.
Barisan angka-angka tersebut bila kita analogika  dengan ritme kehidupan. Ada kesamaan perhitungan didalamnya. Sejak masih kanak-kanak hingga usia dewasa. Step demi step bisa ditebak. Pada usia sekian akan mengalami kejadian seperti apa. Pada umur tertentu seseorang akan mengalami peristiwa tertentu. Karena pada dasarnya ritme hidup manusia bisa diduga.

Hidup ini sesungguhnya berjalan linier. Waktu demi waktu akan ada peristiwa tertentu dan mirip. Sedari pagi, siang hingga petang, kejadiannya lari dari itu ke itu. Seperti lingkaran. Kalau titik tengah dianggap sebagai pangkal, maka ketika berjalan dan berlari tak akan jauh dari pangkal. Ujungnya tidak akan menjauh atau mendekat. Dari sudut nol akan kembali lagi pada sudut 360 atau nol derajad.

Ada rasa senang ada juga rasa sedih. Setiap orang sangat wajar jika merasa senang dengan berita-berita yang baik atau  kejadian-kejadian  yang disukainya,  dan siapapun akan merasa sedih dengan hal-hal yang tidak diharapkan yang terjadi dalam hidupnya. Kedua perasaan itu jika terjadi sewajarnya dirasakan. Ketika mengalami hal-hal yang disukai atau mendapatkan kabar-kabar gembira ia menerimanya dengan penuh rasa syukur dan tidak terlalu memikirkan berlebihan sampai mengganggu tidur dan mengganggu konsentrasinya.

Tetapi di atas kesenangan, ada kebahagiaan yaitu ketentraman hati,

Orang bilang tidak bisa merubah mind set. Nyaman di zona tertentu. Takut keluar dari garis lingkaran. Keteraturan adalah prinsip hidupnya. Ibarat seutas tali, kendalinya tak pernah mengalami perpanjangan. Pemekaran berarti seperti petaka. Dalam hidup tak mau diatur-atur oleh orang lain.
Berbeda dengan orang yang memiliki tali seperti karet. Tarik-ulur seperti permainan. Keluar dari zona lingkaran ibarat sebuah wisata. Selalu mencoba hal baru. Jalur nyaman tak lagi empuk untuk diduduki. Ia selalu mencari lahan baru agar tempat tinggal bisa leluasa. Berwisata ditempat baru selalu menjadi obsesinya. Ia mampu berfikir tidak linier. Kata Edwar De Bono mampu berfikir lateral. Membangun model baru. Mencoba sistem baru.
Orang yang demikian dalam deret matematika sering diibaratkan barisan tidak lazim. Misalnya deret yang memiliki beda bilangan pecahan. Meskipun bedanya selalu tetap tapi cukup rumit perhitungannya. Atau barisannya negatif. Misalnya : -25, -23, -19, -17, -13 ….. di barisan ini meskipun alurnya tetap tapi bedanya mengalami perubahan pada step tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *