Perang Salib (2)

Perang Salib 4

Pada perang salib yang keempat ini, warna agamanya sudah pudar. Bau imperialis sudah menampakkan batang hidungnya. Rakyat dikerahkan untuk membunuh atau dibunuh. Perhitungan penguasa menjadi sangat jelas. Darah jajahan.
Perang salib keempat terjadi karena ada propaganda dari Paus Innocent III dan Raja Boudwijn Graff Vandra. Mereka berdua membuat rencana, andai perang benar dilaksanakan dan memperoleh kemenangan, maka harta rampasan akan dibagi menjadi dua bagian.

Perang Salib keempat adalah bencana yang tidak terhindarkan. Perang Salib keempat adalah episode yang hanya menyebabkan kerusakan internal dalam Kekristenan. Pada 1198 Paus Innocent III mengajukan Perang Salib keempat. Seperti biasa, Prancis menjawab seruan tersebut. Target baru saat itu adalah Mesir, wilayah yang dulunya Kristen namun sekarang menjadi kekuatan Muslim.

Prajurit Salib berpaling ke bangsa Venesia untuk transportasi, tapi ketika dana yang dikumpulkan tidak cukup, warga Venesia menyarankan agar mereka menyerang dan menangkap Zara, kota Hungaria yang Kristen. Banyak yang menolak dengan keras, termasuk Paus. Tapi perintah Paus diabaikan dan Prajurit Salib mengambil alih Zara atas permintaan warga Venesia.
Kaisar Konstantinopel terseret arus didalamnya. Ia minta bantuan pada pasukan kaum salib untuk mengembalikan mahkota yang telah hilang dan daerah kekuasaannya. Tahun 1203 pasukan salib menepati janjinya. Kaisar dapat berkuasa kembali dengan tidak mengalami kesulitan dan gangguan.
Usai perang, pasukan salib menagih janji. Namun Kaisar tidak sepenuhnya menepati janjinya. Akhirnya Kaisar menekan rakyatnya agar membayar pajak lebih tinggi dari yang seharusnya. Akhirnya rakyat berontak, sang Kaisar melarikan diri. Setelah kerajaan kosong, maka berdirilah kerajaan Latin dan gereja Konstantinopel.

Perang Salib ini adalah perjalanan sia-sia. Tidak hanya tidak sempat untuk berhadapan dengan pasukan Muslim yang menguasai Tanah Kudus, peristiwa ini lebih memisahkan Kekristenan Barat dan Timur disamping merusak secara permanen Kekaisaran Bizantium yang berfungsi sebagai pembatas antara agresi Muslim dengan jantung daerah Kristen.
Di beberapa tempat berdiri kerajaan kecil-kecil. Namun 87 tahun kemudian, bangsa Bulgaria menyerang Konstantinopel. Pada saat yang sama Byzantium berdiri dan bertahan hingga tahun 1453. Dalam catatan sejarah Byzantium sempat memeperoleh kejayaan, hingga muncul bangsa Turki menyerang di bawah komando Sultan Muhammad al-Fatih.

Perang Salib 5

Perang salib kelima (1218-1221) diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV, yang juga menetapkan undang-undang inquisisi dan berbagai aturan anti yahudi. Untuk mendapatkan kembali kontrol atas pasukan salib, jabatan raja Yerusalem digantikan oleh wakil Paus. Jabatan “raja Yerusalem” ini hanyalah “formalitas idealis”, tanpa kekuasaan sesungguhnya, karena de facto Yerusalem telah direbut kembali oleh al-Ayubi.

Setelah Shalahuddin meninggal pada tahun 1193, kerajaan dibagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah anak. Sebagaiamana biasanya, timbul perselisihan, perang saudara hanya untuk mendapatkan julukan superioritas. Namun, saudara dari Shalahuddin menyelamatkan keadaan. Dia mengendalikan semua kawasan yang semula terpecah belah. Dia digelari raja Adil, pilutikus dan ulama yang tiada bandingnya.
Baitul Maqdis masih tetap menjadi primadona.  Bangsa Eropa masih menggebu-gebu ingin merebut Baitul Maqdis. Namun mereka mengurungkan. Sebab selama Sultan Ayyubi masih berkuasa di Mesir, Eropa masih tetap berpikir dua kali kalau harus merebutnya.
Meski demikian, memendam rasa tak akan pernah baik. Tahun 1218 Jean Brione menyisir beberapa kota untuk ditaklukkan. Mula-mula kota Damiate, menyusul kemudian Kairo. Pusat kekuasaan di Mesir tergenggam.
Syaifuddin wafat, kemudian digantikan raja Kamil. Beliau mewarisi sifat ayahndanya, kecuali taktisnya dalam mengelola kerajaan. Raja Kamil cukup ciut rupanya melihat pasukan salib. Oleh karena itu, ia berinisiatif menemui musuh. Tujuannya adalah agar tentara salib meninggalkan Mesir dan mengambil Baitul Maqdis. Sebab dilihat dari sisi politis dan ekonomi, Mesir lebih baik dibandingkan Baitul Maqdis.
Tapi keinginan itu ditolak oleh Eropa, sebab mereka sedari awal memang untuk mengambil Mesir. Apalagi peperangan waktu itu sudah bertukar sifatnya. Kalau peperangan dulu bersifat keagamaan, maka peperangan yang terjadi sekarang bersifat politis, dimana Mesir merupakan kota yang penting dalam percaturan politik dibanding Baitul Maqdis.
Di tahun 1221, saat akan menyerang Mesir, pasukan barat terkena banjir. Pada saat yang sama, pasukan terjebak di delta. Hingga  akhirnya, Eropa kembali pulang.

Perang Salib 6

Seperti telah diketahui, bahwa usai petang salib ketiga, motivasi melakukan peperangan bukan lagi berdasarkan agama. Pertimbangan politik lebih diutamakan. Sehingga wajar bila mulai perang salib keempat, kerja sama antara kaum Muslimin dan Kristen sudah mulai terbentuk. Mereka melakukan kolaborasi karena menginginkan kekuasaan dan politik. Perang agama hanya sebagai isu belaka.
Demikian juga pada perang salib yang keenam. Raja Frederick melakukan kerjasama dengan Raja Kamil. Perlu diketahui bahwa Raja Federick telah dibenci oleh dewan Gereja. Artinya bahwa, orang Krietsenpun sebenarnya juga sudah tidak kompak. Ini menunjukkan bahwa Agama bukan lagi menjadi tujuan utama.
Kedua Raja tersebut telah sepakat dengan mengadakan perjanjian yang isinya :
1. Raja Kamil bersedia menyerahkan Baitul Maqdis kepada Frederick, asal hak Kaum Muslimin di tanah suci tetap dipelihara. Sebaliknya Raja Frederick berjanji akan menolong Raja Kamil gima melawan musuh yang terdiri dari kaum Muslimin maupun Kristen.
2. Raja Freferick tidak akan mengirim bantuan kepada kaum Kristen yang ada di Syam.
Sekilas, dua perjanjian itu tidak jelas. Siapa memihak siapa? Keuntungan dan kerugiannya apa?  Di Mesir, hanya akan memperkukuh raja Kamil. Keuntungan finansial lain, tanah di Mesir lebih subur, jaringan ekonomi sudah teryata. Coba bandingkan dengan Baitul Maqdis. Hasil apa yang akan diperoleh di Baitul Maqdis. Maka, secara strategi raja Kamil lebih unggul. Sedangkan raja Frederick yang telah mengangkat dirinya menjadi raja di Baitul Maqdis tak diakui oleh dewan gereja.

Perang Salib 7

Pada 1244, para Khwarezmians merebut Yerusalem dalam perjalanan mereka ke sekutu dengan Mamluk Mesir. Sehingga kembali Yerusalem dikuasai muslim, namun kejatuhan Yerusalem tidak lagi merupakan sebuah peristiwa menghancurkan dunia Kristen Eropa, yang telah melihat perpindahan kota itu dari kistiani kepada muslim ke sekian kali dalam dua abad terakhir. Kali ini, meskipun panggilan dari Paus, tidak ada antusiasme populer untuk perang salib baru.

Paus Innosensius IV dan Frederick II, Kaisar Romawi Suci melanjutkan perjuangan kepausan-kekaisaran. Frederick ditangkap dan dipenjarakan ulama dalam perjalanan ke Konsili Lyon, dan pada 1245 ia secara resmi digulingkan oleh Innosensius IV. Paus Gregorius IX juga telah ditawarkan sebelumnya saudara Raja Louis, pangeran Robert of Artois, tetapi Louis menolak. Dengan demikian, Kaisar Romawi Suci tidak dalam posisi untuk perang salib.

Henry III dari Inggris itu masih berjuang dengan Simon de Montfort dan masalah lain di Inggris. Henry dan Louis tidak dalam saat yang terbaik, yang terlibat dalam Capetia-Plantagenet perjuangan, dan sementara Louis sedang pergi berperang raja Inggris menjanjikan menandatangani gencatan senjata untuk tidak menyerang tanah Perancis. Louis IX juga mengundang Raja Haakon IV dari Norwegia untuk perang salib, mengirim penulis sejarah inggris Matius Paris sebagai seorang duta besar, tapi sekali lagi tidak berhasil. Satu-satunya orang yang tertarik memulai perang salib yang lain karena itu Louis IX, yang menyatakan niat untuk pergi Timur pada 1245.

Perang Salib Utara atau Perang Salib Baltik[2] adalah perang salib yang dilakukan oleh raja Denmark dan Swedia, melawan orang-orang yang menganut paganisme di Eropa Utara sekitar pantai utara dan timur Laut Baltik. Kampanya Swedia dan Jerman melawan Gereja Ortodoks Rusia juga dikatakan sebagai bagian dari Perang Salib Utara.

Perang salib yang ketujuh ini, terjadi huru-hara justru dalam lingkungan intern tentara muslim. Tauran Syah yang telah memukul mundur tentara Louis, justru dia sendiri yang dibunuh oleh Mamluk. Alasannya, karena Tauran Syah memerintah terlalu keras. Mamluk justru bekerja sama dengan pasukan barat untuk membebaskan raja St. Louis IX. Dengan meninggalnya Tauran Syah, maka berakhir pulalah Dinasti Ayyubi di Mesir, dan mulailah Sultan Mamluk.

Jasa kerajaan Ayyubi terhadap Mesir tidaklah sedikit. Mereka berhasil membendung serangan pasukan Kristen. Kerajaan Ayyubi juga berhasil mengembangkan sains, seni dan budaya. Kemjuan perekonomian juga didapatkan, karena berhasil menjalin komunikasi dengan berbagai Negara.

Pengetahuan juga maju pesat. Muncullah nama-nama : Qadhi, Fadlil, Bahauddin Zakir dll. Tempat pendidikan muncul di setiap sudut pelosok negeri. Dinasti Ayyubi benar-benar telah menorehkan budaya yang unggul. Baiytul Maqdis digenggamnya.

Tak lama kemudian, kerapuhan terjadi mulai dari dalam. Banyak terjadi perselisihan antar pangeran atau penguasa yang berada di pinggiran. Pada saat kerajaan seperti ini, Mongolia mulai berdiri di Timur Tengah. Kota Baghdad yang pertama kali dirobohkan oleh Holako Khan (Mongolia). Peristiwa ini terjadi di tahun 1258, dengan terbunuhnya Khalifah Abbasiden. Namun demikian, tentara Mongol dapat ditumpas oleh Shalahuddin.

Parang salib yang ketujuh ini menghasilkan beberapa catatan :

  1. Bertambahnya kerajaan Byzantium
  2. Semakin banyak kota-kota berdiri di Eropa, terutama pada pusat-pusat perniagaan. Karena muncul perkotaan modern, maka timbul sistim pertanahan.
  3. Hasil pertanian dari Timur Tengah sudah bisa dimanfaatkan oleh Negara-negara barat.
  4. Bangsa Eropa sudah mulai sadar tentang kemajuan dunia timur, terutama bidang iptek. Orang barat berbondong-bondong mulai belajar.
  5. Raja-raja di Eropa su
  6. Semakin sadar akan pentingnya persatuan.

Sumber bacaan :

1. Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropah

2. http://iqbalsandira.blogspot.co.id/2009/01/perang-salib-iv_16.html

3. https://peperangan.wordpress.com/perang/seri-perang-salib/perang-salib-kelima/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *