Gazelle Manten

Hampir semua pedagang sepeda kuno di pasar sepeda Pugeran dan dekat Tamansiswa Jogja menyarankan untuk mencari yang merek Gazelle saja ketika awal aku mencari sepeda kuno tahun 2000an dulu. Tahun segitu belum banyak penggemar sepeda kuno, namun ironisnya tidak banyak juga sepeda kuno yang nampak di pasar sepeda. Dari semua Gazelle yang kulihat di pasar sepeda tak ada yang cocok. Baik dari harga, ataupun kondisi dan terlebih ukuran. Umumnya sudah gado-gado atau jika asli harganya sangat tinggi. Alasanku mencari Gazelle adalah beberapa varian sepeda koleksiku kurang terlihat gagah karena ukuran yang nggak sesuai dengan postur tubuhku. Tiga bulan berlalu sia-sia tanpa hasil apapun, hanya membuang uang transport keliling Jawa Timur, DIY, Jateng dan kecurigaan boss karena seringnya aku ijin luar kota.

Sesampainya di pesantren desa Bener ternyata pak haji sedang istirahat siang, dan tak ada seorangpun yang
berani membangunkan. Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya kami ketemu pak haji. Singkat cerita sepeda Gazelle itu sudah laku dibeli seorang guru yang tinggal di Kutoarjo. Yah…..sedih dan kecewa sekali
rasanya. Dengan diiringi perasaan menyesal pak tua pedagang pohon jeruk itu aku pamit meneruskan
perjalanan ke Purworejo. Segera aku meloncat ke bus Kencana Jaya dari ujung gapura desa Bener. Entah
mengapa aku menyebut tujuanku pasar sepeda Kutoarjo pada kondektur yang menarik ongkos. Aku diberitahu kondektur bus bila pasar sepeda Kutoarjo buka hari Kamis dan Minggu. Akhirnya aku turun di Purworejo walaupun membayar ongkos bus sampai Kutoarjo.

Hari Minggu pagi kubulatkan tekad untuk mengunjungi pasar sepeda. Sengaja aku nggak bilang terus terang ke nenekku kalau aku akan ke pasar sepeda. Maklumlah biasanya orang tua suka tanya-tanya kemana-mana yang ujung-ujungnya pasti akan menghalangi niatku. Kakek dan nenekku tahu kalau sejak 1999 aku menggemari sepeda dan sudah punya beberapa. Mereka sudah menjulukiku macam-macam dan sudah menyuruhku menabung untuk kawin, untuk inilah, itulah, hahaha (waktu itu aku masih membujang). Sejam kemudian aku sudah nongkrong di pasar sepeda Kutoarjo yang pagi itu ramai banget. Bener kata kondektur bus Kencana Jaya kemarin. Pasar sepeda buka hanya Kamis dan Minggu. Aku keliling bolak-balik dari lapak ke lapak, dari stand ke stand. Tak ada satu Gazelle pun yang kuinginkan. Padahal sepele saja. Ukuran 24, pria, seri bebas, cat orisinil, dan enak dinaiki. Pengalaman hampir 3 tahun memburu sepeda kuno membuatku punya sedikit acuan kriteria tentang sepeda yang enak dinaiki. Akhirnya dengan kepala pusing karena belum sarapan, aku menuju ke warung gudeg di pinggir jalan keluar pasar sepeda.
Aku ‘mengamuk’ dengan satu setengah porsi gudeg komplit, tiga gelas es teh. Selesai makan sambil
menghisap Gudang Garam kesukaanku (saat itu aku masih merokok) aku nongkrong di bawah pohon asam mengamati dagangan sepeda di lapak pinggir jalan. Hal yang lumrah di saat hari pasaran sepeda begini. Mereka menjual sepeda dan segala onderdilnya. Seorang pria setengah baya yang belakangan kuketahui bernama pak Suharto mengajakku bicara. Ia seorang blantik. Langsung aku jaga jarak. Pengalaman tertipu beberapa kali oleh blantik di kota lain membuatku ekstra waspada dengan makhluk bernama blantik.

Setelah ngomong ngalor ngidul khas orang yang punya mau, dia mengajakku ketempat kawannya di desa Bandung, Kutoarjo yang punya Gazelle ukuran 24 orisinil dan akan dijual. Tak terlalu optimis aku membonceng sepeda motornya menuju ketempat itu. Dia mengenalkanku dengan seorang guru sekolah kejuruan menengah atas bernama pak Sugiyono, yang seusia denganku. Pak guru yang sangat ramah dan santun ini mempunyai beberapa koleksi sepeda dan salah satunya akan dijual karena butuh uang. Aku masih tidak antusias ketika dia masuk kedalam untuk mengambil Gazelle yang akan ditawarkannya. Sekilas kulihat beberapa sepeda ukuran pendek di ruang dalam rumahnya. Yah, ini mah sama seperti yang dirumah, gumamku. Hatiku terpana pada sepeda yang dia tuntun dari ruang dalam. Sebuah Gazelle pria seri 999362, ukuran 24 dengan setang cungkring berpersneling Strumey Archer jeruji 36. Setelah kuamati, ya ampun..semuanya orisinil, bahkan kunci HOPMI kreek yang menempel adalah buatan 1954. Belakangan aku tahu dari Kuner jikalau sepeda itu juga buatan tahun 1954, di drum-persnelingnya juga terdapat kode AB 54. Berarti drum presneling dan kunci HOPMI ini orisinil dengan sepedanya. Tanpa menawar lagi aku setuju dengan 2,5 juta setelah cukup puas aku keliling desa Bandung dengan sepeda itu. Heran aku, mengapa mereka percaya begitu saja memperbolehkan aku menaiki keliling desa dan hilang dari pandangan mereka. Seandainya aku punya niat jahat, tentu bisa kubawa lari sepeda ini. Aku terharu dengan kepercayaan pak Sugiyono. Aku janji pada mereka seminggu kemudian akan kulunasi. Namun waktu seminggu ternyata sangat berat kulalui. Subuh tiga hari kemudian aku sampai di rumah pak Sugiyono lagi. Sengaja aku berangkat malam dengan bus Eka dari Surabaya. Tekadku akan mengambil sepeda itu tanpa menunggu seminggu. Ternyata aku nggak bisa menunggu. Setelah aku bayar, iseng-iseng aku tanya apakah sepeda ini dulu punya pak haji pemilik pondok pesantren desa Bener? Dia melongo heran kenapa aku tepat menebak asal sepeda itu. Dia bertanya-tanya lagi, aku cuman ketawa. Sebab tadi dia menertawaiku karena aku tidak bisa menunggu seminggu. Sekarang aku balas. Aku yang tertawa. Segera aku pamit karena dia akan berangkat dinas. Aku kayuh sepeda itu menuju ke losmen seberang bakso Kombi untuk menunggu kantor
ELTEHA buka. Aku tertidur nyenyak sekamar dengan Gazelle. Siangnya aku kembali ke Surabaya dengan Argo Wilis dari Kutoarjo.

Persaudaraan dengan pak Sugiyono tetap terjalin baik, sampai sekarang dia masih penasaran mengapa aku dapat menebak asal sepeda itu. Dua kali pak Suharto menolongku memilihkan sepeda semenjak Gazelle itu. Aku menjadi pemilik ketiga sepeda pak haji, kedua pak Sugiyono. Sepeda ini menjadi sepeda Gazelle yang
paling kusayangi. Aku percaya ini adalah sepeda jodohku. Tiga tahun kemudian, sepeda ini dinaiki saat
foto pre-wedding pernikahan kami. Isteriku sangat cinta sepeda ini.

Kami berdua dan teman-teman di klub Pakkar Rewwin menjulukinya Gazelle manten..

= Andyt  =

tulisan diambil dari : http://sepeda.wordpress.com/asal-usul/gazelle-manten/#comment-45673.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *