Pendidikan dan Kebudayaan

Dimasa rezim dari pada Soeharto, keberadaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan lama bercokol. Menteri boleh berganti tapi nama departemen tetap sama. Departemen yang mengurusi orang Indonesia supaya menjadi orang yang pinter dan berbudi. Tapi mestinya tidak usah pakai dan. Cukup pakai atau. Kalau memakai dan berarti orang yang berpendidikan dan berkebudayaan munculnya mestinya sama. Yang terjadi banyak yang pinter tapi sedikit yang berbudi. Sehingga cocoknya menjadi Departemen Pendidikan atau Kebudayaan.

Reformasi bergulir dengan segala korbannya, nama departemen ini bercerai dengan alasan karena pendidikan dan kebudayaan memiliki bidang garap yang berbeda. Pendidikan harus dikelola sendiri, kebudayaan harus digarap tersendiri. Otomatis menteripun juga berbeda. Satu menteri mendalami sekolah, sejak TK sampai S-3. Menteri kebudayaan memberdayakan seni dan budaya.

Setelah masing-masing bubar jalan, mengerjakan urusan masing-masing, ternyata mengalami kebingungan sendiri. Kebudayaan semakin merana dan tak tentu arahnya, sementara di pihak pendidikan semakin kacau, terutama setelah kekuatan ekonomi mulai masuk. Walhasil nama departemenpun rujuk lagi.

Arief Rahman Hakim, seorang pakar pendidikan  mengatakan : “ Sebaiknya jangan dipisahkan. Program Pendidikan membuat Kebudayaan yang baik, dan Kebudayaan melahirkan Pendidikan yang Mulia”. Lebih jauh, beliau meminta agar  Tujuan Pendidikan untuk membentuk masyarakat yang berbudaya dan beradab. Jika sudah berbudaya maka secara otomatis akan mendorong terbentuknya masyarakat yang berkecukupan.  Pendidikan dan Kebudayaan ibarat seperti pohon ilmu yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Yang harus dipertegas adalah konsep dan filosofinya.

Bila merujuk pada definisi kebudayaan, banyak sekali yang menelurkan konsep kebudayaan. Maestro kebudayaan, Koentjaraningrat misalnya mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat. Sedangkan Ki Hajar Dewantara bertutur bahwa kebudayaan adalah buah budi manusia. Yaitu hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, zaman dan alam. Keduanya merupakan bukti bahwa kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Itulah konsep kebudayaan menurut ahli kebudayaan. Sulit kan mencernanya? Sama.

Dari berbagai pendapat tokoh diatas, maka bisa ditarik benang putih bahwa pendidikan dan kebudayaan itu adalah : 1. Nafas Kita. Pendidikan adalah belajar. Belajar memerlukan waktu 24 jam. Setiap detik harus merupakan pembelajaran. Konsep ini telah berhasil dilaksanakan oleh pondok pesantren dan individual. Rumah tangga yang berhasil adalah mereka menerapkan pola belajar 24 jam. Belajar di sekolah mungkin hanya sebagai referensi, selanjutnya di kembangkan di rumah. 2. Masyarakat yang menilai. Budi pekerti atau yang sekarang sedang ngetop adalah pendidikan karakter (Walaupun sebenarnya saya kurang setuju menyamakan budi pekerti dengan karakter). Budi pekerti sebaiknya diserahkan kepada masyarakat. Masyarakat yang mengelola sekaligus menilai. Sebab budi pekerti memang masih tergantung dengan situasi dan kondisi setempat. Tapi secara umum bahwa satu daerah dengan daerah yang lain memiliki ruh yang sama yaitu akhlak yang luhur.

Akhlak mengajarkan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Budi pekerti meletakkan posisi manusia. Dengan orang yang lebih tua harus bersikap tertentu, dengan umur yang sejajar dan umur yang lebih muda menempatkan diri dengan kedudukan tertentu. Tradisi yang adi luhung juga mendidika agar cinta terhadap alam dan makhluk yang lain.

Strategi Belajar Jelang Ujian Nasional

Terlepas dari Ujian Nasional yang masih pro dan kontra, siswa tetap akan menghadapi unas. Sebagai guru dan juga sebagai orangtua tetap akan memberi dorongan kepada anak. Agar kelak memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil unas yang baik, seperti memegang tiket untuk memasuki sekolah yang dianggap favorit.

Di Yogyakarta, hasil unas sudah dianggap mewakili prestasi siswa. Tetapi ada beberapa daerah yang tidak percaya dengan hasil unas. Mereka merekrut calon anak didik dengan melaksanakan seleksi sendiri. Hal ini terjadi karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah penyelenggara unas masih bias.

Beberapa waktu lalu, saya sempat melakukan survey kecil-kecilan tentang unas. Survey ini saya lakukan dengan obyek anak-anak khususnya kelas IX (3 SMP). Pertanyaanya cukup sederhana dan mendasar.

Pertanyaan pertama : Apakah Anda ingin lulus? Jawabannya 100 % ingin. Berikutnya saya lempar pertanyaan kedua : Apakah Anda sudah melakukan persiapan? 70 % anak menjawab belum. Untuk meyakinkan, saya tutup pertanyaan yang ketiga : Apakah Anda setiap hari belajar? 85 % anak menjawab tidak belajar.

Agar adil, maka dari pihak sekolahpun saya survey tentang persiapan mendampingi siswa dalam proses menempuh unas. Dimulai dari rapat bersama komite dan orangtua, bimbingan belajar (les), sampai doa bersama. Karena penggarapan lebih ke ranah manajemen, maka bisa saya katakan bahwa sekolah telah mempersiapkan dengan baik.

Terkait dengan wacana diatas, tulisan berikut ini hanya menyorot dari segi timing (pembagian waktu). Yaitu sejak siswa kelas IX masuk semester genap. Karena semua materi kelas IX telah diselesaikan pada waktu semester ganjil. Pemadatan pemberian materi dimaksudkan agar ada sisa waktu satu semester untuk mengulang kembali materi kelas sebelumnya. Lihat gambar berikut :

 

Kesalahan yang kami alami adalah pembagian waktu dan usaha yang dilakukan tidak proporsional. Pada gambar 1 menunjukkan bahwa, mulai masuk semester genap proses pembelajaran sudah dibuat kencang. Waktu yang tersedia sebenarnya cukup lama, namun karena dalam perjalanan nafasnya sudah ngos-ngosan, maka yang terjadi justru kontra produktif. Setelah ujian sekolah malah situasi berubah. Imbasnya justru pada saat jelang ujian nasional, tenaganya telah menurun.

Ini terbukti bahwa akhir-akhir ini anak sudah loyo. Manakala anak diberi sejumlah soal, anak sudah tidak bergairah lagi mengerjakan. Ia pasrah, dan akan memaksa guru untuk langsung membahas. Anak sudah tidak memiliki minat untuk berfikir.

Gambar 2, menurut saya adalah yang ideal. Tidak ngebut, tapi relatif konstan naik. Sejak awal siswa diberi dorongan untuk jalan. Di rentang tertentu, jalan cepat. Kemudian berlari-larian, hingga menjelang finis siswa larinya lebih kencang. 2-3 hari menjelang sampai pelaksanaan unas siswa berhenti untuk belajar. Kalau harus membuka-buka catatan, bukalah catatan-catatan ringkasan, atau mengingat lagi trik cara menjawab cepat.

Kecakapan Hidup

Kehadiran manusia dalam komunitas bermasyarakat tidak sekedar berupa ujud badan atau fisik semata. Hidup dalam bermasyarakat artinya selalu berperan aktif dalam setiap menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat itu sendiri. Karena gerak masyarakat dinamis, tak jarang persoalan yang timbul tidak sedikit. Setiap saat hamper ditemua permasalahan yang bersinggungan dengan orang lain dan bahkan justru masuk dalam lingkaran yang pelik.

Oleh karena itu, menyelesaikan pergolakan dalam masyarakat tidak bisa diselesaikan hanya bermodalkan waktu yang cepat, apalagi hanya dibekali ketrampilan yang sederhana. Diperlukan orang yang trampil dan berpengalaman. Pendidikan sejak dini sangat diperlukan untuk difungsikan sebagai individu yang siap dalam menata pergaulan dengan lingkungan.

Kecakapan hidup perlu dimiliki baik sebagai personal maupun kelompok. Kecakapan yang dimaksud tidak hanya sekedar skill atau ketrampilan dalam bekerja, tetapi harus memiliki kecakapan yang lebih luas. Ada 4 kecakapan yang harus dimiliki, dalam menghadapi tuntutan dan tantangan dalam kehidupan secara lebih efisien, 1. Kecakapan Mengenal Diri. Self Control dalam beberapa literatur manajemen menjadi faktor terpenting dalam mengembangkan organisasi.  Organisasi  merupakan sekumpulan beberapa orang yang mempunyai itikad yang sama dan tujuan yang sama, maka self control untuk pribadi akan mirip dengan organisasi. Pribadi manusia pasti memiliki tujuan. Entah tujuan jangka pendek maupun tujuan jauh kedepan. Diibaratkan seorang atlit lempar lembing. Atlit itu pasti berharap agar lemparannya dapat mencapai titik terjauh. Maka, sebelum melempar ia akan berfikir dan meninimbang-nimbang, seberapa berat benda yang akan dilempar, berapa jarak ideal untuk lari sebelum melempar, perlukah memakai alas kaki khusus agar kecepatan lari dapat optimal?

Demikian pula bila orang hendak bermasyarakat. Pastilah ia akan memiliki bekal agar kelak bisa berperan aktif dalam komunitasnya. Syarat minimal yang harus dimiliki adalah tahu secara persis tata kahidupan dalam masyarakat itu. Dengan demikian, ia tak akan canggung bila berinteraksi dengan sesamannya. 2. Kecakapan Berpikir. Mengerti adat istiadat saja tidak cukup. Sopan santun saja tidak akan membawa harapan yang baik. Orang mesti harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbaur. Sebab, secara individu pasti ia sudah punya tujuan yang spesifik. Dia tidak iangin kehilangan tujuan hanya karena bergaul  dengan tata cara hidup dalam lingkungan itu. Orang mesti pandai-pandai membawa diri. Sebisa mungkin malah harus mampu mewarnai. Untuk bias mewarnai bukan hanya bekal kepandian yang ia miliki, tapi berfikir keras agar corak kehidupan dapat terbentuk. 3. Kecakapan Sosial. Harapan semua orang adalah ingin memberi warna.  Dengan corak warna yang khas tapi tidak meninggalkan akar kodrat manusia, maka komunitas itu akan menjadi ikon dalam tata kehidupan bermasyarakat.

Idaman hampir setiap orang adalah menjadi panutan. Hal ini sejalan dengan kata mutiara “setiap kamu adalah pemimpin”. Artinya bahwa sebenarnya secara  fitrah (naluriah) setiap individu harus berperan aktif. Tidak menunggu perintah. Bila setiap anggota masyarakat memiliki itikad yang demikian, langkah selanjutnya adalah koordinasi.  4. Kecakapan Kejujuran.   Dalam realita, saat ini, banyak orang pandai. Banyak orang ahli. Banyak orang trampil. Namun sedikit  orang jujur. Menjadi orang jujur tidak serta merta. Bertahap. Sejak usia dini sudah harus dididik dengan nilai kejujuran. Membentuk karakter kejujuran tidak hanya tanggung jawab keluarga, tapi masyarakat juga memiliki andil yang sangat besar dalam  membentuk pribadi yang jujur. Orang jujur pasti mendapat apresiasi dari masyarakat. Orang tidak jujur juga akan mendapat perlakuan dari masyarakat. Kejujuran yang sudah menjadi barang langka, mesti kita godog, kita ramu lagi menjadi barang yang berharga.

Menunggu Realita Nawa Cita (2)

Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah terpilih secara resmi menjadi Presdien dan Wakil Presiden RI. Mereka berdua, dalam masa kampanyenya merancang sembilan agenda prioritas, yang lebih dikenal dengan Nawa Cita. Program ini menawarkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Tentu saat ini tidak salah bila 9 program itu kita tagih dengan cara mencicil. Program apa yang telah dilaksanakan.
Bidang kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial lewat wahana pendidikan menempati prioritas ke-9, yaitu : Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Program ke-9 ini dapat dijabarkan menjadi tiga bagian yaitu :
Memperkuat pendidikan ke-bhinekaa-an dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Kata kunci program ini adalah ke-bhineka-an dan dialog antar warga. Ke-bhineka-an dapat disederhanakan menjadi keanekaragaman namun terangkum menjadi satu kesatuan. Bahasa, budaya, ragam hayati, lingkungan, di seluruh daerah di Indonesia adalah berbeda. Itu pasti. Namun dengan keanekaragaman itulah harus diciptakan sebuah ruang atau sarana untuk saling memahami. Bukan menonjolkan satu etnis tertentu. Pendidikan adalah wahana yang sangat cocok untuk dialog agar saling memahami dan menghormati. Karena dalam pendidikan hampir ditemui keadaan yang setara. Umur sederajad, kesipan mental setara, penerimaan pengetahuan yang baru hampir bersamaan. Sehingga dari ranah pendidikan sangat memungkinkan membuat wacana tentang kesepahaman dalam hidup bersama.
Mengembangkan insentif khusus untuk memperkenalkan dan mengangkat budaya lokal. Insentif, menurut Pangabean adalah kompensasi yang mengaitkan gaji dengan produktivitas . Insentif dapat berupa penghargaan. Intensif adalah pahala dalam bentuk kelebihan karena seseorang melakukan sesuatu. Dalam pendidikan, intensif tidak harus berupa uang. Intensif bisa berupa pemberian nilai, yang nantinya akan digunakan sebagai amunisi untuk naik pangkat atau golongan. Penghargaan ini diberikan karena kelebihan seseorang dalam menguasai sebuah bidang atau profesi.
Meningkatkan proses pertukaran budaya untuk membangun kemajemukan sebagai kekuatan budaya. Tidak ada orang yang bisa mendefinisikan dengan tepat arti budaya. Budaya itu adalah nafas. Setiap saat bisa melakukan sesuatu, dari yang hanya selalu tetap atau selalu berubah. Budaya harus didialogkan dengan budaya lain, agar saling kenal. Dengan demikian budaya harus dipublikasikan kepada orang lain, agar mereka mengenal kita. Dari sini akan tumbuh sikap saling menghormati.
Program Prioritas
118 Desa Adat, 282 Komunitas Budaya dan 3 Cagar Budaya direvitalisasi
2.500 Cagar Budaya dilestarikan/diregistrasi
30 Museum dibangun
6 Taman Budaya direvitalisasi
10 Rumah Budaya dibangun/disrintis di luar negeri
Pembuatan film dokumenter untuk pendidikan karakter

Menunggu Realita Nawa Cita (1)

Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah terpilih secara resmi menjadi Presdien dan Wakil Presiden RI. Mereka berdua, dalam masa kampanyenya merancang sembilan agenda prioritas, yang lebih dikenal dengan Nawa Cita. Program ini menawarkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Tentu saat ini tidak salah bila 9 program itu kita tagih dengan cara mencicil. Program apa yang telah dilaksanakan.
Bidang pendidikan, seperti dalam agendanya menempati prioritas ke-5, yaitu : Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
Dari program kerja yang ditawarkan dalam segmen pendidikan, saya memperoleh bocoran hasil presentasi Dirjen Pendidikan Dasar dan Direktur Pembinaan SMP Kemdikbud RI, Didik Suhardi, Ph. D. Karena luasnya cakupan presentasi itu, saya nukilkan saja beberapa bagian yang terkait dengan revolusi karakter bangsa.
Ada 3 bagian pokok dalam membangun karakter bangsa lewat pendidikan, yaitu :
Membangun pendidikan kewarganegaraan. PKn, atau Pendidikan Kewarganegaraan boleh dibilang belum menunjukkan perubahan yang konstruktif. Materi dan muatan yang terknadung dalam pelajaran PKn masih mirip dengan PMP (Pendidikan Moral Pancasila), produk orde baru. Sekuel PMP bahkan pernah menghebohkan dengan sebuah kalimat kecil yang mengatakan bahwa semua agama itu sama. Seketika masyarakat heboh, terutama yang beragama Islam. Demikian pula materi yang terkandung dalam kurikulum, masih mengandalkan teksbook, meminimalisir amalan.
Menghilangkan model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional. Model ini hendak dibongkar melalui kurikulum 2013. Dengan sejuta harapan, kurikulum 13 (kurtilas) meluncur tanpa masa percobaan yang memadai. Akibatnya banyak sekolah yang kelimpungan. Belum siap secara SDM maupun sarana yang dikehendaki kurtilas. Prahara 13 sempat mereda ketika Mendikbud memerintahkan agar kurtilas hanya diberikan kepada sekolah yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Sebenarnya kurtilas itu mendukung tentang hak dan karakter seorang siswa, tanpa mengurangi arti pemberian materi pendidikan secara utuh. Karena kurtilas mengedepankan karakter seseorang dalam menemukan, memproses sampai pada mempublikasikan.
Jaminan hidup yang memadai bagi guru terutama bagi guru yang ditugaskan di daerah terpencil. Lagu lama yang tak pernah usai diselesaikan. Pendidikan pinggiran atau daerah terpencil belum pernah diselesaikan secara tuntas. Sehingga yang muncil hanya wacana. Belaka.
Disamping 3 prioritas program di atas, ada beberapa prioritas yang hendak diselesaikan oleh pemerintah seperti :
1. Kurikulum disempurnakan
2. Ujian Nasional diperbaiki
3. 206.200 guru non PNS diberi tunjangan profesi
4. 62.500 guru di daerah perbatasan/pedalaman diberi tujunag khusus
5. 94.500 guru non PNS diberi tunjuangan fungsional.

Sehelai Puzzle LB Moerdani

Jangan diharapkan preman yang hidup di tahun 1980 an memiliki napas yang panjang. Mereka ngos-ngosan menghindar timah panas yang diobral oleh penembak misterius ( petrus ). Dengan dalih mengamankan transportasi bis antar kota atau antar pulau, petrus punya hak meng-dor orang yang disinyalir sebagai pembajak bus.
Petrus ternyata mengembangkan lahan. Tidak hanya menundukkan pembajak bis, namun mencari dan memburu orang yang terendus sebagai gabungan anak liar atau gali. Gali memang sempat ngetop kala itu sebagai wadah gabungan anak muda yang suka bikin onar dalam masyarakat. Waktu yang tepat membidik dan melenyapkan gali dikala pagi hari. Sebelum masyarakat memulai aktifitasnya. Sebagaimana yang pernah penulis rasakan.
Muhammad Hasbi sebagai perintah eksekutor. Sebagai komandan Garnisun Yogyakarta, menyatakan perang terbuka terhadap gali. ia mendapat mandat dari Siswadi, bukan dari LB Moerdani yang menjabat sebagai Panglima ABRI. Hanya dua kata yang Hasbi dengarkan saat Moerdani mengevaluasi program perang terhadap gali. ” Bagus. Lanjutkan “.
Itulah sedikit perintah sang jendral kala beliau memangku jabatan tertinggi di militer. Bila kita buka dokumen sepak terjang beliau, mungkin ratusan jumlahnya. Dan itulah nasib perjalanan sang jendral saat menapaki karpet orde baru. Tak beda jauh dengan jendral lainnya. Rapot akan terkuak saat yang bersangkutan telah dipanggil Tuhan.
Sedikit demi sedikit tinta sejarah mengalir menembus tembok yang selama ini menjadi rahasia negara. Bau anyir darah korban keganasan tentara tiba-tiba mengebul. Salah satu yang menjadi korban adalah umat Islam. Apakah ini rekayasa Beny Moerdani? Ataukah sang jendral penguasa orde baru? Siapapun mereka, cuma anak cucu bangsa yang pandai menelaah sejarah.
Saat Moerdani mulai pudar, saat itu pula ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) muncul. ICMI timbul bukanlah melalaui jalan yang rata. Nurcholis Madjid sebagai konseptor khittah ICMI menuturkan bahwa kemunculan ICMI sedikit terganggu dengam masih bercokolnya LB Moerdani. Kala itu, Moerdani masih memiliki hubungan yang erat dengan Soeharto. Persiangan antara Moerdani dan BJ Habibie menandai gerak embrio ICMI sedikit terhambat.
Suatu ketika, Habibie berkunjung ke Jepang. Beliau ke negeri sakura sebenarnya atas undangan pemerintah setempat untuk menjajagi kemungkinan kerja sama teknologi. Duta Besar Jepang, kebetulan masih orangnya Moerdani. Waktu telah diatur oleh pemerintah Jepang, agar pembicaraan sampai detail diperlukan paling tidak 90 menit. Dibalik skenario itu, ternyata Duta Besar telah membuat kesepakatan atas perintah Moerdani agar pertemuandilangsungkantak lebih dari 15 menit.
Sampai akhirnya petugas pemerintah setempat curiga terhadap kaki Duta Besar menggesek-gesek kaki Habibie agar segera menyudahi pertemuan tersebut. Setelah keluar ruangan, pemerintah setempat memohon kepada Habibie agar segera masuk kembali untuk meneruskan perundingan. Peristiwa ini menandakan bahwa Moerdani memang kuat dalam pemerintahan kala itu. Hubungan antara Soeharto dan Moerdani memang sangat erat, karena Moerdani menjadi salah satu pengawal kepercayaannya.
Peristiwa demi peristiwa mengiringi duet mereka berdua. Beberapa tugas negara Moerdani laksanakan dengan penuh tanggung jawab, dan berhasil dengan baik. Namun tidak ada pasang naik saja. Ada kalanya terjadi pasang surut sebagaimana ombak menjilat pantai tanpa henti. Moerdani diisukan akan mengkudeta Presiden Soeharto. Isu ini diterima oleh Soeharto. Tanpa ampun, Moerdani dicopot jabatannya sebelum tuntas. Namun suatu saat Soeharto menyesal, kala Moerdani pernah menasehati agar anaknya Soeharto harus dikendalikan dalam berbisnis. Nasehat itu tidak digubris. Hingga Moerdani menjelang ajal kata itu ia ucapkan dengambahasa jawa. “Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasehatmu, orakoyo ngene. (Kamu memang yang benar Ben. Seandainya aku menuruti nasehatmu, tak akan seperti ini).
Referensi :
1. Tempo edisi khusus 6-12 oktober 2014.
2. Cak Nur sang guru bangsa, ditulis oleh Muhammad Wahyuni Nafis.

Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yanh digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

1 22 23 24 25 26 28