Simulasi Penilaian Kinerja Guru (1)

Soal 1:

  1. Antasari, M.Pd. jabatan Guru Madya, pangkat Pembina, golongan ruang IV/a TMT 1 April 2014 mengajar mata pelajaran Fisika 12 jam, diberi tugas tambahan sebagai Wk.kepala sekolah bidang Sarpras. Pada Desember 2014 memperoleh hasil penilaian kinerja sebagai guru adalah 48 dan sebagai Wk.kepala sekolah mendapat skor rata‐rata untuk Kepribadian dan Sosial 3,10 ; Kepemimpinan 3,80 ; Pengembangan Sekolah 3,30  ; Kewirausahaan 2,80 ; Wakil KS Bid. Tugas Sarpras  3,50.
  1. Berapa angka kredit yang diperoleh Drs. Antasari, MPd?
  2. Jika ybs telah memiliki 8 AK pengembangan diri dan 10 AK publikasi ilmiah, dapatkah dia naik pangkat ke gol. IV/c  dalam 4 tahun dg asumsi kinerjanya tetap sama?

» Read more

Membuat Rapot Kurikulum 2013

Sekolah kami masih menganut kurikulum 2006 atau KTSP. Meteri pelajaran, administrasi hingga model pembelajaran masih memakai KTSP. Dulu, pernah kami merasakan kurikulum 2013 (kurtilas) tapi cuma satu semester. Hal ini disebabkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Pak Anis Baswedan belum memperkenankan sekolah yang belum siap memakai kurtilas. Perubahan itu pasti. Hanya belum saatnya bagi sekolah yang siap menggunakan kurtilas. Ada sarana, sikap dan kesiapan yang matang dan tidak boleh sembarangan.

Salah satu unsur dalam mempersiapkan diri menyambut kurtilas adalah penilaian. Kata teman-teman yang pernah mengalami kurtilas, teknisnya sangat ribet. Segi apapun dari anak didik dinilai. Sementara ada teman, yang mengatakan guru tak lebih dari seorang mata-mata. Penilaian tak hanya segi intelektual dan ketrampilan. Sikappun dinilai. Itulah yang membedakan dengan kurikulem sebelaumnya terutama dari unsur penilaian.

» Read more

Negosiasi (2)

Negoisasi adalah bentuk tawar-menawar. Cuma mungkin namanya lebih keren. Membuat kesepakatan dengan pihak lain memang perlu seni tersendiri. Orang yang trampil dalam tawar-menawar biasanya sudah terasah sedari kecil. Orangnya supel, memahami kekurangan orang lain, senang bersahabat dengan siapapun tanpa memandang sekat suku, golongan dan kelas sosial.

Tawar-menawar bisa dikatagorikan sebagai sebuah permainan dengan aturan yang telah disepakati. Mengapa aturan disepakati? Karena tawar-menawar dilakukan dalam keadaan setimbang. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Aturan dapat berupa tertulis atau karena kebiasaan saja. Jual beli kendaraan bermotor, tentu lain dengan suasana di pasar hewan. Masuk di sekolah swasta berbeda dengan suasana di pasar modal. Meskipun intinya tetap sama. Tawar-menawar.

» Read more

Negosiasi (1)

Tokoh parta  bermain mata. Politikus adu tawar menawar dengan harapan ada sejumput rejeki yang hendak dibagi. Yang diatas, damai-damai saja.Yang dibawah gontok-gontokan. Suhu meningkat, perasaan hati ikut dipacu. Inilah hasil pileg yang dianggap meleset oleh tim sukses masing-masing. Negosiasi berjalan alot, karena posisi tawar terlalu tinggi. Pemenang pemilu inginnya mendikte, yang dapat kurang dari 10% punya hasrat yang tinggi. Jadilah posisi tawar menawar tidak berjalan.

Negosiasi jalan ditempat. Adalah Samuel L. Jackson merupakan salah satu bintang film berkulit hitamdariAmerikaSerikat. Ia yang membintangi film “negotiation” merupakan salah satu favorit tontonanku. Sudah puluhan lebih film yang ia bintangi, baik sebagai peran utama ataupun peranpembantu. Sebagai pemain utama atau pun pembantu, kehadirannya memiliki ruh dalam setiap episode. Cerita menjadi hidup. Meskipun film bercerita tentang detektif atau yang lebih umum tokoh kepolisian, namun baku tembak minim. Kecuali hanya mempertontonkan barisan kendaraan polisi yang bersirine “nguing-nguing” dan nyala lampu yang berbinar-binar.

Kevin Spacey, sebagai mitra mainnya, juga mampu mengimbangi. Salin gmengisi. Setiap saat, manakala kita berkomunikasi dengan orang lain, hamper bias dipastikan memiliki kandungan negoisasi.Tawar menawar. Dialog yang hendak dibangun mempunyai tujuan “win-win solution”. Karena semuanya ingin puas. Tak ada yang direndahkan. Meskipun setiap saat kita berunding, namun ada baiknya tips berikut ini dapat dijadikan referensi atau wawasan agar supaya negoisasi berjalansukses.

Menang semuanya. Persiapan. Setiap orang yang berpidato, pasti dipilah menjadi 3 bagian besar. Pertama pembukaan, kedua isi dan dilanjutkan penutup atau kesimpulan. Jadi bagian yang utama dari pidato adalah isi. Negoisasi berbeda. Bagian utamanya justru di depan yang merupakan kerangka atu persiapan. Karena di wilayah ini, hasil dan tujuan negoisasi ditetapkan. Tidak heran, untuk melakukan negosiasi perlu persiapan yang matang agar memperoleh hasil yang baik. Demikian pula dari pihak orang lain akan mendapatkan nilai-nilai yang pantas. Tahap berbagi. Periode berbagi ini  sebagai akibat dari jalannya negoisasi.

Orang yang telah berpengalaman dalam bernegosiasi, ia akan membuka dengan kalimat-kalimat yang disukai oleh lawan bicara. Dengan menyanjung, member apresiasi terhadap lawan, berarti negoisasi telah berjalan setengahnya. Orang lain akan segan manakala diperlakukan sebagai manusia yang memiliki harga diri.

Tawar menawar. Setelah pembukaan negoisasi berjalan dengan baik, saatnya kita membuka yang setulus-tulusnya maksud dan tujuan melakukan negosiasi. Tahapan ini akan diraih secara bersama-sama win-win solution. Kita tidak perlu pelit terhadap informasi, sebalinya tidak terlalu member informasi yang berlebihan.

Penutup dan komitmen. Setalah tawar menawar ditemui pada titik puncak, muncullah komitmen bersama. Hasil perundingan sebagai perjanjian terikat, satu dengan yang lainnya menghormati itikad bersama. Andai salah satu yang mengingkari dari perjanjian itu, mungkin tidak ada kepercayan kepada orang itu. Kalau di media social, mengingkari perjanjian akan dikebiri olah orang lain. Meskipun pejabat pusat.

Megawati kalah Tiga Kali

Andai Jokowi telah dilantik secara resmi menjadi Presiden RI yang ke-7, menurut analisaku secara politik, berarti Megawati kalah 3 kali. Pertama beliau kalah dari SBY di tahun 2004 yang waktu itu diusung Partai Demokrat yang termasuk partai gurem. Tapi denga cerdik menggandeng Golkar untuk memimpin republik ini. Padahal PDI P sebagai partai pemenang pemilu.
Fenomena yang muncul di tahun tersebut karena buah kelihaian poros tengah. Disisi lain SBY menurut sebagian warga, orang yang disingkirkan. Sehingga rakyat muncul belas kasian. Ingat ucapan Taufik Kiemas almarhum yang mengatakan Jendral seperti anak kecil.
Tahun 2009 merupakan buah yang ditanam Partai Demokrat. Sebelum badai menerjang partai, boleh dikatakan Demokrat sebagai salah satu partai idaman masyarat. Sekali lagi Megawati kalah telak.
Tahun 2014, sebenarnya tahun yang digadang-gadang bagi pendemen Megawati untuk meraih Presiden. Apadaya, sebagian masyarakat sudah terlanjur cinta dengan Jokowi. Terjadi pertarungan yang dahsyat di lingkar partai, antara tetap memepertahankan Megawati atau memunculkan Jokowi. Ternyata elit partai lebih memililih budaya populer dan menyampingkan ideologi. Apa penyebabnya PDI P memutuskan untuk mengorbitkan Jokowi.
Ideologi
Ideologi PDIP tidak segarang dulu. Budaya praktis telah merambah partai yang dikenal amat ketat dengan jargon nasionalis. Pendukung setia Megawati dipecundangi dengan elit partai yang lebih mementingkan budaya tawar. Satu hal yang mungkin tidak bisa dihindari. PDIP mania hanya bisa mengamini titah ketua umum, meskipun telah disudutkan pada sisi tanpa banyak altetnatif.
Rebutan di Ring satu
Budaya praktis yang telah menjinakkan konservatif adalah buah karya dari elit partai yang tidak mau melepas kekuasaan baik di parlemen maupun pemetintahan. Banyak kader partai yang enggan untuk melepas kursi meskipun dengan menggandaikan loyalitas terhadap ketua umum. Generasi muda di partai, saat ini tidak merasakan pahit getirnya melawan orde baru.
Partai itu Hotel. Kekuasaan itu Rumah
Harus diakui bahwa keluar masuk dalam sebuah partai itu biasa. Kutu loncat istilahnya. Manakala kekuasaan sangat tipis untuk didapatkan, dengan enteng untuk melepaskannya. Yang disayangkan di PDIP, mengapa orang masuk ke partai begitu mudah. Tidak sejalan dengan ideologi yang digenggam. Inilah mungkin kelemahan dari PDIP. Banyak kasus kepala daerah yang berasal dari PDIP, tapi dalam perjalanan orang tersebut bukan yang membesarkan partai. Penjaga gawang partai di semua level kebobolan. Bila tidak akan perbaikan, maka kader partai hanya bangga menjadi karyawan hotel.

Al Farabi

Abu Nasr al Farabi, demikian nama lengkapnya. Lahir pada tahun 870 M atau 258 H. Beliau termasuk filosof muslim yang hidup pada abad 10. Lahir di Wasij, sebuah dusun dekat Farab, di Transoxiana, termasuk Negara Turki. Menurut murid-muridnya, al Farabi termasuk aneh. Karena umumnya filosof jaman dahulu, menuliskan biografinya sendiri atau murid pengagumnya. Beliau tidak mau mengisahkan kehidupan pribadi untuk konsumsi publik, baik sebagai salah satu sumber sejarah maupun kekayaan khasanah muslim.
Dalam pencarian menimba ilmu, ia lebih senang menetap di Baghdad sebagai pusat belajar yang terkemuka. Disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya filosof dan penerjemah. Tertarik pada bidang logika, maka ia langsung belajar dari ahli logika yang terkenal yaitu Abu Bisyr Matta ibn Yusnus. Dalam perjalanan mempelajari logika ternyata ia mampu mengungguli gurunya. Di kalangan filosof, terutama Ibn Khaldun, al-Farabi dijuluki dengan “guru kedua’. Guru pertama disematkan pada Aristoteles.
Guru pertama dipandang mampu meluruskan dan mengumpulkan kajian-kajian dalam logika dan permasalahannya. Guru kedua dipandang karena mengarang buku, mengumpulkan, dan menyempurnakan terjemahan karya Aristoteles.
Di Baghdad al Farabi tinggal selama duapuluh tahun. Kemudian beliau tertarik untuk bergabung dengan kaum intelektual di pusat kebudayaan Aleppo. Tempat ini terkenal dengan istananya Saif al Daulah. Rindang, nyaman dan serba berkecukupan. Namun demikian, beliau tidak silau dengan lingkungan istana yang kemilau. Ia bekerja dengan menulis artikel dan buku-bukunya dibawah gemericik air sungai dan di bawah dedaunan yang rindang.
Suasana pusat kebudayaan yang menjunjung tinggi perbedaan pendapat tanpa mengambil keuntungan pribadi. Meski ada simpati yang kuat dan cenderung kearaban dari istana, namun tidak terjadi kelompok-kelompok tertentu. Orang-orang Persia, Turki dan Arab saling berdiskusi dan berdebat. Mereka berasal dari kalangan sarjana, para penyair, ahli bahasa, filosof, dan cerdik pandai lainnya.
Karya-karyanya.
Menurut penulis biografi seperti al Qifti atau Abu Usaibi’ah, al Farabi telah menulis artikel sejumlah 70 an buah. Di masanya, jumlah tersebut tergolong kecil dari segi kwantitas. Bagaimanapun juga al Farabi telah memperoleh gelar guru kedua dalam bidang filsafat. Pencapaian yang luar biasa dedikasinya dalam mengembangkan ilmu filsafat.
Karya al Farabi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu logika dan filsafat. Logika menyangkut bagian-bagian dari organon-nya Aristoteles. Menurutnya, logika mempunyai kedudukan yang mudah dimengerti, sebagimana hubungan antara tata bahasa dengan kata-kata, dan ilmu mantra dengan syair.
Logika juga membantu kita membedakan yang benar dan yang salah dan memperoleh cara yang benar dalam berfikir atau dalam menunjukkan orang lain kepada cara ini. Ia juga menunjukkan dari mana kita mulai berfikir dan bagaimana mengarahkan pikiran itu kepada kesimpulan-kesimpulan akhir.
Karya kedua filsafat. Al Farabi berpendapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuan. Karena itu, para filosof besar harus menyetujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran. Al Farabi berpendapat bahwa hanya ada satu aliran filsafat, yaitu aliran kebenaran.
Menurut al Farabi, tujuan akhir dari hal-hal di atasadalah mengetahui pencipta Sang Khalik, mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya yang tidak bergerak. Dia-lah sebab pertama bagi adanya segala hal. Dia-lah yang mengatur alam semesta ini dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.
Sumber bacaan :
Para Filosof Muslim. Editor : M.M. Syarif, MA
Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Husayn Ahmad Amin

Pendidikan Agama Bagi Anak

Menata kembali buku yang berserakan bukan berarti cuma membersihkan dari debu yang menempel. Bukan hanya memindah dari almari satu ke lainnya. Menata buku bisa berarti mengulang kembali memori saat buku itu dibeli atau hadiah atau diberi orang lain. Terkadang ada sedikit ketawa geli mana kala menemui sebuah buku yang memiliki sejarah kecil dari mana muasal buku itu menjadi milik kita.
Seperti biasa, di hari libur atau minggu saat yang paling tepat, menurutku untuk membersihkan dan menata ulang buku yajg sudah terlanjur lama tak terjamah. Aku menemukan buku jadul, dicetak tahun 1991. Buku itu ternyata sudah naik cetak yang ketigabelas. Ilmu Jiwa Agama karya Prof.DR. Zakiah Daradjat.
Buku itu, kalau tidak salah menjadi acuan bagi mahasiswa di (dulu) IAIN, terkhusus lagi yang ambil jurusan yang berbau psikologi. Sebuah buku yang mengulas Psikologi Agama khususnya dan Pendidikan Agama pada umumnya. Tetbitan Bulan Bintang, Jakarta mengalami cetak ulang beberapa kali, tapi cover tidak berubah sedikitpun. Entah kalau sekarang bila diterbitkan lagi. Catatanku buku itu covernya masih tetap sama, sedang isinya masih setia menggunakan kertas buram. Sehingga bila berjalan beberapa tahun ke depan akan tampak warna kuning, atau tintanya yang terlihat memudar.
Aku tertarik untuk membaca kembali terutama pada bahasan mendidikan Agama bagi Anak.
Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidup sejak kecil. Baik di rumah, di sekolah maupun lingkungannya. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama, akan semakin banyak unsur agama, maka sikap dan tindakan anak akan sesuai dengan agamanya.
Pembentukan kepribadian anak dalam bidang agama dapat dilakukan meliputi bagaimana membentuk mental pribadi, perkembangan agama pada anak, dan pembiasaan pendidikan agama pada masa anak.
Pembinaan pribadi menjadi kewajiban orang tua dan guru bila anak sekolah formal. Idaman orang tuadan guru agar anak memiliki basis kepribadian dengan akhlak yang kuat, terpuji. Karena dengan akhlak yang baik, nilai apapun yang dimasukkan dalam diri anak bukan menjadi hambatan, bahkan menjadi motivasi.
Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung. Rekaman anak terhadap perilaku orang tua sangat akurat dalam meniru perilaku mereka. Demikian juga sikap anak terhadap guru. Sehingga pembinaan yang utama untuk anak adalah contoh real setiap hari. Tindak-tanduk orang tua dan guru akan menjadi panutan bagi anak.
Perkembangan agama pada anak akan sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan pertama antara umur 0 – 12 tahun. Seorang anak yang tidak mendapatkan pendidikan agama dan tidak mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama. Anak akan mengenal Tuhan melalii kedua orang tua dan lingkungan keluarga. Sebelum anak dapat berbicara, ia telah terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan tentang Allah.
Membiasakan pendidikan pada anak hendaknya dilakukan sejak dini dan terus menerus. Karena latihan dan pembiasaan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak. Yang tadinya remang-remang, akan menjadi jelas dan gamblang. Pembiasaan ini bukan hanya untuk melatih tapi pada akhirnya anak tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya. Semakin kecil umur si anak, hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agamadilakukan pada anak. Dan semakin bertambah umur si anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan fan pengertian tentang agama itu dibetikan sesuai dengan perkembangam kecerdasan.

1 27 28 29 30 31 35