Tegar

Jum’at Berkah

“Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kalian tidak akan dianiaya sedikitpun.” (An-Nisaa’ 4:77)

Sikap optimis, perasaan damai, senang dan puas, cinta dan kasih sayang serta jiwa yang tenang, semuanya merupakan buah yang lezat dari pohon kepercayaan yang tumbuh dalam jiwa orang mukmin.

Betapa banyak orang yang bekerja berhari-hari hingga bertahun-tahun, namun ternyata tidak memperoleh hasil yang memuaskan hati. Hanya bendawiyah yang ia dapatkan. Keadaan mereka ibarat perahu tanpa layar dan kemudi. Tak ada yang dapat membuatnya tenang dalam menghadapi ombak dan topan.

Itulah gambaran orang yang hidup di dunia ini tanpa arah dan tujuan. Mungkin saja mereka mendapatkan harta, tapi bukan ketenangan hati. Bisa saja mereka memiliki segudang jabatan, namun tak memperoleh ketenteraman hati. Cinta dan kasih sayang demikian kering. Apa yang diusahakan tanpa menyertakan Tuhan.

Hasil penyelidikan dan penelitian para pakar menunjukkan bahwa orang yang tidak mengakui adanya Tuhan, yang ragu-ragu imannya akan lebih banyak berkeluh kesah dan mudah tak berdaya dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan hidup. Mereka ini tak percaya kepada para nabi, untuk mendapatkan teladan dan pelajaran tentang kehidupan para nabi yang penuh cobaan.

Orang-orang mukmin lebih tahan dan sabar dalam menghadapi cobaan, teguh pendirian dalam menghadapi kesulitan. Hal ini karena mereka menyadari bahwa umur dunia ini cukup pendek dan amat sebentar jika dibandingkan dengan rentang waktu yang kekal tak berkesudahan. Maka mreka tidak menilai kesenangan dunia dengan amat berharga, karena ada kesenangan yang jauh lebih tinggi dan kekal.

Orang mukmin seperti ini, adalah yang selalu menyertakan Tuhan dalam setiap kali melakukan usaha. Setiap detik tak pernah lepas ikatan dengan-Nya. Mereka ini selalu menjadikan para nabi sebagai contoh dan suri tauladan utama dalam melaksankan aktifitasnya.

Orang mukmin mengetahui bahwa perasaan duka adalah pelajaran berharga dan pengalaman yang bermanfaat, baik untuk agama maupun keduniaan. Penderitaan dan perasaan duka ini akan mematangkan jiwa, mempertebal iman, menghilangkan karat yang menutupi kalbu. Maka pantaslah bahwa orang-orang yang terpanggil jiwanya, selalu tegar dalam setiap menghadapi masalah.

Bahan bacaan: Merasakan kehadiran Tuhan, karya Dr. Yusuf Qardhawi.

Berbeda Suasana namun Semangat yang Sama

Apapun keadaannya, bahwa upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 tetap khidmat, meskipun masih dalam suasana Covid-19. Virus yang bisa menyebabkan kematian ini ternyata bisa membuat hampir semua negara terkapar. Menuju jurang resesi.

Jika Allah swt menghendaki, semua berjalan sesuai dengan firman-Nya. Kisah-kisah Nabi-Nya yang tertuang dalam kitab suci cukup menjadi bukti. Peristiwa banjirnya Nabi Nuh, terbaliknya tanah umat Nabi Lut, menggambarkan betapa dahsyatnya peristiwa tersebut. Virus corona, bagi orang yang beriman adalah tanda-tanda, bahwa Allah memberi sinyal sesuatu kepada umat-Nya.

Insya Allah menjadi pengalaman yang tak terlupakan, bahwa saat ini dunia Pendidikan masih dalam suasana darurat. Pelaksanaan kegiatan pendukungnya juga dalam keadaan tidak seperti biasanya. Redaksi mencatat pengalaman 3 siswa melaksanakan upacara secara virtual. Peristiwa ini juga ditulis oleh mereka. Berikut kami sajikan tulisan mereka secara utuh.

Pertama: Azlea Pinada kelas 8 ICT

Dirgahayu Indonesia tahun ini memang berbeda dari tahun – tahun yang sebelumnya. Semua aktivas dialihkan ke rumah.Kantor, Sekolah, dan kegiatan lainnya terhenti karena pandemi covid 19. Termasuk kegiatan yang hanya terdapat di bulan Agustus seperti lomba-lomba 17-an, gotong-royong membersihkan desa, dan malam tirakatan semua di hentikan. Termasuk Upacara 17 Agustus yang dibatasi jumlah pesertanya. Rasanya memang sangat berbeda.

Tapi ingat ,walaupun hanya bisa melihat Upacara 17 Agustus dari virtual maupun melalui layar televisi kita tetap masih punya semangat kemerdekaan. Saya sebagai rakyat Indonesia bersyukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan walaupun melihat hanya dari layar televisi dan berharap dari pandemi covid 19 cepat berlalu dari ibu pertiwi. Saya selalu bersyukur. Selamat Dirgahayu Indonesia yang ke-75 tahun,tetap maju dan sejahtera negeriku.

Kedua: Naufal Rayhan kelas 8B

Pada tanggal 17 Agustus 1745 Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah (Belanda). Indonesia merobek bendera warna biru di Hotel Yamato Surabaya. Setelah berhasil Presiden Indonesia Bapak Ir. Soekarno membuat proklamasi.

Kita sebagai warga negara Indonesia seharusnya menghargai jasa para Pahlawan dengan mengikuti upacara bendera secara hikmat. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Indonesia sedang berduka karena dampak covid-19.

Ketiga: Pespita Febriani kelas 7B

Upacara HUT RI yang ke-75 digelas di Istana Merdeka di Jakarta. Selaku inspektur upacara Bapak Presiden Republik Indonesia yaitu Bapak Joko Widodo. Upacara ini rutin setiap tahun diadakan.

Upacara Bendera dilaksanakan dengan penuh khikmat, dengan menggunakan protocol Kesehatan di masa pandemic covid-19.

Teks Proklamasi dibacakan oleh Ketua MPR Bapak Bambang Susatyo. Pengibar Bendera Sang Saka Merah Putih dilakukan oleh para PAKIBRAKA dan diiringi lagu Indonesia Raya.

Pengalaman saya menyaksikan upacara HUT RI ke-75 adalah saya merasa bangga dengan Bangsa Indonesia karena walaupun dimasa pandemic covid-19, Bangsa Indonesia masih bisa mengadakan upacara HUT RI ke-75

Mengenal Prof. Dr.rer.nat. Widodo, M.S.

Satu lagi. Indonesia kehilangan putra terbaik dalam bidang Matematika. Saat Indonesia akan berusia tiga per empat abad. Kala Bangsa dan Negara sangat membutuhkan buah pikiran untuk kemajuan Bangsa terutama pada sector Matematika. Tetap saja, hidup dan mati itu adalah hak yang di atas. Allah swt lebih sayang kepadanya. Mungkin, dengan menghadapnya Prof. Widodo (alm), Allah akan menguji kepada kita. Seakan Allah berkata “Tirulah dia”.

Kami, selaku komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kota Yogyakarta, sangat kehilangan seorang panutan. Beliau dalam berbagai even sangat respek terhadap kegiatan MGMP Matematika. Bahkan tak jarang memberi saran dan juga dorongan, agar MGMP Matematika menjadi salah satu pilar kemajuan Pendidikan khususnya di Yogyakarta.

Sebagai seorang yang pernah menahkodai Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidika (P4TK) Matematika, tentu memiliki komunikasi yang cukup intens dengan MGMP Matematika. Hubungan yang tak sekedar transfer kelembagaan, keilmuan, ataupun koordinasi, namun lebih pada membangun sinergitas untuk keunggulan Matematika.

Teruskan membaca

Pecinta Masjid

Jum’at Berkah

Sesungguhnya rumah pertama kali dibangun untuk (tempat beribadah) adalah Baitullah di Bakkah yang diberkati dan dijadikan petunjuk bagi semua manusia. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya maka amanlah dia.

Ada tiga kelompok penghuni surga yang membuat malaikat merasa cemburu, karena wajah mereka bercahaya. Pertama, mereka yang wajahnya seperti bintang. Saat ditanya malaikat, apakah amalan yang membuat mereka bisa seperti itu, mereka menjawab, ‘’Ketika adzan berkumandang, kami segera wudhu dan menuju rumah Allah (masjid).’’

Kelompok kedua, wajahnya lebih bercahaya, yakni seperti bulan purnama. Saat ditanya, mereka menjawab, ‘’Ketika adzan berkumandang, kami sudah berwudhu, lalu kami menuju rumah Allah.’’ Kelompok ketiga wajahnya paling bercahaya, seperti matahari. Saat ditanya, mereka menjawab, ‘’Ketika adzan berkumandang, kami sudah berwudhu dan duduk di rumah Allah.’’Kisah di atas dikupas oleh Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustadz Muhammad Arifin Ilham (alm) saat memberikan tausiyah pada acara bertajuk ‘’Qiyamullail dan Muhasabah.’’

Beliau mengajak seluruh jamaah agar selalu menjaga shalat fardhu berjamaah di masjid. ‘’Mari kita gunakan momentum tahun baru Hijrah untuk kembali ke masjid. Orang yang rajin ke masjid diberkahi hidupnya, keluarganya, rezekinya, pekerjaannya, dan segala aktivitasnya. Nabi menegaskan, ‘Kalau saja umatku tahu keutamaan shalat berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya, walaupun harus merangkak’.

Sedemikian pentingnya masjid, sehingga disebut sebanyak 28 kali di dalam al-Qur’an. 22 kali diantaranya dalam bentuk tunggal dan 6 kali dalam bentuk jamak (plural). Dari sejumlah penyebutan tersebut, 15 kali diantaranya membicarakan Masjid al-Haram di kota Makkah atau lembah Bakkah.

Kata masjid berasal dari kata fi’il madli (kata kerja lampau) sajada yang berarti tempat sujud. Sedangkan masjidan merupakah isim makan (kata benda tempat) yang berarti tempat bersujud.

Begitu tiba di Madinah, Rasulullah saw membangun Masjid, sebelum bangunan lainnya didirikan. Karena Masjid adalah sarana utama untuk pemberdayaan sumber daya masyarakat. Masjid pada masa Rasulullah saw dan generasi Islam pertama dijadikan pusat kegiatan dakwah serta pengembangan keilmuan pemikiran moral pendidikan dan sosial. Di sanalah tempat para sahabat menimba ajaran-ajaran Islam dan tempat memecahkan segala urusan mereka sehari-hari.

Di zaman Rasulullah, masjid juga menjadi tempat menyambut utusan. Salah satunya ketika Rasulullah menyambut utusan dari Nasrani Najran. Ketika itu, jumlah rombongan 60 orang dengan 14 pembesar Nasrani di dalamnya. Mereka dipersilakan masuk ke dalam masjid dengan menggunakan jubah kenasranian mereka dan berdialog dengan Rasul mengenai Nabi Isa.

Melejitkan Bebas Mengajar

Oleh: Minhajul Ngabidin, S.Pd, M.Si.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)

“Good teacher can inspire hope, ignite imagination, and instill a love of learning”, demikian mestinya menjadi seorang guru. Keprofesionalannya dijamin Undang-undang. Artinya, bahwa setiap guru secara terbuka diperkenankan untuk mengeksplore potensi yang ada pada dirinya. Guru yang diharapkan adalah, mereka yang dapat menginspirasi harapan, memicu imajinasi dan mencintai belajar. Muaranya, siswa tanpa terhalang apapun untuk bisa mengembangkan potensinya.

Saat ini, menurut Menteri Pendidikan, kita masuk ke area perubahan dari model absolut menuju relatifisme. Obsolut ditandai dengan serba standar. Setiap kebijakan harus diikuti tanpa mengurangi sedikitpun essensi kebijakan itu. Tak peduli daerah itu berdekatan dengan kota (mudah menerima akses), ataupun daerah pelosok yang sulit menerima akses informasi.

Teruskan membaca

Menilai Pribadi Seseorang

Jum’at Berkah

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Attin 4 – 5)

Sudah menjadi kebiasaan apabila kita sedang bercengkerama dengan teman, hampir selalu tak lepas dari menilai seseorang. Mulai dari fisik hingga kepribadiannya. Teman kita masih cakep seperti yang dulu, tak berkurang. Tetangga sebelah itu tak juga operasi hidung, padahal uangnya ada, bahkan berlebih. Itu contoh menilai seseorang dari fisiknya. Kalau pribadinya? Contohnya banyak sekali.

Lima ekor lembu sama-sama besar dan sama tinggi, tentu harganya tidak jauh berbeda. Akan tetapi lima manusia sama besar dan sama tinggi belum tentu “sama harganya”. Bagi lembu, tubuhnya saja yang berharga. Bagi manusia adalah pribadinya.

Orang yang cerdas, berilmu tinggi, professional dalam bidangnya, belum tentu berharga. Belum tentu juga akan memperoleh kekayaan dalam hidup apabila sekiranya kepribadiannya yang tidak lengkap atau tidak kuat terutama budi dan akhlaknya. Hampir setiap hari kita mendengar dan melihat orang yang cerdik pandai, professional dan terpandang karena jabatan, menjadi sampah masyarakat karena perilaku yang tidak terpuji. Kepribadiannya cacat.

Dalam berkawan atau bersahabat, hendaknya kita harus merasakan kepribadiannya. Bukan raga, bukan pula pernak-pernik yang menempel pada pakaiannya. Sifat yang melekat pada manusia mestinya pribadi yang anggun. Namun namanya manusia tetap saja tidak akan mencapai sempurna. Bertambah besar pribadi seseorang, akan bertambah jelas pula kelemahannya. Ada pepatah yang mengatakan “Apabila sesuatu telah sempurna, jelaslah kekurangannya”

Tinggi rendahnya pribadi seseorang adalah karena ada usaha untuk hidupnya. Caranya berfikir, penuh perhitungan, wawasannya luas, semangat tak kenal menyerah. Melihat pribadi seseorang tidak boleh dengan rasa sayang atau benci. Karena yang sering terjadi, baru bertemu beberapa hari sudah mengatakan menyayangi atau membenci.

Terkadang, kita sayang terhadap seseorang karena sopan, ikhlas, ringan tangan, setia dan keberaniannya. Kita juga bisa membenci manusia karena berbuat curang, tidak jujur, bakhil, dan menyebar berita bohong. Oleh karenanya sangat tepat ucapan Socrates yang mengatakan “Kenalillah siapa dirimu, kenalillah pribadimu sendiri”

Bentuk Akar

Lebih jelasnya lihat video 1, video 2, dan video 3

Berikut ini latihannya