Mengatur Ritme Emosi Anak

Beberapa tahun lalu, saat awal masuk tahun pelajaran baru, ada seorang anak yang sebenarnya masih tergolong kecil menangis tidak ingin masuk sekolah. Didepan pintu masuk sekolah, anak itu meraung-raung meskipun sudah dituntun ibunya untuk segera memasuki sekolah yang baru. Akhirnya kami ikut turun tangan menenangkan anak bahwa di sekolah banyak siswa yang baru. Satu dengan yang lainnya masih belum saling kenal. Jadi tidak ada alasan tidak punya teman.

Rupanya anak kecil tadi belum siap untuk beradaptasi dalam lingkungan yang baru. Dibenaknya masih ingin suasana sekolah seperti masih di SD. Masih ingin berteman dengan kawan-kawan SD, bahkan ingin sekolahnya masih seperti di SD. Tidak sedikit mental anak yang ingin memasuki jenjang yang lebih tinggi, memiliki emosi seperti ini. Orang tuapun kadang-kadang merasa was-was.

Pendidikan di Indonesia memang memakai sistim bertingkat. Setelah TK kemudian SD, dilanjutkan SMP dan seterusnya. Setiap jenjang memungkinkan seorang anak berpindah dari sekolah satu ke sekolah lainnya. Sekalipun ada juga model sekolah yang sifatnya langsung. Misalnya, dari kelas VII sampai kelas XII. Ini biasanya dimiliki oleh sekolah denga model penggabungan antara sekolah dengan pondok.

Akibatnya sistim yang diterapkan oleh pemerintah yang demikian itu, seorang anak harus selalu siap untuk beradaptasi ke dalam lingkungan yang baru setiap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Keuntungannya adalah siswa akan memiliki kawan baru. Siswa akan mempunyai suasana dan lingkungan baru. Mestinya anak merasa senang akibat dari model pendidikan di Negara kita.

Dari suasana yang demikian itu, maka salah satu fungsi seorang guru adalah sebagai penyeimbang emosi siswa. Kebijakan sekolah agar setiap periode tertentu merotasi siswa dalam pengelompokan kelas sudah baik. Pertimbangannya beraneka ragam, mulai dari berdasarkan prestasi, keseimbangan gender, berdasarkan tingkah laku anak dan lain-lain. Bila sebuah kelas telah ditetapkan anggotanya dengan pertimbangan komposisi di atas, berikutnya adalah peran guru dalam mengemas suasana kelas.

Komposisi kelas yang telah diatur berdasarkan prestasi akademik, maka seorang guru siap-siap untuk meredam gejolak emosi anak manakala menghadapi kelas khusus (akademiknya rendah). Bila guru sudah tidak dapat mengatur ritme suasana kelas, sudah tidak memiliki wibawa, yang terjadi adalah adanya pertengkaran antara siswa dengan guru, suasana kelas yang selalu ramai, tak jarang terjadi pertengkaran yang berujung pertikaian. Inilah kelas yang selalu menjadi polemik. Kelas yang selalu mewarnai setiap rapat dewan guru. Apapun alasannya, bila sejak awal pembagian kelas sudah ditetapkan seperti itu, resiko harus ditanggung semua guru.

Membangun kewibawaan seorang guru tidak datang tiba-tiba. Kewibawaan seseorang telah melalui proses yang panjang dan berinteraksi dengan banyak orang. Maka sebenarnya agak memalukan bila seorang guru tidak memiliki peran yang aktif dalam masyarakat. Kalau seorang guru hanya sebagai anggota dalam sebuah komunitas, berarti mata kuliah yang berhubungan dengan kemasyarakatan gagal diserap.

Bagaimana mungkin dapat mengendalikan suasana kelas, bila gurunya sendiri tidak terlibat aktif dalam masyarakat. Bagaimana mungkin dapat mengendalikan emosi anak, namun gurunya sendiri belum bisa mampu meredam emosi. Sebab emosi seseorang berasal dari masyarakat.

Menuju Changi

Semalam hujan cukup lebat. Sedari siang yang panas hingga sore membuat gerah disekujur tubuh. Keringat melumuri setiap jengkal pori. Hingga lengket yang tersisa. Namun malam berbaik hati. Sepenggal waktu teruntai dalam kegelapan. Hujan deras segera mengguyur jogja. Seketika kesejukan mencerca dalam desah nafas. Mengantar tidur yang nyanyak. Menyusun energi untuk jelang esok hari.
Malam itu kusudahi pengepakan keperluan pribadi. Retsliting masih terbuka. Menunggu satu dua barang yang sengaja kumasukkan di bagian akhir. Rasa kantuk tak tertahankan. Sebuah bongkahan bantal akhirnya menemani mimpi dalam tidurku.
Sound system masjid selalu setia membangunkan warga kampung. Siapa tahu ada orang yang akan bertemu denganNya. Panjatkan doa agar hari ini diberi kelancaran dalam setiap usaha. Mengais ilmu dan rizki lewat pintu barakah. Meski rasa kantuk masih tersimpan dalam pelupuk mata, tak mengurangi niatku untuk selalu meramaikan aktifitas. Bersama-sama mengagungkan asmaNya. Alhamdulillah.
Koper segera kututup rapat. Langkah demi langkah kuawali menuju bandara Adi Soetjipto. Bandara yang senantiasa menemani siapa saja yang ingin datang dan pergi. Uang pergi selalu kangen untuk kembali. Yang datang tak tertahankan untuk dipeluk jogja. Jogja yang terbuat dari kangen, rindu dan pulang.
Pagi ini langkahku akan menjejakkan ke Singapura. Bersama-sama dengan anak didik dan rekan untuk bersilaturahmi dengan saudara senasib, dunia pendidikan. Kita akan bertukar pengalaman. Saling menerima dan memberi. Tapi kusadari bahwa dari kedua pilihan itu, aku merasa haus untuk menerima. Harus kuluangkan mangkok otakku untuk menampungnya.
Singapura. Negeri impian. Bukan entah apa yang dirindui, tapi entah apalagi yang akan diraup saat ini. Kemodernan apalagi yang akan dusuguhkan negeri singa. Daya tariknya begitu lekat. Magnet apa lagi yang hendak ditampilkan, hingga membuat terpesona. Barangkali singapura terbuat dari magnet.
Kota besar, dimanapun sama saja. Paling lama 6 bulan hampir pasti ada perubahan. Membuat orang pangling. Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur selalu mirip dengan dinamika di segala bidang. Tak hanya wajah, namun temperamen penghuninya juga sama saja. Selalu berubah.
Begiti jemari kaki menginjak di Cangi, sudah ada getaran yang dirasakan beberapa tahun yang lalu. Changi berbeda dengan Cengkareng. Pun demikian dengan Bandara Sultan Abdul Aziz, Bandara Suvarnabhumi di Bangkok. Mungkin belajar dari pengalaman hilangnya pesawat Malaysian Air Line. Di Changi sangat ketat terhadap setiap penumpang. Namun demikian jangan ditanya terhadap komitmen ketepatan waktu, kenyamanan, pelayanan. Harus diakui Changi patut berbangga.

Merananya Perpustakaanku

Saya kira tidak hanya diperpustakaan sekolahku saja. Hampir merata disetiap sekolah memiliki perpustakaan yang terbengkelai. Perpustakaan tak lebih dari tempat untuk menyimpan buku. Ada yang lebih sinis dengan mengatakan bahwa perpustakaan adalah gudang buku. Buku apapun yang tidak terpakai disimpan di perpustakaan.

Hampir dipastikan, dalam setiap merancang ruang-ruang dalam sekolah, lebih mengutamakan ruang kepala sekolah, guru, kelas, laboratorium dan BP. Ruang Perpustakaan merupakan pilihan terakhir. Akibatnya ukuran ruang perpustakaan hanyalah sisa dari pilihan-pilihan utama. Tidak heran ruang perpustakaan menempati di sudut-sudut lokasi sekolah.

Dalam hal perawatanpun, perpustakaan hampir selalu menjadi prioritas yang nomor dua. Pihak pengelola sekolah lebih senang memperbaharui mebeler, mengganti komputer terbaru meskipun komputer lama masih bisa dipakai, tukar tambah barang-barang elektronik lainnya. Anggaran perpustakaan selalu  dialokasikan dana sisa.

Selama keluarga besar sekolah belum memiliki minat membaca, jangan diharapkan perpustakaan akan menjadi pilihan utama dalam rancangan anggaran sekolah. Selama kepala sekolah dan guru masih menancapkan budaya lisan maka jangan barharap perpustakaan

Untuk menyokong wibawa perpustakaan ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan :

1. Serius mengalokasikan dana untuk memperlebar ruang, memperbaharui koleksi buku, membuat nyaman ruangan. Koleksi buku jangan mengharapkan datang dari bantuan. Koleksi buku harus dipilih dengan kwalitas yang memadai. Apabila calon alumni diwajibkan untuk menyumbang buku, disarankan dalam bentuk uang saja. Karena sumbangan buku kadang tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah.

2. Guru mempelopori bedah buku secara periodik. Luangkan waktu 60 – 90 menit per bulan untuk mengkaji buku. Dua minggu sekali lebih baik. Presentasi boleh dilakukan oleh 2 orang. Buku yang telah dibaca supaya ditulis dalam bentuk ringkasan.  Dengan demikian secara tidak langsung guru juga menulis. Membaca buku sekaligus menulis.

3. Penugasan siswa hendaknya diarahkan untuk menggunakan buku di perpustakaan. Mendorong siswa agar masuk ke perpustakaan, sebagai salah satu cara agar siswa gemar membaca. Dalam periode tertentu, datangkan nara sumber dari luar. Saat ini banyak sekali komunitas yang komitmen dengan baca dan tulis.  4.  Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki, maka perpustakaan menjadi solusinya. Sekolah memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

4.Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa meluangkan waktu untuk membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki untuk memperoleh buku yang bermutu, program membaca dan menulis yang berbasis perpustakaan menjadi solusinya. Satu buku bisa dibaca oleh beberapa orang. Sekolah juga memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

Lagu Cinta Terbaik

Saat saya masih kecil, saya paling suka mendengarkan acara tangga lagu di sebuah radio. Saya ingat betul lagu “Lagu Untuk Sebuah Nama” yang dinyanyikan oleh Ebiet G Ade demikian lama bertengger dipuncak. Saya tak ingat benar berapa minggu lagi itu sebagai pemuncak. Kalau tidak salah sampai 14 minggu – 3 bulan. Saingan terdekat adalah lagunya “Jangan Sakiti Hatinya” yang dipopulerkan Iis Sugianto.

Lagu lama, seputar tahun 70 – 80 an, hingga sekarang masih menjadi favorit bagi penggemar. Lirik lagunya sederhana, irama lagunya juga sederhana, tapi penyanyinya punya karakter yang kuat. Penyanyi yang masuk ke dapur rekaman, memang telah diseleksi dengan ketat. Musisi tak akan membiarkan seorang calon penyanyi yang berangkat dari suara biasa-biasa saja. Boleh dikatakan bahwa penyanyi masuk dalam lorong bakat alam, bergulat di ranah alam.

Lagu Untuk Sebuah Nama yang menjadi sound track film “Arjuna Mencari Cinta”, yang diperankan oleh Herman Felani sempat memicu perdebatan. Penggemar wayang tak rela bila Arjuna (tokoh pewayangan) dijadikan sebuah judul film yang diembel-embeli dengan mencari cinta. Seakan-akan bahwa Arjuna itu adalah Don Juan.

Beberapa tahun terakhir ini saya baru mengerti bahwa Lagu Untuk Sebuah Nama adalah lagu yang realistis. Inilah lagu cinta yang terbaik menurut versi saya. Ini bukanlah pengalaman pribadi, tapi saya lagu yang saya pahami lewat liriknya. Bahwa cinta tak harus bertemu, sekalipun hanya lewat bayangannya.

http://www.youtube.com/watch?v=GRuMZcLQWO8.html

Lagu Untuk Sebuah Nama

Mengapa jiwaku mesti bergetar 
 Sedang musikpun manis kudengar 
 Mungkin karena kulihat lagi 
 Lentik bulu matamu 
 Bibirmu dan rambutmu yang kau biarkan 
 Jatuh berderai di keningmu 
 Makin mengajakku terpana 
 Kau goreskan gita cinta 
 
 Mengapa aku mesti duduk disini 
 Sedang kau tepat didepanku 
 Mestinya kau berdiri berjalan kedepanmu 
 Kusapa dan kunikmati wajahmu 
 Atau kuisyaratkan cinta 
 Tapi semua tak kulakukan 
 Kata orang cinta mesti berkorban 
 
 Mengapa dadaku mesti bergoncang 
 Bila kusebutkan namamu 
 Sedang kau diciptakan bukanlah untukku 
 Itu pasti tapi aku tak mau perduli 
 Sebab cinta bukan mesti bersatu 
 Biar kucumbui bayanganmu 
 Dan kusandarkan harapanku 

Media Tanpa Tuan

Tulisan diatas saya kutip dari buku “Cerita Di Balik Dapur Tempo- 40 tahun (1971 – 2011). Sebuah tulisan diakhir sebuah paragraf. Tapi maknanya begitu mendalam. Penuduh maupun tertuduh semua diberi kesempatan untuk mengatakan sesuai dengan fakta yang dialaminya. Pembaca diberi keleluasaan untuk menjadi hakim. Pembaca yang bijak ia tidak serta merta menerima berita yang dibaca. Ia akan melakukan cross cek dengan sumber lain.

Tempo, mengklaim dirinya sebagai media tak bertuan. Sampai sekarang, seperti yang sekarang kita lihat, tempo tetap konsisten. Independen. Justru tanpa tuanlah, Tempo dengan leluasa menulis apa adanya. Baik perorangan maupun kelembagaan, baik swasta maupun pemerintah, Tempo memiliki kewajiban memberitahukan kepada orang lain lewat jurnalistik. Apalagi, Tempo telah mengalami hidup dalam masa orde baru. Masa dimana kekuasaan amat absolut. Ujudnya tidak terlihat mata tapi mematikan.

Kata independen, menurut saya, lebih banyak digunakan pada nuansa politik. Atau bidang apa saja namun dipolitikan. Politik bisa menjalar sampai seluruh sendi kehidupan, termasuk bermain dalam wilayah yang paling asasi sekalipun, yaitu agama. Karena politik adalah seksi, begitu menggoda.

Jadi adakah media, baik elektronik maupun bukan, yang dapat berdiri tanpa kekuatan kepentingan kelompok dan golongan tertentu? Jawabnya tentu saja saya kembalikan kepada pembaca. Sebab bisa jadi, pembaca memiliki media, dan itu resmi, yang beredar dalam komunitas tertentu.

Ada harapan media elektronik khususnya radio, yang secara rutin mewartakan berita aktual seputar politik dan ekonomi lengkap dengan analisanya yang benar-benar ditengah, tanpa memihak. Mereka berani mengambil nara sumber yang kredibel, yang bisa dipertanggung jawabkan. Mumpuni, berbicara diatas fakta dan data. Namun keberadaan radio masih terbatas dalam radius gelombang. Masih kedaerahan.

Semula detik.com bisa juga kita anggap sebuah impian. Tapi sekarang detik sudah bertuan. Bahkan media internet ini telah dikawinkan dengan televisi. Jadilah wajah yang glamour. Disana sini telah dipoles seperti siap bertarung dalam ajang festival. Detik masih berbaju berita dengan mengandalkan kecepatan, namun minim analisa.

Metro TV adalah salah satu asa, yang digadang-gadang untuk menjadi salah satu sumber yang bisa dipercaya, dalam membagi informasi. Namun akhirnya gugur juga, setelah pemiliknya memproklamirkan partai politik “Nasdem”. Dulu, Nasional Demokratik berikhtiar hanya sebagai organisasi sosial. Namun setelah bergoyang dengan si seksi, jatuhlah dalam pelukan partai.

Bagaimana cara bersikap, andaikata kita menemui sebuah berita yang datang dari berbagai jenis media yang mengusung misinya masing-masing? Perbanyak membaca pembanding. Sekalipun berita dan muatannya sama, namun bila diimbangi dengan membaca dari sumber lain, minimal banyak referensi yang masuk ke otak kita. Bila informasi sudah masuk tinggal  giliran otak yang bekerja, sampai menuju kesimpulan.

Lakukan silang pendapat. Aroma dan rasa minuman dalam kemasan botol, memiliki takaran yang hampir sama. Volume, komposisi pemanis, dan ragam rempah-rempah yang menyertainya. Bila dihidangkan kepada 5 orang, dapat dipastikan bahwa minuman itu mempunyai 5 rasa. Karena setiap orang memiliki kadar rasa yang berbeda-beda.

Analoginya sama dengan berita. Rencana kenaikan harga BBM yang tertunda, punya interpretasi yang berbeda. Tergantung dari penerima berita dan tafsirannya. Dari obrolan itulah kita bisa mengambil hikmah sampai menuju kesimpulan.

Konsultasikan dengan buku bacaan. Sewaktu sekolah atau kuliah pasti kita punya buku bacaan atau paling tidak catatan. Buku dan catatan itu adalah sebuah ilmu yang dibangun dari beberapa informasi/pengalaman yang secara terus menerus dan cenderung tetap. Proses seleksi alam, mengatakan bahwa yang terkuat adalah yang paling unggul. Teori ini dapat kita gunakan dalam segala cuaca. Manusia bila ingin eksis, maka harus mengalahkan segala rintangan.

Berita, bila ingin selalu dibaca oleh orang lain maka harus melewati seleksi alam. Pada masa sekarang, seleksi alam bisa dikatagorikan sebagai manajemen. Semakin baik manajemennya, maka semakin baik pula pengelolaan berita. Baik dalam arti kualitas berita. Berita itu ditopang oleh sumber daya manusia, sumber financial, jaringan dll.

Mengangkat Potensi Budaya Daerah

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Makna menghormati sekarang telah berkembang. Pahlawan bukan saja orang yang pandai memanggul senjata untuk mempertahankan Negara, namun pahlawan bisa juga berarti orang yang mengharumkan Negara di kancah pergaulan tata dunia. Olahragawan, budayawan, tekhnokrat merupakan sebagian orang yang disebut pahlawan.

Hasil budaya Indonesia yang demikian beragam ini, sekarang baru sebagian dalam tahap perjuangan untuk memperoleh pengakuan dunia. Batik adalah salah satunya. Angklung masih berjibaku untuk mendapatkan mendapatkan pengakuan. Unesco saat ini sedang menggodog keberadaan Bahasa Jawa sebagai salah satu warisan dunia. Bahasa Jawa akan bersanding dengan bahasa lain untuk menempatkan diri dan sejajar dengan bahasa lain yang telah diakui masyarakat Internasional.

Batik, Angklung, Bahasa Jawa dan hasil kreasi nenek moyang kita, akan tetap teronggok dan musnah manakala tidak ada yang melestarikan sekaligus mengembangka. Sangat strategis bila pelestarian kebudayaan ini dimulai dari institusi pemerintah. Penyelenggara Negara mempunyai kewajiban untuk merawat tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Harapannya, agar kelak tidak akan bernasib seperti suku inca yang hanya meninggalkan benda belaka. Bahasa, seni kreasi lain hilang.

Yogyakarta sebagai salah satu sentral budaya nusantara, lewat Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menetapkan bahwa tahun pelajaran 2012/2013 seluruh sekolah yang ada di Kota Yogyakarta harus menerapkan kurikulum Daerah. Dimulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga usia sekolah menengah. Ada empat mata pelajaran yang akan dimasukkan sebagai muatan lokal, yaitu : Seni Tari Gaya Yogyakarta, Seni Karawitan Gaya Yogyakarta, Seni Batik dan Seni Kerajinan Perak.

Keempat muatan lokal itu akan melihat situasi dan kondisi sekolah. Bagi yang telah mampu, bisa menerapkan keempat seni tradisi itu. Namun tiap sekolah minimal harus memilih satu diantara 4 muatan lokal. Setiap siswa wajib mengikuti satu macam. Lebih jauh Edy Heri Suasana selaku Kepala Dinas, memastikan akan membantu secara finansial untuk mendukung penerapan kurikulum berbasis daerah.

Aturan ini sebenarnya sudah empat tahun yang lalu terbitkan dalam bentuk surat keputusan. Namun baru tahun ini, surat keputusan bisa diujudkan dengan teknis pelaksanaan.

Seperti halnya Bahasa Jawa. Anak yang berasal dari luar jawa biasanya akan mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran Bahasa Jawa. Tapi bukankah anak yang memilih sekolah di Yogyakarta sudah siap mengambil resiko untuk mengikuti semua pelajaran? Demikian juga daerah yang lain. Daerah lainpun menerapkan kurikulum berbasis daerah. Sangat banyak potensi daerah yang perlu kita angkat budayanya, sehingga generasi sekarang dan akan datang turut serta merasa memiliki.

Apresiasi Sastra

Setiap orang memiliki tingkat pemahaman terhadap sastra yang berbeda-beda. Hal ini dapat diketahui bila ada pameran buku atau kajian sastra. Di pameran buku tampak jelas. Bila seseorang membaca referensi buku, maka ia begitu lama tidak beranjak dari tempat itu. Ia dengan takzim memilih buku yang memiliki karya sastra yang berbobot. Dipihak lain, ada orang yang melihat buku hanya sepintas saja, itu pun buku-buku yang memiliki karya sastra yang ringan.

Seorang penggemar sastra akan memilih buku yang sesuai bobot penulis. Seolah-olah Ia telah memiliki ikatan batin dengan pengarang, atau mempunyai kesamaan cara pandang. Sebagai contoh, buku yang bercerita tentang “Syaikh Siti Jenar”. Ada banyak ragam versi yang dapat kita temukan. Ada penulis yang berlatar belakang sejarawan, ada yang memiliki disiplin pendidikan, ada pula seorang filosof. Seorang pembaca akan memilih buku yang sesuai dengan keinginannya. Meskipun secara substansi isi bukunya sama namun cara pendekatan penulisannya berbeda.

Dari beragam aliran tulisan itulah yang menyebabkan pembaca memiliki apresiasi sastra yang berbeda. Dari berbagai ragam karya sastra, ada karya sastra yang memiliki nilai kualitas yang tinggi. Tidak semua orang mampu memahami karya itu. Diperlukan ilmu dasar untuk dapat menyerap kandungan nilai satra tersebut.

Menurut saya, ada 3 macam penyebab yang dapat menimbulkan perbedaan persepsi tentang nilai sastra :

Lingkungan

Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam membentuk pemahaman tentang karya sastra. Keluarga yang telah terkondisi dengan tradisi membaca, memiliki kontribusi yang besar bagi anggota keluarga itu dalam memahami sastra. Masyarakat yang selalu menghidupkan karya sastra lewat permainan anak (dolanan), nyanyian yang dipadukan dengan alat musik tradisional, peristiwa ritual, juga mendukung seseorang dalam memahami karya sastra.

Pengetahuan

Sekolah, kuliah, kursus atau sejenisnya adalah ladang untuk memahami pengetahuan. Pengetahuan merupakan jembatan untuk memahami karya sastra. Ada sedikit jaminan, bahwa semakin tinggi seseorang memperoleh ilmu, semakin tinggi pula tingkat pemahaman terhadap karya sastra. Namun tidak semua orang yang berpengetahuan mencintai karya sastra. Baginya, pengetahuan hanya diibaratkan sebuah kendaraan untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengalaman

Pengalaman adalah guru yang baik. Melihat lebih baik dari mendengar. Mempraktekkan jauh lebih baik dari pada melihat. Ada rasa keasyikan tersendiri bila membaca cerpen dari seorang cerpenis kegemarannya. Ada suasana melayang saat mencoba menyerap kata dalam puisi.

Tapi, membuat cerpen lebih asyik bila hanya sekedar membaca. Mengungkap perasaan dengan cara menulis puisi jauh lebih mengena. Membuat cerpen, menulis puisi atau sejenisnya, adalah sebuah pengalaman. Dengan begitu Ia akan mengetahui seberapa tingkat karya sastra. Ia juga secara langsung akan menghargai sebuah karya sastra.

1 29 30 31 32