Melawan Teknologi dengan Budaya

Duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.
Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.
Samsung yang jadi andalan Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dengan produk Jepang yang sudah lama berkibar. Apalagi Sony termehek-mehek dalam indutri film, telah menyedot yen yang menjadi undi-pundi perusahaan induk Sony di Jepang.
Samsung memang bukan hanya bergerak dalam industry rumah tangga. Bahkan teknologi Informasi, telah mampu ditunggangi dalam pacuan persiangan industry computer. Namun apakah benar elektronika telah benar-benar gulung tikar di Jepang? Tentu tidak. Di wilayah elektronika boleh mengalami penurunan. Namun tidak untuk daerah industri otomotif.
Jepang mungkin tidak khawatir dengan mencuatnya industri korea. Namun yang perlu diwaspadai adalah tumbuhnya budaya korea yang sedang digandrungi oleh kalangan muda terutama dikawasan asean. K-pop atau Korean Pop adalah sejenis musik yang sangat popular berasal dari Korsel. Karena di kalangan remajalah yang membeli barang-barang dari hasil roses penciptaan budaya. Siapa lagi kalau bukan Korsel. Disini Jepang agak terseok-seok.
Sudah banyak artis yang berasal dari Negara gingseng ini menembus blatika music dunia. saja Super Junior, yang setiap kali tampil mampu mengundang histeris gadis remaja. SNSD yang kepanjangan dari So Nyeo Shi Dae, kumpulan cewek seksi yang meliuk-liuk sambil bernyanyi mampu menginspirasi Negara tetangga membentuk girl band, termasuk Indonesia. Suju dan SNSD merupakan salah dua yang jadi ikon dan sekaligus andalan korea untuk memperkenalkan generasi muda mereka.
Masih ingat tarian kuda jingkrang? Saya bantu lagi ingatannya, masih ingat Gangnam Style? Yaaa…. Betul. Tarian rap kuda-kuda dipopulerkan oleh artis korea selatan bernama Park Jae Sang alias Psy. Tarian ini amat sederhana, sehingga siapapun mampu memainkannya. Musik apapun bisa masuk untuk dimainkan. Dari anak kecil hingga orang dewasa. Caranya amat mudah dan saat menarikan terlihat ceria.
Inilah yang dikhawatirkan negeri sakura. Ternyata memang benar bahwa hukum perang “tak mengenal belas kasihan”. Yang ada cuma bagaimana memenangkan pertarungan. Tentara tidak harus dilawan dengan tentara. Teknologi tak harus dihadapkan dengan teknologi. Ekonomi bisa saja dikompetisikan dengan budaya, meskipun ujung-ujungnya tetap ekonomi. Kreatifitas dalam mengelola sumber alam dan sumber manusia dipercaya akan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk ketahanan Negara.
Share

Belajar dari Prof. Kusminarto

Ada pencerahan yang dapat memancar dari Dr. Kusminarto. Dosen MIPA UGM ini tampak sederhana dalam berbusana, santun dalam berbicara, namun dalam ilmu yang ditimbun. Beruntung orang yang dekat dengan beliau. Kerindangan ilmu akan menginspirasi dalam gerak langkahmu. Ilmu fisika yang dikuasai dapat diterapkan dalam bidang lainnya. Semula, ilmu fisika itu susah, sulit, ternyata dapat ditaklukkan hingga menjadi sahabat.
Ada 3 contoh penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Pertama jalan menikung. Supaya diperhatikan, jalan menikung ini bukan novel karya umar kayam. Tapi jalan yang biasa tiap hari kita lewati. Ada apa dengan jalan menikung? Banuak terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan menikung. Apakah kurang trampilnya pengendara? Apa karen mgebut di jalan menikung? Atau disitu kebetulan ada yang menunggu. Makhlauk astral.
Dalam kajian fisika, jalan menikung ada hubungan yang erat dengan gaya sentrifugal. Gaya ini oleh pengendara atau penumpang dirasakan sebagai lemparan atau dorongan ke arah luar lengkungan. Rumusnya sederhana. Semakin cepat kendaraan meluncur pada tikungan, maka semakin besar pula masa yang tercerabut ke luar lengkungan. Agar stabil, maka harus ada keseimbangan antara massa benda, laju dan jejari lingkaran.
Supaya selamat saat mengendarai kendaraan di tikungan, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu : konstruksi jalan harus dibuat miring. Pembuat jalan harus tahu benar formula untuk membuat jalan di tikungan. Bila jalan itu untuk laju kendaraan dengan kecepatan rata-rata 60 km per jam, maka kemiringan jalan harus dibuat kira-kira 29,5 derajad.
Kedua, Stroke. Penyakit yang dihindari oleh setiap manusia, tapi penyebab stroke selalu menjadi kawan karib. Stroke, kata dokter disebabkan oleh pola makan penderita. Karena terkait erat dengan tekanan darah dan kerja jantung. Penyebab stroke karena pembuluh darah otak yang pecah sebagai akibat dari tekaman darah yang tinggi. Biang keladinya adalah penyempitan pada pembuluh darahkarena pengedapan kolesterol di dinding pembuluh darah.
Apa peran fisika dalam kaitannya dengan stroke? Mengapa fisika tiba-tiba muncul dan ingin betbagi peran yang seharusnya ilmu kedokteran sebagai aktor utamanya. Dalam fisika dikenal dengan hukum Poiseulle. Hukum ini bekerja atas dasar hubungan antara debit air, (yaitu volume air mengalir tiap detik), kekentalan caiaran, panjang saluran, radius dan beda tekanan pada ujung-ujung saluran. Cara kerja rumus ini, agar tekanan turun maka pembuluh darah harus dilebarkan, atau darah dicairkan. Semula darahnya pekat, dibuat agar lebih cair. Agar pembuluh darah bebas hambatan dalam mengirim darah, maka pembuluh dijaga supaya tidak ada penebalan dinding pembuluh.
Ketiga Berat Badan. Siapa yang tidak ingin berbadan langsing? Atau ideal? Ada rumus yangbelum terbantahkan. Semakin meningkat pendapatan seseorang, akan berbanding searah dengan peningkatan berat badan. Kelebihan makan, lebih tepatnya kelebihan gizi hampir dirasakan oleh orang yang sudah berkecukupan. Apalagi golongan kelas menengah di Indonesia semakin melimpah. Apa ada suatu keharusan kalau makanan berlimpah diimbangi dengan badan yang subur? Untuk menuju Indonesia sehat tentu saja tidak.
Bergeraklah agar kalori terbakar. Energi yang diperlukan untuk bergerak sebesar 350 kalori sehari. Energi itu cukup untuk membakar tubuh seberat 13 – 18 kg setiap tahunnya. Hukum I Newton mengatakan bahwa pada dasarnya setiap benda memiliki sifat kelembaman, yaitu sifat memepertahankan keadaan geraknya. Untuk bisa bergerak diperlukan usaha atau energi. Semakin berat suatu benda, maka energi yang diperlukan semakin besar. Orang gemuk memerlukan energi yang banyak dibanding dengan orang kurus meskipun hanya untuk berjalan di sebuah lorong.
Menurut teori aktifitas, semakin gemuk semakin malas. Asas ini bermula dari “jika kegemukan itu sebagai penyebab malas beraktifitas bukan sebaliknya”. Tapi teori ini tidak berlaku umum. Banyak orang yang berbadan gemuk tapi aktif bergerak. Sebaliknya tidak sedikit orang kurus malas bekerja. Namun kalau yanh sudah terlanjur gemuk disarankan untuk melakukan diet. Bukan olah raga. Karena diet lebih efektif. Bayangkan, untuk menurunkan berat badan 4,54 kg. Untuk membakar kalori sebesar itu dengan cara bersepeda, ditempuh dalam waktu 35 jam, tanpa henti tanpa istirahat, tanpa minum dan makan.

Tahu (sedikit) Android

Beruntung saya terdampar di pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Android. Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja bareng dengan APEC Learning Community Builders berlangsung di Wisma Eden 2 Kaliurang Sleman. Pesertanya tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang senada. Disetiap kesempatan Jaringan Informasi Sekolah (JIS) selalu menjadi pelopor dalam setiap pemberdayaan manajemen informasi khususnya dalam bidang pendidikan.
Mengapa tidak sejak dulu, android dapat dijadikan basis untuk media pembelajaran. Padahal android sudah sementara waktu berkibar dalam teknologi informasi (TI). Karena memang kesmpatan baru kali ini. Dapat dipastikan para penggiat TI sibuk dengan pekerjaan di kantornya masing-masing.
Pelatihan kali ini diberi mantra Diseminasi. Mengapa bukan pelatihan yang biasa diapakai? Deseminasi menurut idYahoo adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Definisi ini memang lebih menitik beratkan pada motivasi. Bukan asal tunjuk dari atasan ke bawahan. Diperkirakan, Dinas Pendidikan Propinsi DIY belum berani menyelenggarakan pelatihan secara masal. Perlu ada kelompok tertentu yang harus eksis dalam pembelajaran berbasis android.
Tak pelak, android yang telah menggilas Symbian, saat ini merajalela di jagad maya. Penggunaan android di Indonesia menjadi kampium. Meski ada beberapa orang yang fanatic dengan Symbian. Karena dalam keadaan tertentu Symbian memang lebih tangguh. Namun android sangat bersahabat dengan pencipta aplikasi. Mengetahui dengan tepat pengguna android, aplikasi berbasis android terus menerjang bak badai agar user tidak berpaling dari yang lain. Machintos sekalipun.
Saya memang baru memakai android belum lama. Anehnya lagi, saya cuma pengguna pasif dari aplikasi yang telah tersedia. Belum sedikitpun muncul gagasan untuk membuat aplikasi. Sementara orang lain telah berkarib dengan android. Bahkan, sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, orang telah digiring dengan android. Seakan menjadi seorang buta dalam berjalan, tongkatnya ibarat android.
Beberapa waktu yang lalu saya telah up grade blog ini dari wordpress versi 3.xx menjadi versi 4. Versi terakhir yang telah kompatibel dengan android. Hasilnya lumayan. Browshing blog dari manapaun, kapanpun. Demikian pula saat posting. Tidak harus menunggu saat di rumah atau kantor. Keuntungannya, inspirasi tidak hilang. Jikalau memakai PC atau laptop atau netbook, inspirasi banyak yang hilang diterpa angin.
Jaman selalu berubah. Tidak ada yang abadi. Yang abadi hanya perubahan. Hari ini atau esok lusa pasti akan menemui teknologi informasi via android. Sayapun percaya, suatu saat android akan tergantika dengan yang lebih canggih. Jadi, mengapa harus menunggu esok hari, bila sekarang punya kesempatan untuk bisa.

Culture Shock

Istilah culture shock marak tetjadi pada tahun 90 an. Ditandai dengan booming teknologi komputer dan disusul teknologi informasi. Penemuan internet menambah terperangahnya manusia yang gagal paham komputer. Orang dibuat tercengang.
Betapa mudahnya pekerjaan dibantu dan digantikan dengan sistem komputerisasi. Sistim manual ýang butuh tenaga manusia menjadi lebih tak berarti dengan kehadiran komputer. Hitungannya bukanlah deret hitung melainkan deret ukur. Kemampuannya berlipat ganda. Jangan heran bila banyak orang yang hidup terasing.
Orang yang tidak mau tahu perihal teknologi komunikasi bukan saja dia telah mengasingkan diri dari budaya, tetapi berani bunuh diri dari keterasingan sosial. Karena teknologi adalah anugerah. Sesuatu yang wajib disyukuri, dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Dalam bahasa agama sering disebut barakah. Orang yang tidak menerima barakah, padahal sudah tampak nyata didepan mata diberi predikat kufur.
Culture shock atau gagap budaya kekinian bukanlah berlangsung seketika. Bukan kondisi kaget seketika, namun akan mengalami heran terus menerus. Berkelanjutan setiap saat. Karena modern akan berlangsung setiap saat. Akhirnya hanya akan menjadi penonton. Masih lumayan penonton yang aktif. Gagap budaya seperti penonton yang kalah dan terpinggirkan.
Masih hangat demo sopir taksi konvensional yang tidak menerima kehadiran on line. Pengojek lawas vis  a vis gojek. Itu semua karena berawal dari gagal menerima modernitas informasi. Teknologi ini akan terus berkembang seiring dengan laju perkembangan jaman. Jasi memang benar kata Reinald Kasali, bahwa mau tidak mau harus bersahabat dengan kemajuan jaman.

Sore di Santosa

Berliku-liku mengikuti alur MRT (mass rapid transit) di Singapura. Harus pandai membaca denah. Jarang sekali orang bertanya kepada orang lain saat kebingungan mencari arah tujuan. Jangankan bertanya. Orang sudah asyik dengan dunianya sendiri. Tak banyak cakap antar orang  meski berdampingan. Ditunjang dengan teknologi gadget. Lengkap sudah kesendirian.
Jadi mesti cermat membaca denah. Harus jeli terhadap setiap informasi yang ditempel hampir semua dinding. Baca dengan takzim arus lalu lintas.  Namun agar tidak sesat bermukalah yang bebal supaya tak terjerumus di belantara metropolitan.
Sebagaimana turis udik, yang pertama dituju pasti singa muntah atau Marlion Park. Wisatawan belum sah jikalau belum selfi dengan berlatar belakang  singa. Kawasan yang wajib dikunjungi diseputaran Fullerion road atau lebih gampangnya Marina Bay.
Setelah puas betendam diri dibawah terikan  matahari, tiba saatnya menuju kawasan Sentosa. Kali ini moda yang digunakan bis kota. Menyusuri jalanan yang kuanggap sepi untuk ukuran sebuah kota metropolitan. Kawasannya bersih. Pengguna jalan rayanya sesuai dengan porsi masing-masing dengan menempatkan pejalan kaki bak raja. Sesekali kupandang bahwa Singapura memang selalu berubah tapi tidak memperkosa lingkungan hidup. Justru alam dimuliakan. Pohon dibikin serindang mungkin. Rumput menghampar menghijaukan bumi. Sampah tak dibiarkan tergolek bukan pada tempatnya.
Santosa ibarat kota dalam kota. Mempercantik diri bersolek bak bidadari yang menunggu pinangan pangeran. Arena betmain namun tak sekedar main-main. Didalamnya ada konsep keterpaduan antara alam dan lingkungan. Arena bermain tapi sekaligus belajar. Sehingga ada keteraturan dengan tidak saling sikut, injak. Harmoni yang didendangkan membuat kerasan hidup di dalamnya.
Kalau arena hiburan bolehkah Trans Studio Bandung atau Makassar bisa bersaing. Sehingga saya tidak begitu kaget dengan aneka ragam permainan dan souvenir yang mahal. Disatu sisi Trans Studio boleh bangga karena kulinernya lebih komplit. Kalau lainnya saya boleh bilang sama saja. Karena filosofi modern bisa betangkat bersama-sama bila ada investor. Tinggal bagaimana cara mengemas sehingga orang lain merasa tertarik dan terhibur, sebagaimana anjungan di sebuah pantai. Tidak sekedar modern, tapi kreatifitas manusia unggul. Sebuah pertujukan sinar laser yang dikemas dalam bentuk seni, betkolaborasi dengan kecanggihan seni animasi. Bagaimana sebuah seni pertujukan layaknya bioskop tapi medianya adalah air. Air bisa dibuat apa saja karena telah dipadukan dengan sinar laser.
Santosa belum akan betakhir dalam mewujudkan diri. Ia terus bergulir. Ia terus berbenah diri sebagai sebuah konsep kota dalam kota tapi lebih menonjolkan dalam wisata.

Jangan Meremehkan Melukis

Pada saat saya menyampaikan materi melukis, saya memang mengharuskan kepada siswa untuk membawa perlengkapan melukis. Jangka, penggaris, busur dll. Bukan materi kesenian, namun lebih tepatnya adalah bagian dari pelajaran geometri. Pelajaran yang disukai anak-anak, karena tidak perlu berdekatan dengan rumus hitungan, tidak perlu berpusing-pusing dengan hitungan, tambah, kurang, kali, bagi apalagi kalau ketemu pecahan. Ampun…..

Melukis disini bukan sembarang ekspresi seni, namun ketelitian dalam menggunakan alat. Sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku, dan tentu saja berkaitan langsung dengan mengukur.

Sebagaimana kalau kita bekerja, semakin lengkap alat yang tersedia, semakin lancar dalam menyelesaiakan tugas. Demikian juga dengan melukis. Semakin lengkap alat yang digunakan maka semakin valid ukuran gambar.

Menggambar garis bagi pada sudut tertentu akan lebih enak bila telah tersedia busur. Namun manakala busur sedang tidak ada, maka jangka menjadi solusinya.

Materi yang saya sajikan hanya menggunakan jangka dan penggaris. Busur saya fungsikan sebagai alat uji.

Alat memang tidak perlu mahal. Beberapa siswa membawa alat untuk melukis termasuk mahal, tapi tidak praktis penggunaannya. Justru yang saya sarankan adalah alat yang bisa digunakan dengan leluasa dan validitas ukurannya tinggi.

Jangka

Jangka memiliki bagian yaitu kepala, baut dan telapak jangka. Agar jangka bias digunakan dengan nyaman, maka ada criteria yang harus diperhatikan. Kepala jangka tidak licin agar nyaman bila diputar. Jangan memutar menggunakan kaki jangka. Bila kaki jangka yang dipegang, maka tubuh akan ikut berputar sejauh lingkaran yang dilukis. Bisa-bisa menggangu rekan yang duduk disamping.

Baut diusahakan tidak terlalu keras atau lunak. Ini untuk menghindari terpeleset bila kaki jangka harus dilebarkan atau disempitkan. Kalau terlalu lunak, akan berpengaruh terhadap lukisan lingkaran atau lukisan busur lingkaran. Yang dimaksud dengan telapak jangka adalah ujung jarum dan ujung pensil. Jangka yang baik bila ujung jarum dan ujung pensil ditegakkan, maka kaki jangka akan membentuk sama kaki. Atau lebih mudahnya membentuk segitiga sama kaki. Kaki tidak lebih tinggi atau rendah satu sama lain.

Busur.

Walaupun sebagai alat uji, namun busur akan menentukan besarnya sudut, Berbeda setengah sudut saja akan berpengaruh terhadap bentuk gambar. Busur yang baik adalah memiliki garis horizontal (sebagai tanda garis lurus 180 derajad) dan garis vertical (sebagai tanda tegak lurus 90 derajad). Garis tersebut bertemu disebuah titik. Nah…. titik itulah sebagai pangkal untuk meletakkan titik sudut.

Jangan salah baca. Busur yang sering kita jumpai ada dua macam angka mulai dari 0 sampai 180. Satu tertera di dalam dan satunya lagi di luar. Masing-masing memiliki fungsi yang sama namun berbeda dalam memberi tanda. Caranya dalam setiap mengukur sudut mulailah dari angka 0. Angka nol bisa yang ada didalam maupun diluar. Hati-hati dalam menentukan besarnya sudut.

Ingin Pintar

Sejak nol tahun hingga menjelang pernikahan, peranan orangtua sangat dominan. Disamping mencukupi kebutuhan pertumbuhan jasmani, orangtua juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak. Orangtua akan selalu mendampingi keinginan anak, memberi motivasi dalam mencapai citi-cita anak. Tak sedikit ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai segala keperluan anak.

Guru yang sebenarnya adalah orangtua. Dia menjadi panutan, pendamping dan sekaligus motivator bagi anak-anaknya. Orangtua menjadi tempat bertanya dalam segala hal kehidupan,  ia juga sebagai tempat bersandar manakala anak-anak menemui kegalauan. Orangtua juga menjadi inspirator, terkait dengan masa depan, Yang ada dalam benak seorang anak dalam merengkuh kehidupan, orangtua menjadi salah satu referensi  utama.

Tidak sedikit, orangtua yang memberi wejangan kepada kita tentang kehidupan kelak dikemudian hari. Kita takzim mendengarkan tutur kata beliau. Untaian kata-katanya seolah menjadi bara untuk mengobarkan semangat. Ia hanya mengatakan “besok kalau sudah jadi orang, jadilah orang yang berguna bagi orang lain” hanya itu saja. sederhana sekali. Namun maknanya sangat mendalam.

Berguna bagi orang lain” ternyata dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas serta ketrampilan yang mumpuni. Untuk memberi kebutuhan papan bagi orang lain, dituntut menjadi seorang yang ahli membuat bangunan rumah. Menghadapi krisis pangan yang terjadi di masyarakat, kita diberi beban untuk mengembangkan rekayasa genetika pangan.

Karena demikian sentralnya peran yang disandang oleh orangtua, maka tugas pendidik yang utama adalah orangtua. Bila peran ini diganti oleh orang lain maka akan merusak tatanan kehidupan sosial. Ada ketidakseimbangan antara kebutuhan psikologis seseorang dengan kehidupan bermasyarakat. Cermin tatanan keluarga akan memantulkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Membentuk keluarga yang diidamkan menjadi dambaan manusia. Keluarga yang tenteram tidak datang seketika, Perjalanan kehidupan tidak dengan jalan yang lurus. Godaan yang ditemui datang silih berganti. Sangat disayangkan apabila nilai-nilai yang telah dipahami dan dianut oleh keluarga akan ditukar dengan nilai-nilai yang dibawa oleh orang lain, yang tidak memiliki sendi-sendi kemanusiaan. Semakin tercerabutlah fungsi keluarga yang hakiki. Keharmonisan akan luntur, kesejukan akan lebur.

Perkembangan ilmu dan ketrampilan, tiap saat mengalami perubahan. Bahkan bisa jadi melampaui batasan waktu.  Perkembangan ini akan sangat berpengaruh dalam budaya yang telah disepakati dalam masyarakat. Orang dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan iptek.

Untuk mendapatkan ketrampilan, seseorang harus belajar dengan orang lain yang lebih mumpuni dalam bidangnya. Oleh karena itu, masyarakat kemudian membuat sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk menguasai dan mengembangkan ilmu dan ketrampilan. Dari segi teknis semacam ini, orangtua dapat menyerahkan anak kepada orang lain, agar supaya memiliki ilmu dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

1 29 30 31 32 33