Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yanh digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Manajemen Kurikulum (2)

Tujuan pendidikan nasional seeperti yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak, serta ketrampilan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan meliputi :
1. Demokratis dan berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
2. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dalam rangka pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat
3. Memberikan keteladanan dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik
4. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
5. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
Secara hirarkis tujuan pendidikan ada empat macam :
1. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang tertinggi di suatu Negara. Tujuan ini sangat umum dan kualitatif serta sangat ideal. Tujuan ini harus memperhatikan falsafah Negara (Pancasila), TAP MPR dalam GBHN.
2. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu unit atau lembaga tertentu. Tujuan ini mencerminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui suatu lembaga pendidikan tertentu
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai setelah siswa mempelajari bidang studi atau mata pelajaran atau sejumlah isi pengajaran. Tujuan ini tentu saja harus menggambarkan tujuan istitusional.
4. Tujuan instruksional
Tujuan istruksional adalah tujuan yang ingin dicapai siswa dalam mempelajari suatu pokok bahasan tertentu. Tujuan ini harus dirumuskan dalam setiap terjadinya proses belajar mengajar.
Isi atau bahan ajar
Setelah tujuan pendidikan dirumuskan langkah selanjutnya adalah mengembangkan bahan kurikulum. Pengembangan bahan-bahan kurikulum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Relevan dengan lingkungan siswa, perkembangan iptek, dunia kerja, kehidupan masa kini dan yang akan datang
Efektif, sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut
Efisien, di mana tujuan dapat dicapai dengan bahan seminimal mungkin
Kontinuitas, dalam arti berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
Fleksibilitas, dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.
Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar merupakan kelanjutan dari penyusunan sekuensi bahan ajar. Setiap bahan pengajaran menuntut strategi tertentu. Bahan pelajaran serlebih dahulu dianalisa, dengan metode yang sesuai. Pada kurikulum 2013, seorang guru dituntut untuk merancang proses belajar mengajar sejak dari rencana pelajaran sampai dengan evaluasi. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Masing-masing materi pelajaran memiliki keunikan tersendiri, menggunakan metode tertentu.
Pandangan tradisional, startegi atau metode mengajar dianggap terpisah dari proses pengembangan kurikulum. Sekarang, seleksi strategi belajar mengajar menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum. Empat macam strategi belajar yang sering dilakukan dalam kegiatan belajar, yaitu : ekspositori, discovery atau inquiri, pendekatan konsep dan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di suatu kesempatan akan kami jabarkan strategi belajar tersebut.
Evaluasi Pengajaran
Setelah perumusan tujuan pendidikan, proses berikutnya menentukan bahan ajar dan startegi belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi adalah proses terakhir namun memiliki kandungan nilai yang sangat penting. Sebab dari kegiatan awal akan diketahui keunggulan dan kelemahannya. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana proses belajar mengajar telah sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi juga digunakan untuk umpan balik dan bermanfaat untuk bahan penyempurnaan. Proses mengevaluasi harus dilakukan secara terus menerus sejak dari rancangan sampai implementasinya.

Manajemen Kurikulum (1)

Manajemen kurikulum merupakan bagian dari manajemen pendidikan. Sebab, sangat mustahil manakala membicarakan kurikulum tanpa menyertakan pendidikan. Kalau harus diperas menjadi beberapa lingkup, memang manajemen kurikulum lebih kecil dan spesifik. Namun demikian bukan berarti bahwa yang lebih kecil untuk diabaikan. Bahkan dari beberapa segi, manajemen kurikulum memang sangat menentukan kebijakan pendidikan. Karena ruh kurikulum sejatinya bisa menjelma menjadi inti dari pendidikan.
Terdapat beberapa versi mengenai definisi manajemen yang diajukan oleh beberapa ahli. Perbedaan tersebut muncul karena factor sudut pandang dan latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh ahli-ahli tersebut. Namun substansinya tetap sama, yaitu bahwa manajemen berintikan : mengelola, mengurus, mengatur, mengendalikan, menangani menjalankan, melaksanakan. Sehingga secara sederhana, manajemen pendidikan adalah bagaimana mengatur atau mengelola bidang pendidikan.
Secara keilmuan, manajemen pendidikan terdiri dari dua unsur, yaitu material dan formal. Bidang material bahan yang menjadi tujuan yaitu pengetahuan. Sedang obyek formal meliputi pengaturan dalam pelaksanaan pendidikan.
Penyusunan kurikulum harus memperhatikan perubahan lingkungan pendidikan (baik internal maupun eksternal) yang demikian pesatnya. Sementara hasil kurikulum tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Keberhasilan kurikulum baru bisa diketahui setelah hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan. Dilema yang banyak dijumpai, adalah penyusunan kurikulum yang selalu berubah, sementara hasil belum bisa diketahui dengan pasti. Sehingga saat menuai hasil, terkadang kurikulum tidak sesuai lagi dengan saat ini. Oleh karena itu, dalam menysun kurikulum harus berlandaskan visi dan misi pendidikan.
Visi adalah jalan pikiran yang melampaui jalan pikiran. Cita-cita yang hendak diraih bisa dikatagorikan ideal. Sehingga cara meraihnya juga melebihi batas dari kemampuan. Menciptakan visi hendaknya yang belum pernah ada sebelumnya. Lembaga pendidikan yang akan melaksanakan visinya, maka lembaga pendidikan tersebut perlu menggambarkan kondisi yang akan diwujudkan di masa depan. Dari kondisi yang akan diwujudkan inilah sebenarnya kurikulum itu dirumuskan atau disusun.
Visi pendidikan nasional adalah “Terwujudnya pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah” Visi pendidikan yang dirumuskan oleh Depdiknas untuk tahun 2025 : “Insan Indonesia cerdas dan kompetitif”.
Misi adalah jalan pilihan suatu organisasi untuk menyediakan produk atau jasa bagi konsumennya. Perumusan misi bisa diibaratkan menyusun peta dalam suatu perjalanan tertentu. Rencana yang telah dirancang harus mengacu pada tujuan yang jelas melalui bagian demi bagian agar misi dapat dilaksanakan secara spesifik. Bila lembaga pendidikan telah melaksanakan misi sesuai dengan kebutuhan, maka dianggap bahwa lembaga pendidikan tersebut telah melaksanakan misi dengan baik.
Secara ringkas, misi pendidikan Indonesia dapat dirumuskan :
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan pendidikan
.
2. Membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak secara utuh
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang bermoral
.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan.
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan

Melawan Teknologi dengan Budaya

Duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.
Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.
Samsung yang jadi andalan Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dengan produk Jepang yang sudah lama berkibar. Apalagi Sony termehek-mehek dalam indutri film, telah menyedot yen yang menjadi undi-pundi perusahaan induk Sony di Jepang.
Samsung memang bukan hanya bergerak dalam industry rumah tangga. Bahkan teknologi Informasi, telah mampu ditunggangi dalam pacuan persiangan industry computer. Namun apakah benar elektronika telah benar-benar gulung tikar di Jepang? Tentu tidak. Di wilayah elektronika boleh mengalami penurunan. Namun tidak untuk daerah industri otomotif.
Jepang mungkin tidak khawatir dengan mencuatnya industri korea. Namun yang perlu diwaspadai adalah tumbuhnya budaya korea yang sedang digandrungi oleh kalangan muda terutama dikawasan asean. K-pop atau Korean Pop adalah sejenis musik yang sangat popular berasal dari Korsel. Karena di kalangan remajalah yang membeli barang-barang dari hasil roses penciptaan budaya. Siapa lagi kalau bukan Korsel. Disini Jepang agak terseok-seok.
Sudah banyak artis yang berasal dari Negara gingseng ini menembus blatika music dunia. saja Super Junior, yang setiap kali tampil mampu mengundang histeris gadis remaja. SNSD yang kepanjangan dari So Nyeo Shi Dae, kumpulan cewek seksi yang meliuk-liuk sambil bernyanyi mampu menginspirasi Negara tetangga membentuk girl band, termasuk Indonesia. Suju dan SNSD merupakan salah dua yang jadi ikon dan sekaligus andalan korea untuk memperkenalkan generasi muda mereka.
Masih ingat tarian kuda jingkrang? Saya bantu lagi ingatannya, masih ingat Gangnam Style? Yaaa…. Betul. Tarian rap kuda-kuda dipopulerkan oleh artis korea selatan bernama Park Jae Sang alias Psy. Tarian ini amat sederhana, sehingga siapapun mampu memainkannya. Musik apapun bisa masuk untuk dimainkan. Dari anak kecil hingga orang dewasa. Caranya amat mudah dan saat menarikan terlihat ceria.
Inilah yang dikhawatirkan negeri sakura. Ternyata memang benar bahwa hukum perang “tak mengenal belas kasihan”. Yang ada cuma bagaimana memenangkan pertarungan. Tentara tidak harus dilawan dengan tentara. Teknologi tak harus dihadapkan dengan teknologi. Ekonomi bisa saja dikompetisikan dengan budaya, meskipun ujung-ujungnya tetap ekonomi. Kreatifitas dalam mengelola sumber alam dan sumber manusia dipercaya akan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk ketahanan Negara.
Share

Belajar dari Prof. Kusminarto

Ada pencerahan yang dapat memancar dari Dr. Kusminarto. Dosen MIPA UGM ini tampak sederhana dalam berbusana, santun dalam berbicara, namun dalam ilmu yang ditimbun. Beruntung orang yang dekat dengan beliau. Kerindangan ilmu akan menginspirasi dalam gerak langkahmu. Ilmu fisika yang dikuasai dapat diterapkan dalam bidang lainnya. Semula, ilmu fisika itu susah, sulit, ternyata dapat ditaklukkan hingga menjadi sahabat.
Ada 3 contoh penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Pertama jalan menikung. Supaya diperhatikan, jalan menikung ini bukan novel karya umar kayam. Tapi jalan yang biasa tiap hari kita lewati. Ada apa dengan jalan menikung? Banuak terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan menikung. Apakah kurang trampilnya pengendara? Apa karen mgebut di jalan menikung? Atau disitu kebetulan ada yang menunggu. Makhlauk astral.
Dalam kajian fisika, jalan menikung ada hubungan yang erat dengan gaya sentrifugal. Gaya ini oleh pengendara atau penumpang dirasakan sebagai lemparan atau dorongan ke arah luar lengkungan. Rumusnya sederhana. Semakin cepat kendaraan meluncur pada tikungan, maka semakin besar pula masa yang tercerabut ke luar lengkungan. Agar stabil, maka harus ada keseimbangan antara massa benda, laju dan jejari lingkaran.
Supaya selamat saat mengendarai kendaraan di tikungan, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu : konstruksi jalan harus dibuat miring. Pembuat jalan harus tahu benar formula untuk membuat jalan di tikungan. Bila jalan itu untuk laju kendaraan dengan kecepatan rata-rata 60 km per jam, maka kemiringan jalan harus dibuat kira-kira 29,5 derajad.
Kedua, Stroke. Penyakit yang dihindari oleh setiap manusia, tapi penyebab stroke selalu menjadi kawan karib. Stroke, kata dokter disebabkan oleh pola makan penderita. Karena terkait erat dengan tekanan darah dan kerja jantung. Penyebab stroke karena pembuluh darah otak yang pecah sebagai akibat dari tekaman darah yang tinggi. Biang keladinya adalah penyempitan pada pembuluh darahkarena pengedapan kolesterol di dinding pembuluh darah.
Apa peran fisika dalam kaitannya dengan stroke? Mengapa fisika tiba-tiba muncul dan ingin betbagi peran yang seharusnya ilmu kedokteran sebagai aktor utamanya. Dalam fisika dikenal dengan hukum Poiseulle. Hukum ini bekerja atas dasar hubungan antara debit air, (yaitu volume air mengalir tiap detik), kekentalan caiaran, panjang saluran, radius dan beda tekanan pada ujung-ujung saluran. Cara kerja rumus ini, agar tekanan turun maka pembuluh darah harus dilebarkan, atau darah dicairkan. Semula darahnya pekat, dibuat agar lebih cair. Agar pembuluh darah bebas hambatan dalam mengirim darah, maka pembuluh dijaga supaya tidak ada penebalan dinding pembuluh.
Ketiga Berat Badan. Siapa yang tidak ingin berbadan langsing? Atau ideal? Ada rumus yangbelum terbantahkan. Semakin meningkat pendapatan seseorang, akan berbanding searah dengan peningkatan berat badan. Kelebihan makan, lebih tepatnya kelebihan gizi hampir dirasakan oleh orang yang sudah berkecukupan. Apalagi golongan kelas menengah di Indonesia semakin melimpah. Apa ada suatu keharusan kalau makanan berlimpah diimbangi dengan badan yang subur? Untuk menuju Indonesia sehat tentu saja tidak.
Bergeraklah agar kalori terbakar. Energi yang diperlukan untuk bergerak sebesar 350 kalori sehari. Energi itu cukup untuk membakar tubuh seberat 13 – 18 kg setiap tahunnya. Hukum I Newton mengatakan bahwa pada dasarnya setiap benda memiliki sifat kelembaman, yaitu sifat memepertahankan keadaan geraknya. Untuk bisa bergerak diperlukan usaha atau energi. Semakin berat suatu benda, maka energi yang diperlukan semakin besar. Orang gemuk memerlukan energi yang banyak dibanding dengan orang kurus meskipun hanya untuk berjalan di sebuah lorong.
Menurut teori aktifitas, semakin gemuk semakin malas. Asas ini bermula dari “jika kegemukan itu sebagai penyebab malas beraktifitas bukan sebaliknya”. Tapi teori ini tidak berlaku umum. Banyak orang yang berbadan gemuk tapi aktif bergerak. Sebaliknya tidak sedikit orang kurus malas bekerja. Namun kalau yanh sudah terlanjur gemuk disarankan untuk melakukan diet. Bukan olah raga. Karena diet lebih efektif. Bayangkan, untuk menurunkan berat badan 4,54 kg. Untuk membakar kalori sebesar itu dengan cara bersepeda, ditempuh dalam waktu 35 jam, tanpa henti tanpa istirahat, tanpa minum dan makan.

Tahu (sedikit) Android

Beruntung saya terdampar di pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Android. Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja bareng dengan APEC Learning Community Builders berlangsung di Wisma Eden 2 Kaliurang Sleman. Pesertanya tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang senada. Disetiap kesempatan Jaringan Informasi Sekolah (JIS) selalu menjadi pelopor dalam setiap pemberdayaan manajemen informasi khususnya dalam bidang pendidikan.
Mengapa tidak sejak dulu, android dapat dijadikan basis untuk media pembelajaran. Padahal android sudah sementara waktu berkibar dalam teknologi informasi (TI). Karena memang kesmpatan baru kali ini. Dapat dipastikan para penggiat TI sibuk dengan pekerjaan di kantornya masing-masing.
Pelatihan kali ini diberi mantra Diseminasi. Mengapa bukan pelatihan yang biasa diapakai? Deseminasi menurut idYahoo adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Definisi ini memang lebih menitik beratkan pada motivasi. Bukan asal tunjuk dari atasan ke bawahan. Diperkirakan, Dinas Pendidikan Propinsi DIY belum berani menyelenggarakan pelatihan secara masal. Perlu ada kelompok tertentu yang harus eksis dalam pembelajaran berbasis android.
Tak pelak, android yang telah menggilas Symbian, saat ini merajalela di jagad maya. Penggunaan android di Indonesia menjadi kampium. Meski ada beberapa orang yang fanatic dengan Symbian. Karena dalam keadaan tertentu Symbian memang lebih tangguh. Namun android sangat bersahabat dengan pencipta aplikasi. Mengetahui dengan tepat pengguna android, aplikasi berbasis android terus menerjang bak badai agar user tidak berpaling dari yang lain. Machintos sekalipun.
Saya memang baru memakai android belum lama. Anehnya lagi, saya cuma pengguna pasif dari aplikasi yang telah tersedia. Belum sedikitpun muncul gagasan untuk membuat aplikasi. Sementara orang lain telah berkarib dengan android. Bahkan, sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, orang telah digiring dengan android. Seakan menjadi seorang buta dalam berjalan, tongkatnya ibarat android.
Beberapa waktu yang lalu saya telah up grade blog ini dari wordpress versi 3.xx menjadi versi 4. Versi terakhir yang telah kompatibel dengan android. Hasilnya lumayan. Browshing blog dari manapaun, kapanpun. Demikian pula saat posting. Tidak harus menunggu saat di rumah atau kantor. Keuntungannya, inspirasi tidak hilang. Jikalau memakai PC atau laptop atau netbook, inspirasi banyak yang hilang diterpa angin.
Jaman selalu berubah. Tidak ada yang abadi. Yang abadi hanya perubahan. Hari ini atau esok lusa pasti akan menemui teknologi informasi via android. Sayapun percaya, suatu saat android akan tergantika dengan yang lebih canggih. Jadi, mengapa harus menunggu esok hari, bila sekarang punya kesempatan untuk bisa.

Culture Shock

Istilah culture shock marak tetjadi pada tahun 90 an. Ditandai dengan booming teknologi komputer dan disusul teknologi informasi. Penemuan internet menambah terperangahnya manusia yang gagal paham komputer. Orang dibuat tercengang.
Betapa mudahnya pekerjaan dibantu dan digantikan dengan sistem komputerisasi. Sistim manual ýang butuh tenaga manusia menjadi lebih tak berarti dengan kehadiran komputer. Hitungannya bukanlah deret hitung melainkan deret ukur. Kemampuannya berlipat ganda. Jangan heran bila banyak orang yang hidup terasing.
Orang yang tidak mau tahu perihal teknologi komunikasi bukan saja dia telah mengasingkan diri dari budaya, tetapi berani bunuh diri dari keterasingan sosial. Karena teknologi adalah anugerah. Sesuatu yang wajib disyukuri, dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Dalam bahasa agama sering disebut barakah. Orang yang tidak menerima barakah, padahal sudah tampak nyata didepan mata diberi predikat kufur.
Culture shock atau gagap budaya kekinian bukanlah berlangsung seketika. Bukan kondisi kaget seketika, namun akan mengalami heran terus menerus. Berkelanjutan setiap saat. Karena modern akan berlangsung setiap saat. Akhirnya hanya akan menjadi penonton. Masih lumayan penonton yang aktif. Gagap budaya seperti penonton yang kalah dan terpinggirkan.
Masih hangat demo sopir taksi konvensional yang tidak menerima kehadiran on line. Pengojek lawas vis  a vis gojek. Itu semua karena berawal dari gagal menerima modernitas informasi. Teknologi ini akan terus berkembang seiring dengan laju perkembangan jaman. Jasi memang benar kata Reinald Kasali, bahwa mau tidak mau harus bersahabat dengan kemajuan jaman.

1 31 32 33 34 35 36