Pudarnya Karakter Bangsa

sumber gambar : bitalyfiz.blogspot.com

sumber gambar : bitalyfiz.blogspot.com

Disinyalir perjalanan bangsa Indonesia sedang menuju jurang kenistaan. Pondasi dasar dasar berbangsa dan bernegara tidak lagi menjadi pedoman utama. Pancasila dan Undang Undang Dasar tahun 1945, hanya dibaca secara formal pada waktu seremonial. Upacara bendera, rapat kerja, dan pertemuan formal.

Bencana alam, menjadi berita sehari-hari. Anehnya, menurut beberapa ahli, bencana alam disebabkan karena ulah manusia sendiri. Tawuran antar sekolah, antar kampung, antar suku. Lebih mengenaskan lagi, pertentangan antar lembaga Negara. Saling lempar tugas, antara atasan dan bawahan.

Ada 8 tanda-tanda sebuah masyarakat yang akan mengalami kebangkrutan.

» Read more

Zurriyah Tayyibah

Zurriyah tayyibah artinya keturunan yang baik. Dalam ilmu kesehatan, gen yang diturunkan adalah gen yang baik-baik. Gen yang kurang baik atau tidak baik sama sekali terlempar dari alur turunan. Itulah keinginan setiap orang tua. Anak yang baik, bukan jaminan dari orang tua yang baik pula. Demikian pula sebaliknya, anak yang tidak baik bukan berarti bawaan dari orang tua yang tidak baik. Untuk menjadi orang yang baik, orang tua lebih banyak fokus dalam pembinaan keluarga, pola pergaulan dengan lingkungan. Gen hanyalah salah satu faktor yang bersifat inderawi.
Kepemimpinan keluarga, dalam khasanah Islam lebih banyak ditujukan figur ayah. Namun sesungguhnya kontribusi seorang ibu dalam kepemimpinan keluarga memiliki andil yang sangat besar. Karena seorang anak secara fitrah lebih dekat dengan ibu. Intensitas waktu dalam keluarga, seorang ibu lebih banyak bersama anak bila dibandingkan dengan ayah. Ibu adalah orang jasanya sangat besar terhadap perkembangan karakter anak. Di masyarakat banyak ditemukan kebiasaan dalam adat istiadat maupun budaya lisan bagaimana seorang anak lebih menyatu dengan Ibu. Tidak berlebihan jika Ibu secara de facto menjadi seorang pemandu dalam keluarga.
Islam adalah agama yang adil. Semua manusia sama dihadapan Allah swt. Hanya orang yang berimanlah sebagai pembeda. Kepemimpinan dalam keluarga telah diatur oleh Nabi Muhammad saw. Nukilan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : seorang Istri adalah pemimpin bagi rumah tangga dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Hadits tersebut secara tegas menyatakan bahwa kaum perempuan adalah pemimpin dalam keluarganya bersama-sama dengan suaminya, kepemimpinan yang kolektif, yang saling melengkapi satu dengan lainnya. Llah sendiri menyatakan bahwa hubungan suami dan istri ibarat pakian yang saling menutupi dan melengkapi. Lihat surat Al Baqarah ayat 187.
Justru dengan memberikan beban yang berat kepada seorang Ibu, Allah memberi ganjaran bahwa seorang anak harus berbakti kepada Ibu 3 kali lebih besar dari seorang ayah. Allah juga memberi kemulian kepada seorang Ibu, agar menurunkan generasi yang zurriyah Tayyibah.

Aqidah dan Akhlak

sumber gambar : muslim.or.id

sumber gambar : muslim.or.id

Aqidah

Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “aqada, ya’qidu, ‘aqdan, ‘aqidatan” yang berarti simpulan, ikatan, perjanjian dan kokoh. Sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang menghujam atau simpul di dalam hati.

Ciri-ciri aqidah adalah :

» Read more

Memilih Kawan

Sahabat, rekan, kawan adalah mitra dalam berprestasi bila dioptimalkan dengan cermat. Memang tidak mudah mencari teman. Kalau hanya untuk berkelakar banyak rekan berserakan. Namun sahabat yang mampu dan tahu kondisi kita bukan perkara mudah. Kawan adalah mitra dalam perjuangan. Kawan adalah tempat mengadu tumpahan suka duka.

Tidak heran maka sejak kecil kita dikenalkan dengan betmain dengan teman. Tak lain hanya untuk sosialisasi dengan lingkungan. Bila anak bermain dengan teman merasa cocok, sejatinya ia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mampu menyerap karakter orang lain. Oleh karenanya bersosial dengan orang lain harus dikenalkan sejak dini. Karena sesungguhnya berkawan itu pada dasarnya menggapai prestasi.

» Read more

Adab-adab Buang Hajat

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Saudara dan Saudariku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

1. Disunnahkan bagi orang yang hendak memasuki al-khalaa’ (kamar kecil/WC) agar membaca:

بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.”

Do’a ini berdasarkan hadits ‘Ali Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سِتْرٌ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ.

“Penghalang antara jin dan aurat anak Adam jika salah seorang dari kalian memasuki al khalaa’ adalah ia mengucapkan, “Bismillah”.”[Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3611)]

Juga hadits Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak masuk ke kamar kecil, beliau mengucapkan, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan”. [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/242 no. 142)]

» Read more

Pendidikan Agama Bagi Anak

Menata kembali buku yang berserakan bukan berarti cuma membersihkan dari debu yang menempel. Bukan hanya memindah dari almari satu ke lainnya. Menata buku bisa berarti mengulang kembali memori saat buku itu dibeli atau hadiah atau diberi orang lain. Terkadang ada sedikit ketawa geli mana kala menemui sebuah buku yang memiliki sejarah kecil dari mana muasal buku itu menjadi milik kita.
Seperti biasa, di hari libur atau minggu saat yang paling tepat, menurutku untuk membersihkan dan menata ulang buku yajg sudah terlanjur lama tak terjamah. Aku menemukan buku jadul, dicetak tahun 1991. Buku itu ternyata sudah naik cetak yang ketigabelas. Ilmu Jiwa Agama karya Prof.DR. Zakiah Daradjat.
Buku itu, kalau tidak salah menjadi acuan bagi mahasiswa di (dulu) IAIN, terkhusus lagi yang ambil jurusan yang berbau psikologi. Sebuah buku yang mengulas Psikologi Agama khususnya dan Pendidikan Agama pada umumnya. Tetbitan Bulan Bintang, Jakarta mengalami cetak ulang beberapa kali, tapi cover tidak berubah sedikitpun. Entah kalau sekarang bila diterbitkan lagi. Catatanku buku itu covernya masih tetap sama, sedang isinya masih setia menggunakan kertas buram. Sehingga bila berjalan beberapa tahun ke depan akan tampak warna kuning, atau tintanya yang terlihat memudar.
Aku tertarik untuk membaca kembali terutama pada bahasan mendidikan Agama bagi Anak.
Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidup sejak kecil. Baik di rumah, di sekolah maupun lingkungannya. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama, akan semakin banyak unsur agama, maka sikap dan tindakan anak akan sesuai dengan agamanya.
Pembentukan kepribadian anak dalam bidang agama dapat dilakukan meliputi bagaimana membentuk mental pribadi, perkembangan agama pada anak, dan pembiasaan pendidikan agama pada masa anak.
Pembinaan pribadi menjadi kewajiban orang tua dan guru bila anak sekolah formal. Idaman orang tuadan guru agar anak memiliki basis kepribadian dengan akhlak yang kuat, terpuji. Karena dengan akhlak yang baik, nilai apapun yang dimasukkan dalam diri anak bukan menjadi hambatan, bahkan menjadi motivasi.
Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung. Rekaman anak terhadap perilaku orang tua sangat akurat dalam meniru perilaku mereka. Demikian juga sikap anak terhadap guru. Sehingga pembinaan yang utama untuk anak adalah contoh real setiap hari. Tindak-tanduk orang tua dan guru akan menjadi panutan bagi anak.
Perkembangan agama pada anak akan sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan pertama antara umur 0 – 12 tahun. Seorang anak yang tidak mendapatkan pendidikan agama dan tidak mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama. Anak akan mengenal Tuhan melalii kedua orang tua dan lingkungan keluarga. Sebelum anak dapat berbicara, ia telah terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan tentang Allah.
Membiasakan pendidikan pada anak hendaknya dilakukan sejak dini dan terus menerus. Karena latihan dan pembiasaan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak. Yang tadinya remang-remang, akan menjadi jelas dan gamblang. Pembiasaan ini bukan hanya untuk melatih tapi pada akhirnya anak tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya. Semakin kecil umur si anak, hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agamadilakukan pada anak. Dan semakin bertambah umur si anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan fan pengertian tentang agama itu dibetikan sesuai dengan perkembangam kecerdasan.