Menjadi Pribadi Bijak

Nilai-nilai kebijakan adalah kebutuhan jiwa yang berjalan seiring kebiasaan. Nilai kebajikan tidak cukup dipelajari lalu diujikan si atas kertas.

Setiap manusia selalu mengidamkan kesempurnaan dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia merupakan pribadi yang selalu membutuhkan pada kesempurnaan. Dan kesempurnaan tertinggi hanya pada Tuhan. Menjadi manusia bijak bukan dilihat berdasarkan banyak tidaknya buku yang kita baca atau seberapa tua usia kita. Kebijakan yang berangkat dari upaya mencari kebenaran sudah sepatutnya dilakukan oleh manusia yang percaya akan Tuhan, maka ia akan punya kesadaran bahwa benar saja tidak cukup. Akan tetapi, lebih jauh lagi, bagi orang bijak, yang lebih utama lagi setelah kebenaran adalah kebijakan.

Kebenaran lebih berada pada wilayah rasionalitas, sementara kebijakan berakar pada kerendah hatian dan kejujuran. Dan ini berangkat dari kesadaran Ilahi. Bila demikian, maka tidak cukup menakar kebijakan hanya pada selembar kertas ketika ujian

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdom

Anak dan Jaminan Rizki

ANAK DAN JAMINAN RIZKI

Allah SWT berfirman :

(وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ )
[Surat Al-Anaam 151]

dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (TQS.Al-An’am 151)

(وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ )
[Surat Al-Isra 31]

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. (TQS Al-Isra 31)

Dua ayat diatas, yang terdapat pada surat berbeda dalam Al-Qur’an, merupakan ayat yang mengabarkan bahwa kecukupan rizki kita dan anak-anak kita dijamin oleh Allah SWT.

Sekaligus mengisyaratkan pentingnya menjaga dan melestarikan keturunan manusia, juga larangan membunuhnya.

Menarik untuk direnungkan dibalik perbedaan susunan redaksi yang terdapat pada kedua ayat diatas.

نحن نرزقكم وإياهم
[Surat Al-An’aam 151]

Kamilah yang memberi rizki kepadamu dan kepada mereka (TQS. Al-An’am 151)

نحن نرزقهم وإياكم
[Surat Al-Isra 31]

Kamilah yang memberi rizki kepada mereka dan kepadamu (TQS.Al-Isra 31)

Berkenaan dengan perbedaan ini, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan

(ولا تقتلوا أولادكم خشية إملاق) أي لا تقتلوهم خوفا من الفقر في الآجل ولهذا قال هناك (نحن نرزقهم وإياكم) فبدأ برزقهم للإهتمام بهم أي لا تخافوا من فقركم بسبب رزقهم فهو علي الله

Makna surat Al-Isra 31 ialah janganlah membunuh anak-anak kalian disebabkan kalian takut miskin di kemudian hari. Dalam ayat ini, jaminan rizki untuk anak mereka Allah dahulukan penyebutannya, karena itulah yang menjadi pokok permasalahannya.

Dengan ungkapan lain, janganlah kalian takut jatuh miskin karena memberi makan mereka. Sesungguhnya rizki mereka dijamin oleh Allah SWT.

Adapun makna surat Al-An’am 151, masih menurut Ibnu Katsir, ialah kemiskinannya itu sedang dialami. Sehingga jaminan rizki untuk orang tuanya disebut terlebih dahulu.

Dengan kata lain, makna surat Al-An’am 151 ini, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian disebabkan kemiskinanmu sekarang telah membuat kalian takut dalam memberi makan anak keturunanmu. Sesungguhnya Allah yang menjamin rizkimu dan rizki anak-anakmu.

Rahasia lain di balik perbedaan dua ayat ini, sebagaimana diungkapkan Dr. Ahmad Ahmad Badawi dalam Min Balaghatil Qur’an, surat Al-An’aam 151 ditujukan untuk orang tua yang miskin, supaya tidak takut dalam memberi makan anak-anaknya. Karena Allah SWT menjamin rizki bagi keduanya.

Adapun surat Al-Isra 31, ditujukan bagi orang tua kaya dan serba berkecukupan. Supaya mereka tidak takut jatuh miskin lantaran memberi makan anak-anaknya.

Demikianlah dua ayat ini menegaskan jaminan rizki bagi kita dan anak-anak kita. Tidak sepatutnya orang tua, baik saat kondisi miskin apalagi sedang berkecukupan, membunuh anak yang dilahirkannya karena kekhawatiran dalam memberi makan mereka.

Perihal haramnya membunuh anak juga ditegaskan hadits Rasulullah SAW berikut ini

حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
( رواه البخاري )
Imam Bukhori meriwayatkan dari Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Jarir dari Manshur dari Abi Wail dari ‘Amru bin Syurohbil dari ‘Abdullah ( bin Mas’ud ) telah mengatakan bahwa ia bertanya kepada Nabi saw : Dosa apa yang besar disisi Allah ? Jawab Nabi : ialah engkau jadikan adanya sekutu / tandingan bagi Allah padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu. Kata Ibnu Mas’ud : Inikah yang paling besar, kemudian apa lagi Ya Rasulullah ? Jawab Rasulullah yaitu engkau membunuh anakmu sendiri karena takut ia akan makan bersama engkau. Kemudian apa lagi kata Ibnu Mas’ud ? jawab Rasulullah yaitu engkau berzina dengan istri tetanggamu.” ( HR. Bukhori) Allahua’lam bishowab.