10 Kesalahan Orang Tua terhadap Anak.

sumber gambar : pasarsemarang.com

Membimbing anak, gampang-gampang susah. Atau kalau dibalik susah-susah gampang. Jaman sekarang sudah tentu berbeda dengan saat kita masih kanak-kanak. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap psikologi anak. Berikut ini hasil rangkuman tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Sadam, S. Ag, yang mengambil dari blognya isdaryanto.

1. Kurang Pengawasan. Robert Billingham menulis “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu tragedy yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Menitipkan anak, atau anak sekolah, kunjungilah secara rutin atau antar dan jemputlah anak bila kegiatan sekolah telah selesai.

» Read more

10 Kesalahan Orang Tua terhadap Anak

Membimbing anak, gampang-gampang susah. Atau kalau dibalik susah-susah gampang. Jaman sekarang sudah tentu berbeda dengan saat kita masih kanak-kanak. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap psikologi anak. Berikut ini hasil rangkuman tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Sadam, S. Ag, yang mengambil dari blognya isdaryanto.

1. Kurang Pengawasan. Robert Billingham menulis “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu tragedy yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Menitipkan anak, atau anak sekolah, kunjungilah secara rutin atau antar dan jemputlah anak bila kegiatan sekolah telah selesai.

» Read more

Seribu Makna Membimbing Anak

Anak kita, berapapun jumlahnya, memiliki keunikan tersendiri. Bila lebih dari satu, masing-masing punya talenta yang berlainan. Tak perlu dirisaukan. Setiap anak membawa berkah kata orang bijak. Suasana keluarga justru menjadi semarak. Tidak monoton. Ada yang pendiam, usil, cerewet, dan lain-lain. Dunia menjadi lebih berwarna.

Sudah beberapa minggu belakangan ini, ada salah satu dari anak kita suka bicara sembarangan, cenderung tanpa aturan. Bahkan sering terdengar berkata kasar atau lebih tepatnya tidak memiliki kesantunan. Dari mana anak kita mendapatkan perbendaharaan kata sampah itu? Apa sudah tahu benar maksudnya berkata seperti itu?

» Read more

Mewaspadai Perilaku Anak

sumber gambar : koran-jakarta.com

sumber gambar : koran-jakarta.com

Pembaca yang telah memiliki anak, pasti pernah merasa was-was saat anak berperilaku yang bukan dari kebiasaannya. Situasi seperti ini banyak melibatkan semua anak. Baik yang masih kecil maupun yang akan atau sedang aqil baligh. Tiba-tiba anak jadi pendiam, murung dan galau. Mereka acuh tak acuh dengan keadaan di rumah.

Sebagai orang tua, yang peduli dengan keadaan anak tentu tak akan berlama-lama membiarkan kondisi anak yang demikian itu. Orang tua akan mencari sebab musabab anak menjadi pendiam. Ada berbagai cara yang dilakukan orang tua. Biasanya, ia akan bertanya kepada teman bermaian. Atau tetangganya yang anak sering bermain. Berbagai usaha dilakukan orang tua hanya karena ingin mengetahui perilaku anak diluar kebiasaan.

» Read more

Mengatur Ritme Emosi Anak

Beberapa tahun lalu, saat awal masuk tahun pelajaran baru, ada seorang anak yang sebenarnya masih tergolong kecil menangis tidak ingin masuk sekolah. Didepan pintu masuk sekolah, anak itu meraung-raung meskipun sudah dituntun ibunya untuk segera memasuki sekolah yang baru. Akhirnya kami ikut turun tangan menenangkan anak bahwa di sekolah banyak siswa yang baru. Satu dengan yang lainnya masih belum saling kenal. Jadi tidak ada alasan tidak punya teman.

Rupanya anak kecil tadi belum siap untuk beradaptasi dalam lingkungan yang baru. Dibenaknya masih ingin suasana sekolah seperti masih di SD. Masih ingin berteman dengan kawan-kawan SD, bahkan ingin sekolahnya masih seperti di SD. Tidak sedikit mental anak yang ingin memasuki jenjang yang lebih tinggi, memiliki emosi seperti ini. Orang tuapun kadang-kadang merasa was-was.

Pendidikan di Indonesia memang memakai sistim bertingkat. Setelah TK kemudian SD, dilanjutkan SMP dan seterusnya. Setiap jenjang memungkinkan seorang anak berpindah dari sekolah satu ke sekolah lainnya. Sekalipun ada juga model sekolah yang sifatnya langsung. Misalnya, dari kelas VII sampai kelas XII. Ini biasanya dimiliki oleh sekolah denga model penggabungan antara sekolah dengan pondok.

Akibatnya sistim yang diterapkan oleh pemerintah yang demikian itu, seorang anak harus selalu siap untuk beradaptasi ke dalam lingkungan yang baru setiap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Keuntungannya adalah siswa akan memiliki kawan baru. Siswa akan mempunyai suasana dan lingkungan baru. Mestinya anak merasa senang akibat dari model pendidikan di Negara kita.

Dari suasana yang demikian itu, maka salah satu fungsi seorang guru adalah sebagai penyeimbang emosi siswa. Kebijakan sekolah agar setiap periode tertentu merotasi siswa dalam pengelompokan kelas sudah baik. Pertimbangannya beraneka ragam, mulai dari berdasarkan prestasi, keseimbangan gender, berdasarkan tingkah laku anak dan lain-lain. Bila sebuah kelas telah ditetapkan anggotanya dengan pertimbangan komposisi di atas, berikutnya adalah peran guru dalam mengemas suasana kelas.

Komposisi kelas yang telah diatur berdasarkan prestasi akademik, maka seorang guru siap-siap untuk meredam gejolak emosi anak manakala menghadapi kelas khusus (akademiknya rendah). Bila guru sudah tidak dapat mengatur ritme suasana kelas, sudah tidak memiliki wibawa, yang terjadi adalah adanya pertengkaran antara siswa dengan guru, suasana kelas yang selalu ramai, tak jarang terjadi pertengkaran yang berujung pertikaian. Inilah kelas yang selalu menjadi polemik. Kelas yang selalu mewarnai setiap rapat dewan guru. Apapun alasannya, bila sejak awal pembagian kelas sudah ditetapkan seperti itu, resiko harus ditanggung semua guru.

Membangun kewibawaan seorang guru tidak datang tiba-tiba. Kewibawaan seseorang telah melalui proses yang panjang dan berinteraksi dengan banyak orang. Maka sebenarnya agak memalukan bila seorang guru tidak memiliki peran yang aktif dalam masyarakat. Kalau seorang guru hanya sebagai anggota dalam sebuah komunitas, berarti mata kuliah yang berhubungan dengan kemasyarakatan gagal diserap.

Bagaimana mungkin dapat mengendalikan suasana kelas, bila gurunya sendiri tidak terlibat aktif dalam masyarakat. Bagaimana mungkin dapat mengendalikan emosi anak, namun gurunya sendiri belum bisa mampu meredam emosi. Sebab emosi seseorang berasal dari masyarakat.