Bahasa Arab

sumber gambar : dakwatuna.com

Ada seseorang ahli bahasa yang mengatakan bahwa Bahasa Arab tidak mungkin punah. Ia beralasan ahwa bahasa arab adalah salah satu unsur mendalami atau mempelajari Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri dijamin oleh Allah merupakan kitab yang terakhir sampai akhir zaman. Kesimpulan ini diungkapkan oleh orang yang bukan beragama Islam. Sudah banyak bahasa yang dikenal oleh manusia punah ditelan perputaran waktu. Jangankan bahasa, kebudayaannya saja juga hilang.

» Read more

Mengangkat Potensi Budaya Daerah

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Makna menghormati sekarang telah berkembang. Pahlawan bukan saja orang yang pandai memanggul senjata untuk mempertahankan Negara, namun pahlawan bisa juga berarti orang yang mengharumkan Negara di kancah pergaulan tata dunia. Olahragawan, budayawan, tekhnokrat merupakan sebagian orang yang disebut pahlawan.

Hasil budaya Indonesia yang demikian beragam ini, sekarang baru sebagian dalam tahap perjuangan untuk memperoleh pengakuan dunia. Batik adalah salah satunya. Angklung masih berjibaku untuk mendapatkan mendapatkan pengakuan. Unesco saat ini sedang menggodog keberadaan Bahasa Jawa sebagai salah satu warisan dunia. Bahasa Jawa akan bersanding dengan bahasa lain untuk menempatkan diri dan sejajar dengan bahasa lain yang telah diakui masyarakat Internasional.

Batik, Angklung, Bahasa Jawa dan hasil kreasi nenek moyang kita, akan tetap teronggok dan musnah manakala tidak ada yang melestarikan sekaligus mengembangka. Sangat strategis bila pelestarian kebudayaan ini dimulai dari institusi pemerintah. Penyelenggara Negara mempunyai kewajiban untuk merawat tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Harapannya, agar kelak tidak akan bernasib seperti suku inca yang hanya meninggalkan benda belaka. Bahasa, seni kreasi lain hilang.

Yogyakarta sebagai salah satu sentral budaya nusantara, lewat Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menetapkan bahwa tahun pelajaran 2012/2013 seluruh sekolah yang ada di Kota Yogyakarta harus menerapkan kurikulum Daerah. Dimulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga usia sekolah menengah. Ada empat mata pelajaran yang akan dimasukkan sebagai muatan lokal, yaitu : Seni Tari Gaya Yogyakarta, Seni Karawitan Gaya Yogyakarta, Seni Batik dan Seni Kerajinan Perak.

Keempat muatan lokal itu akan melihat situasi dan kondisi sekolah. Bagi yang telah mampu, bisa menerapkan keempat seni tradisi itu. Namun tiap sekolah minimal harus memilih satu diantara 4 muatan lokal. Setiap siswa wajib mengikuti satu macam. Lebih jauh Edy Heri Suasana selaku Kepala Dinas, memastikan akan membantu secara finansial untuk mendukung penerapan kurikulum berbasis daerah.

Aturan ini sebenarnya sudah empat tahun yang lalu terbitkan dalam bentuk surat keputusan. Namun baru tahun ini, surat keputusan bisa diujudkan dengan teknis pelaksanaan.

Seperti halnya Bahasa Jawa. Anak yang berasal dari luar jawa biasanya akan mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran Bahasa Jawa. Tapi bukankah anak yang memilih sekolah di Yogyakarta sudah siap mengambil resiko untuk mengikuti semua pelajaran? Demikian juga daerah yang lain. Daerah lainpun menerapkan kurikulum berbasis daerah. Sangat banyak potensi daerah yang perlu kita angkat budayanya, sehingga generasi sekarang dan akan datang turut serta merasa memiliki.

Apresiasi Sastra

Setiap orang memiliki tingkat pemahaman terhadap sastra yang berbeda-beda. Hal ini dapat diketahui bila ada pameran buku atau kajian sastra. Di pameran buku tampak jelas. Bila seseorang membaca referensi buku, maka ia begitu lama tidak beranjak dari tempat itu. Ia dengan takzim memilih buku yang memiliki karya sastra yang berbobot. Dipihak lain, ada orang yang melihat buku hanya sepintas saja, itu pun buku-buku yang memiliki karya sastra yang ringan.

Seorang penggemar sastra akan memilih buku yang sesuai bobot penulis. Seolah-olah Ia telah memiliki ikatan batin dengan pengarang, atau mempunyai kesamaan cara pandang. Sebagai contoh, buku yang bercerita tentang “Syaikh Siti Jenar”. Ada banyak ragam versi yang dapat kita temukan. Ada penulis yang berlatar belakang sejarawan, ada yang memiliki disiplin pendidikan, ada pula seorang filosof. Seorang pembaca akan memilih buku yang sesuai dengan keinginannya. Meskipun secara substansi isi bukunya sama namun cara pendekatan penulisannya berbeda.

Dari beragam aliran tulisan itulah yang menyebabkan pembaca memiliki apresiasi sastra yang berbeda. Dari berbagai ragam karya sastra, ada karya sastra yang memiliki nilai kualitas yang tinggi. Tidak semua orang mampu memahami karya itu. Diperlukan ilmu dasar untuk dapat menyerap kandungan nilai satra tersebut.

Menurut saya, ada 3 macam penyebab yang dapat menimbulkan perbedaan persepsi tentang nilai sastra :

Lingkungan

Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam membentuk pemahaman tentang karya sastra. Keluarga yang telah terkondisi dengan tradisi membaca, memiliki kontribusi yang besar bagi anggota keluarga itu dalam memahami sastra. Masyarakat yang selalu menghidupkan karya sastra lewat permainan anak (dolanan), nyanyian yang dipadukan dengan alat musik tradisional, peristiwa ritual, juga mendukung seseorang dalam memahami karya sastra.

Pengetahuan

Sekolah, kuliah, kursus atau sejenisnya adalah ladang untuk memahami pengetahuan. Pengetahuan merupakan jembatan untuk memahami karya sastra. Ada sedikit jaminan, bahwa semakin tinggi seseorang memperoleh ilmu, semakin tinggi pula tingkat pemahaman terhadap karya sastra. Namun tidak semua orang yang berpengetahuan mencintai karya sastra. Baginya, pengetahuan hanya diibaratkan sebuah kendaraan untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengalaman

Pengalaman adalah guru yang baik. Melihat lebih baik dari mendengar. Mempraktekkan jauh lebih baik dari pada melihat. Ada rasa keasyikan tersendiri bila membaca cerpen dari seorang cerpenis kegemarannya. Ada suasana melayang saat mencoba menyerap kata dalam puisi.

Tapi, membuat cerpen lebih asyik bila hanya sekedar membaca. Mengungkap perasaan dengan cara menulis puisi jauh lebih mengena. Membuat cerpen, menulis puisi atau sejenisnya, adalah sebuah pengalaman. Dengan begitu Ia akan mengetahui seberapa tingkat karya sastra. Ia juga secara langsung akan menghargai sebuah karya sastra.