Mengajak Anak Berfikir Logika

Saya mengenal pelajaran logika pertama kali di SMA. Bidang pelajarannya, matematika. Saat itu perdebatan kecil muncul sewaktu pelajaran, karena logika yang diajarkan tidak sesuai dengan realita. Logika yang kenalkan saat itu “jika-maka”. Saya pertama kali mendengar istilah negasi, yang bermakna lawan pernyataan. Ada juga istilah konjungsi, disjungsi, implikasi dan istilah lainnya. Masing-masing mempunyai simbol yang sekaligus penggunaan yang berlainan pula.

Guru kami memberi contoh :

Jika Adi naik kelas maka akan dibelikan sepeda.

Ada 4 buah kemungkinan yang terjadi, bila memakai logika matematika

Jika Adi naik kelas maka akan dibelikan sepeda. Pernyataan benar

Jika Adi tidak naik kelas maka akan dibelikan sepeda. Pernyataan salah

Jika Adi naik kelas maka tidak dibelikan sepeda. Pernyataan salah

Jika Adi tidak naik kelas maka tidak dibelikan sepeda. Pernyataan Benar.

» Read more

Strategi Belajar Jelang Ujian Nasional

Terlepas dari Ujian Nasional yang masih pro dan kontra, siswa tetap akan menghadapi unas. Sebagai guru dan juga sebagai orangtua tetap akan memberi dorongan kepada anak. Agar kelak memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil unas yang baik, seperti memegang tiket untuk memasuki sekolah yang dianggap favorit.

Di Yogyakarta, hasil unas sudah dianggap mewakili prestasi siswa. Tetapi ada beberapa daerah yang tidak percaya dengan hasil unas. Mereka merekrut calon anak didik dengan melaksanakan seleksi sendiri. Hal ini terjadi karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah penyelenggara unas masih bias.

Beberapa waktu lalu, saya sempat melakukan survey kecil-kecilan tentang unas. Survey ini saya lakukan dengan obyek anak-anak khususnya kelas IX (3 SMP). Pertanyaanya cukup sederhana dan mendasar.

Pertanyaan pertama : Apakah Anda ingin lulus? Jawabannya 100 % ingin. Berikutnya saya lempar pertanyaan kedua : Apakah Anda sudah melakukan persiapan? 70 % anak menjawab belum. Untuk meyakinkan, saya tutup pertanyaan yang ketiga : Apakah Anda setiap hari belajar? 85 % anak menjawab tidak belajar.

Agar adil, maka dari pihak sekolahpun saya survey tentang persiapan mendampingi siswa dalam proses menempuh unas. Dimulai dari rapat bersama komite dan orangtua, bimbingan belajar (les), sampai doa bersama. Karena penggarapan lebih ke ranah manajemen, maka bisa saya katakan bahwa sekolah telah mempersiapkan dengan baik.

Terkait dengan wacana diatas, tulisan berikut ini hanya menyorot dari segi timing (pembagian waktu). Yaitu sejak siswa kelas IX masuk semester genap. Karena semua materi kelas IX telah diselesaikan pada waktu semester ganjil. Pemadatan pemberian materi dimaksudkan agar ada sisa waktu satu semester untuk mengulang kembali materi kelas sebelumnya. Lihat gambar berikut :

 

Kesalahan yang kami alami adalah pembagian waktu dan usaha yang dilakukan tidak proporsional. Pada gambar 1 menunjukkan bahwa, mulai masuk semester genap proses pembelajaran sudah dibuat kencang. Waktu yang tersedia sebenarnya cukup lama, namun karena dalam perjalanan nafasnya sudah ngos-ngosan, maka yang terjadi justru kontra produktif. Setelah ujian sekolah malah situasi berubah. Imbasnya justru pada saat jelang ujian nasional, tenaganya telah menurun.

Ini terbukti bahwa akhir-akhir ini anak sudah loyo. Manakala anak diberi sejumlah soal, anak sudah tidak bergairah lagi mengerjakan. Ia pasrah, dan akan memaksa guru untuk langsung membahas. Anak sudah tidak memiliki minat untuk berfikir.

Gambar 2, menurut saya adalah yang ideal. Tidak ngebut, tapi relatif konstan naik. Sejak awal siswa diberi dorongan untuk jalan. Di rentang tertentu, jalan cepat. Kemudian berlari-larian, hingga menjelang finis siswa larinya lebih kencang. 2-3 hari menjelang sampai pelaksanaan unas siswa berhenti untuk belajar. Kalau harus membuka-buka catatan, bukalah catatan-catatan ringkasan, atau mengingat lagi trik cara menjawab cepat.