Tulisan : Populer dan Karya Ilmiah

Menulis bisa dikatakan mudah-sulit. Mudah, bila telah terbiasa. Mendokumentasi kejadian yang berujud tulisan merupakan kegiatan harian atau bahkan setiap saat, manakala menjadi sebuah kebutuhan. Ia terlatih untuk mengabadikan momen tertentu menjadi sebuah tulisan.

Sebaliknya, menulis akan terasa susah, bila dilakukan hanya pada waktu tertentu saja. Baginya, menulis itu ibarat akan menemui sebuah ujian besar yang sebelumnya tanpa persiapan apapun. Berat sekali. Dari mana akan memulai, melanjutkan kalimat dan merangkai kata menjadi kalimat yang bisa dipahami oleh orang lain.

Beda lagi dengan Bahasa lisan. Bahasa lisan berbeda jauh dengan bahasa tulisan. Lisan bisa dilakukan seketika, kalimatnya bisa berulang-ulang, dengan intonasi tertentu orang lain bisa memahami. Bahasa lisan bisa dibantu dengan gestur tubuh, sehingga orang lain memahami.

Tulisan populer ataupun tulisan ilmiah, prosesnya sama saja. Idenya dari sebuah permasalahan yang hendak dituangkan dalam bentuk tulisan. Bahasanya harus komunikatif. Hanya saja, tulisan populer tak terikat sekali dengan aturan yang telah ditetapkan. Namun demikian bukan berarti tulisan populer seenaknya sendiri. Populerpun tetap ada kaidah-kaidah yang harus ditaati manakala sebuah tulisan memiliki bobot tertentu. Ada juga yang mengatakan, kalua tulisan popular tetap harus melakukan riset, agar tulisan berbobot.

Karya tulis ilmiah harus berdasarkan disiplin ilmiah yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Seorang penulis ilmiah tidak boleh lari dari aturan yang telah ditetapkan. Bukan berarti penulis terkungkung dari terali kaidah. Penulis bebas mengembangkan ide, namun tata urutannya harus sesuai dengan norma yang berlaku.

Baik populer maupun ilmiah, keduanya menuju satu tujuan, yaitu mengkomunikasikan hasrat yang akan disampaikan kepada orang lain. Karena ditujukan untuk orang lain, maka ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari sebuah tulisan (terutama) karya ilmiah. Manfaat itu antara lain :

Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif. Menulis tanpa membaca mustahil. Bagaiamana ia akan mendapatkan referensi yang bagus tanpa membaca. Semakin banya membaca semakin banyak referensi atau bahan untuk menulis. Membaca itu bahan bakarnya menulis. Membaca itu untuk referensi, sebagai bahan rujukan untuk menulis.

Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber. Menulis ibaratnya merangkai kata dan kalimat. Kata, apalagi data yang berasal dari luar sangat membantu validitas sebuah tulisan. Data sangat dibutuhkan untuk menyusun sebuah tulisan. Bijak membaca data, maka tulisannya semakin dihargai.

Mengenalkan dengan kegiatan literasi. Akhir-akhir ini, gema literasi semakin membahana. Bukan saja di lingkungan Pendidikan. Namun secara umum, masyarakat luas juga semakin antusias terhadap literasi. Literasi ibarat kebutuhan pokok dalam menggapai masyarakat yang berbudaya.

Memperoleh kepuasan intelektual. Sandang, pangan, papan adalah adalah kebutuhan pokok agar manusia tidak musnah. Kebutuhan ini bersifat bendawi. Tapi tidak bisa dikatakan manusia tanpa adanya kebutuhan ruhani. Disamping masalah ritual yang berbentuk beribadah, manusia juga membutuhkan ruhani yang berupa kebutuhan intelektual. Ruhani lebih cenderung pada kepuasan batin. Oleh karenanya, pengakuan keprofesionalan, kepintaran, keahlian menjadi sebuah kebutuhan yang melekat pada manusia.

Best Practice dan Literasi

Akhir laga sebuah pertunjukan adalah klimaks. Andai dalam sebuah pertandingan hasilnya ada yang menang ada yang kalah. Semua pingin menang. Tak ada yang ingin kalah. Harapannya menang, sukses, lancar, tak ada hambatan. Semua bisa dilangkahi dengan baik. Jangan anti klimaks. Andai menemui seperti ini, bakal kecewa yang didapatkan.

Dalam sebuah pelatihan memang ada unsur kompetisinya. Tapi kompetisi untuk menang semua. Dalam manajemen dikenal istilah win-win solution. Semua diuntungkan. Itulah yang terjadi dalam pertemuan terakhir pada Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP).

Memasuki garis finish ada sebuah materi yaitu pembuatan Best Practice. Sebuah materi yang setiap peserta harus menulis. Best Practice adalah sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik dan tenaga kependidikan sehingga mampu memperbaiki mutu pembelajaran.

Best Practice menuntut adanya pembiasaan literasi. Boleh dikatan bahwa best practice dan literasi adalah sama dan sebangun. Tak mungkin best practice dapat terwujud tanpa adanya literasi. Pembiasaan yang bukan hanya membaca, tapi juga menulis. Langkah kecil untuk menuju peradaban adalah menulis.

Best Practice tidak selalu identik dengan langkah yang besar dan “revolusioner” yang dilakukan oleh guru. Menyelesaikan masalah memang bukan hanya best practice. Tapi dengan Best practice, sebuah permasalahan dapat diurai.

Karakter utama best practice adalah tindakan-tindakan taktis dan praktis untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam mengatasi masalah. Misalnya, meningkatkan kedisiplinan warga sekolah melalui penerapan budaya malu, peningkatan kesadaran warga sekolah dalam memelihara kebersihan lingkungan sekolah melalui Gerakan Pungut Sampah.

Dalam ruang lingkup pembelajaran, best practice menjadi sebuah pilihan karena menceriterakan proses belajar mengajar di kelas hanya pada titik focus tertentu saja. Langkah ini selanjutnya bisa menjadi pedoman untuk meniti berikutnya.

Ada pengalaman yang cukup menarik saat menulis best practice. Kala itu penulis sedang membuat tugas lembar kerja kerja 8 yang berupa catatan refleksi. Pada saat kami meimikirkan tugas berikutnya tentang best practice, secara kebetulan ada yang menyodorkan filenya. Secara rekleks kami menerima file tersebut yang berupa best practice.

Sebagai orang yang tiap hari mengunyah informasi, kami ingin mencari pembanding tentang tulisan best practice. Maka didapatlah beberapa alamat dalam suatu web. Secara reflex pula kami membuka web tersebut. Setelah kami bandingkan, ternyata tiga tulisan tentang best practice mirip semua. Memang ada sebuah, dua buah kalimat yang berbeda. Tapi pikiran dalam paragraph tetep sama.