Budaya India

sumber gambar : menadosatunews.com

sumber gambar : menadosatunews.com

Setelah Briptu Noorman Kamaru tenar dengan goyangan chaiyya chaiyya, membuktikan bahwa budaya India dapat diterima bangsa ini. Masih belum lupa dari ingatan, beberapa tahun silam lagu India juga sempat menjadi buah bibir dan sempat pula menjadi nyanyian wajib  dari anak kecil dewasa, kuch kuch huta hae. Bahkan lagu itu diaransemen ulang versi campur sari dengan terjemah bebas.

Perkawinan budaya antara India dan Indonesia, belum ada angka yang pasti, tahun berapa itu terjadi. Bisa jadi dimulai pedagang dari Gujarat yang berlabuh di pulau jawa. Namun, hingga saat ini kebudayaan India telah meresap bahkan mungkin asal-usul lagu dangdut muncul dari kebudayaan India.

» Read more

Pembelajaran Budaya Lokal

sumber gambar : baltyra.com

sumber gambar : baltyra.com

Dolanan anak adalah warisan dari budaya nenek moyang. Mereka menciptakan permainan buat anak-anak yang memang masanya bermain, namun bukan sekedar main-main. Didalamnya terkandung ajaran atau filosofi yang sarat makna. Hasil ciptaannya mampu bertahan hingga puluhan tahun. Hingga kini, dolanan anak yang sempat hilang dari peredaran karena dilindas modernisasi, tetap dicari. Bahkan, dolanan anak dibangkitkan kembali seraya diiringi dengan kompetisi. Dolanan anak di tempat tertentu menjadi kajian yang mendalam dalam perspektif psikologi, pertumbuhan jiwa dan raga, antropologi dan lain-lain.

Permainan anak termasuk budaya lokal yang mahal harganya. Dilihat dari konteks pendidikan, dolanan anak mengajak untuk bermain bersama. Hampir semua permainan anak-anak tempo dulu hanya bisa dimainkan bila bersama-sama. Bukan sendirian. Tidak seperti game yang sekarang merambah ke android. Dolanan anak selalu mengajak bersama. Maknanya bahwa mainan jenis ini untuk bersosial dengan teman-teman. Kalah menang hanyalah bagian dari permainan. Setelah bermain usai tertawa bersama. Tak ada timbul rasa kecemburuan. Inilah dasar dari pendidikan. Tumbuh kembang bersama karena masing-masing anak memiliki karakter yang berbeda. Satu dengan lainnya mampu memahami sifat individualnya.

» Read more

Melawan Teknologi dengan Budaya

sumber gambar : komarudinmz.blogspot

sumber gambar : komarudinmz.blogspot

Dalam duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.

Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.

» Read more

Melawan Teknologi dengan Budaya

Duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.
Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.
Samsung yang jadi andalan Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dengan produk Jepang yang sudah lama berkibar. Apalagi Sony termehek-mehek dalam indutri film, telah menyedot yen yang menjadi undi-pundi perusahaan induk Sony di Jepang.
Samsung memang bukan hanya bergerak dalam industry rumah tangga. Bahkan teknologi Informasi, telah mampu ditunggangi dalam pacuan persiangan industry computer. Namun apakah benar elektronika telah benar-benar gulung tikar di Jepang? Tentu tidak. Di wilayah elektronika boleh mengalami penurunan. Namun tidak untuk daerah industri otomotif.
Jepang mungkin tidak khawatir dengan mencuatnya industri korea. Namun yang perlu diwaspadai adalah tumbuhnya budaya korea yang sedang digandrungi oleh kalangan muda terutama dikawasan asean. K-pop atau Korean Pop adalah sejenis musik yang sangat popular berasal dari Korsel. Karena di kalangan remajalah yang membeli barang-barang dari hasil roses penciptaan budaya. Siapa lagi kalau bukan Korsel. Disini Jepang agak terseok-seok.
Sudah banyak artis yang berasal dari Negara gingseng ini menembus blatika music dunia. saja Super Junior, yang setiap kali tampil mampu mengundang histeris gadis remaja. SNSD yang kepanjangan dari So Nyeo Shi Dae, kumpulan cewek seksi yang meliuk-liuk sambil bernyanyi mampu menginspirasi Negara tetangga membentuk girl band, termasuk Indonesia. Suju dan SNSD merupakan salah dua yang jadi ikon dan sekaligus andalan korea untuk memperkenalkan generasi muda mereka.
Masih ingat tarian kuda jingkrang? Saya bantu lagi ingatannya, masih ingat Gangnam Style? Yaaa…. Betul. Tarian rap kuda-kuda dipopulerkan oleh artis korea selatan bernama Park Jae Sang alias Psy. Tarian ini amat sederhana, sehingga siapapun mampu memainkannya. Musik apapun bisa masuk untuk dimainkan. Dari anak kecil hingga orang dewasa. Caranya amat mudah dan saat menarikan terlihat ceria.
Inilah yang dikhawatirkan negeri sakura. Ternyata memang benar bahwa hukum perang “tak mengenal belas kasihan”. Yang ada cuma bagaimana memenangkan pertarungan. Tentara tidak harus dilawan dengan tentara. Teknologi tak harus dihadapkan dengan teknologi. Ekonomi bisa saja dikompetisikan dengan budaya, meskipun ujung-ujungnya tetap ekonomi. Kreatifitas dalam mengelola sumber alam dan sumber manusia dipercaya akan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk ketahanan Negara.
Share

Culture Shock

Istilah culture shock marak tetjadi pada tahun 90 an. Ditandai dengan booming teknologi komputer dan disusul teknologi informasi. Penemuan internet menambah terperangahnya manusia yang gagal paham komputer. Orang dibuat tercengang.
Betapa mudahnya pekerjaan dibantu dan digantikan dengan sistem komputerisasi. Sistim manual ýang butuh tenaga manusia menjadi lebih tak berarti dengan kehadiran komputer. Hitungannya bukanlah deret hitung melainkan deret ukur. Kemampuannya berlipat ganda. Jangan heran bila banyak orang yang hidup terasing.
Orang yang tidak mau tahu perihal teknologi komunikasi bukan saja dia telah mengasingkan diri dari budaya, tetapi berani bunuh diri dari keterasingan sosial. Karena teknologi adalah anugerah. Sesuatu yang wajib disyukuri, dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Dalam bahasa agama sering disebut barakah. Orang yang tidak menerima barakah, padahal sudah tampak nyata didepan mata diberi predikat kufur.
Culture shock atau gagap budaya kekinian bukanlah berlangsung seketika. Bukan kondisi kaget seketika, namun akan mengalami heran terus menerus. Berkelanjutan setiap saat. Karena modern akan berlangsung setiap saat. Akhirnya hanya akan menjadi penonton. Masih lumayan penonton yang aktif. Gagap budaya seperti penonton yang kalah dan terpinggirkan.
Masih hangat demo sopir taksi konvensional yang tidak menerima kehadiran on line. Pengojek lawas vis  a vis gojek. Itu semua karena berawal dari gagal menerima modernitas informasi. Teknologi ini akan terus berkembang seiring dengan laju perkembangan jaman. Jasi memang benar kata Reinald Kasali, bahwa mau tidak mau harus bersahabat dengan kemajuan jaman.

Mengangkat Potensi Budaya Daerah

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Makna menghormati sekarang telah berkembang. Pahlawan bukan saja orang yang pandai memanggul senjata untuk mempertahankan Negara, namun pahlawan bisa juga berarti orang yang mengharumkan Negara di kancah pergaulan tata dunia. Olahragawan, budayawan, tekhnokrat merupakan sebagian orang yang disebut pahlawan.

Hasil budaya Indonesia yang demikian beragam ini, sekarang baru sebagian dalam tahap perjuangan untuk memperoleh pengakuan dunia. Batik adalah salah satunya. Angklung masih berjibaku untuk mendapatkan mendapatkan pengakuan. Unesco saat ini sedang menggodog keberadaan Bahasa Jawa sebagai salah satu warisan dunia. Bahasa Jawa akan bersanding dengan bahasa lain untuk menempatkan diri dan sejajar dengan bahasa lain yang telah diakui masyarakat Internasional.

Batik, Angklung, Bahasa Jawa dan hasil kreasi nenek moyang kita, akan tetap teronggok dan musnah manakala tidak ada yang melestarikan sekaligus mengembangka. Sangat strategis bila pelestarian kebudayaan ini dimulai dari institusi pemerintah. Penyelenggara Negara mempunyai kewajiban untuk merawat tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Harapannya, agar kelak tidak akan bernasib seperti suku inca yang hanya meninggalkan benda belaka. Bahasa, seni kreasi lain hilang.

Yogyakarta sebagai salah satu sentral budaya nusantara, lewat Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menetapkan bahwa tahun pelajaran 2012/2013 seluruh sekolah yang ada di Kota Yogyakarta harus menerapkan kurikulum Daerah. Dimulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga usia sekolah menengah. Ada empat mata pelajaran yang akan dimasukkan sebagai muatan lokal, yaitu : Seni Tari Gaya Yogyakarta, Seni Karawitan Gaya Yogyakarta, Seni Batik dan Seni Kerajinan Perak.

Keempat muatan lokal itu akan melihat situasi dan kondisi sekolah. Bagi yang telah mampu, bisa menerapkan keempat seni tradisi itu. Namun tiap sekolah minimal harus memilih satu diantara 4 muatan lokal. Setiap siswa wajib mengikuti satu macam. Lebih jauh Edy Heri Suasana selaku Kepala Dinas, memastikan akan membantu secara finansial untuk mendukung penerapan kurikulum berbasis daerah.

Aturan ini sebenarnya sudah empat tahun yang lalu terbitkan dalam bentuk surat keputusan. Namun baru tahun ini, surat keputusan bisa diujudkan dengan teknis pelaksanaan.

Seperti halnya Bahasa Jawa. Anak yang berasal dari luar jawa biasanya akan mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran Bahasa Jawa. Tapi bukankah anak yang memilih sekolah di Yogyakarta sudah siap mengambil resiko untuk mengikuti semua pelajaran? Demikian juga daerah yang lain. Daerah lainpun menerapkan kurikulum berbasis daerah. Sangat banyak potensi daerah yang perlu kita angkat budayanya, sehingga generasi sekarang dan akan datang turut serta merasa memiliki.

Apresiasi Sastra

Setiap orang memiliki tingkat pemahaman terhadap sastra yang berbeda-beda. Hal ini dapat diketahui bila ada pameran buku atau kajian sastra. Di pameran buku tampak jelas. Bila seseorang membaca referensi buku, maka ia begitu lama tidak beranjak dari tempat itu. Ia dengan takzim memilih buku yang memiliki karya sastra yang berbobot. Dipihak lain, ada orang yang melihat buku hanya sepintas saja, itu pun buku-buku yang memiliki karya sastra yang ringan.

Seorang penggemar sastra akan memilih buku yang sesuai bobot penulis. Seolah-olah Ia telah memiliki ikatan batin dengan pengarang, atau mempunyai kesamaan cara pandang. Sebagai contoh, buku yang bercerita tentang “Syaikh Siti Jenar”. Ada banyak ragam versi yang dapat kita temukan. Ada penulis yang berlatar belakang sejarawan, ada yang memiliki disiplin pendidikan, ada pula seorang filosof. Seorang pembaca akan memilih buku yang sesuai dengan keinginannya. Meskipun secara substansi isi bukunya sama namun cara pendekatan penulisannya berbeda.

Dari beragam aliran tulisan itulah yang menyebabkan pembaca memiliki apresiasi sastra yang berbeda. Dari berbagai ragam karya sastra, ada karya sastra yang memiliki nilai kualitas yang tinggi. Tidak semua orang mampu memahami karya itu. Diperlukan ilmu dasar untuk dapat menyerap kandungan nilai satra tersebut.

Menurut saya, ada 3 macam penyebab yang dapat menimbulkan perbedaan persepsi tentang nilai sastra :

Lingkungan

Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam membentuk pemahaman tentang karya sastra. Keluarga yang telah terkondisi dengan tradisi membaca, memiliki kontribusi yang besar bagi anggota keluarga itu dalam memahami sastra. Masyarakat yang selalu menghidupkan karya sastra lewat permainan anak (dolanan), nyanyian yang dipadukan dengan alat musik tradisional, peristiwa ritual, juga mendukung seseorang dalam memahami karya sastra.

Pengetahuan

Sekolah, kuliah, kursus atau sejenisnya adalah ladang untuk memahami pengetahuan. Pengetahuan merupakan jembatan untuk memahami karya sastra. Ada sedikit jaminan, bahwa semakin tinggi seseorang memperoleh ilmu, semakin tinggi pula tingkat pemahaman terhadap karya sastra. Namun tidak semua orang yang berpengetahuan mencintai karya sastra. Baginya, pengetahuan hanya diibaratkan sebuah kendaraan untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengalaman

Pengalaman adalah guru yang baik. Melihat lebih baik dari mendengar. Mempraktekkan jauh lebih baik dari pada melihat. Ada rasa keasyikan tersendiri bila membaca cerpen dari seorang cerpenis kegemarannya. Ada suasana melayang saat mencoba menyerap kata dalam puisi.

Tapi, membuat cerpen lebih asyik bila hanya sekedar membaca. Mengungkap perasaan dengan cara menulis puisi jauh lebih mengena. Membuat cerpen, menulis puisi atau sejenisnya, adalah sebuah pengalaman. Dengan begitu Ia akan mengetahui seberapa tingkat karya sastra. Ia juga secara langsung akan menghargai sebuah karya sastra.