Empati dan Motivasi

Kebermaknaan hidup saya dapat tampil secara luar biasa karena saya memiliki dua kekayaan emosi: empati dan motivasi. Empati berkaitan dengan kehidupan bersama, kehidupan yang melibatkan seluruh manusia di muka bumi ini; sementara motivasi berkaitan dengan diri-lebih-dalam (inner self) masing-masing orang. Saya merasakan, betapa akan sangat kering kerontang dan membosankannya hidup jika tidak disentuh oleh empati dan motivasi. Saya juga meyakini–sebagaimana ini diyakini oleh Eric Jensen, penulis Brain-Based Learning–bahwa hanya emosi yang dapat memberi arti.

Hanya emosi yang dapat memberi atau menghadirkan arti? Betapa sulitnya memahami hal ini. Betapa tidak mudahnya saya memaknai soal ini. Dan betapa bingungnya saya untuk membiasakan diri saya untuk menerima bahwa emosi itu akan banyak sekali memberikan arti kepada diri saya. Mengapa? Sebab emosi ini agak sulit dipahami dalam konteks yang rasional. Emosi bukan berada di wilayah belahan otak rasional. Emosi berada jauh di sistem limbik.

» Read more

Mengatur Ritme Emosi Anak

Beberapa tahun lalu, saat awal masuk tahun pelajaran baru, ada seorang anak yang sebenarnya masih tergolong kecil menangis tidak ingin masuk sekolah. Didepan pintu masuk sekolah, anak itu meraung-raung meskipun sudah dituntun ibunya untuk segera memasuki sekolah yang baru. Akhirnya kami ikut turun tangan menenangkan anak bahwa di sekolah banyak siswa yang baru. Satu dengan yang lainnya masih belum saling kenal. Jadi tidak ada alasan tidak punya teman.

Rupanya anak kecil tadi belum siap untuk beradaptasi dalam lingkungan yang baru. Dibenaknya masih ingin suasana sekolah seperti masih di SD. Masih ingin berteman dengan kawan-kawan SD, bahkan ingin sekolahnya masih seperti di SD. Tidak sedikit mental anak yang ingin memasuki jenjang yang lebih tinggi, memiliki emosi seperti ini. Orang tuapun kadang-kadang merasa was-was.

Pendidikan di Indonesia memang memakai sistim bertingkat. Setelah TK kemudian SD, dilanjutkan SMP dan seterusnya. Setiap jenjang memungkinkan seorang anak berpindah dari sekolah satu ke sekolah lainnya. Sekalipun ada juga model sekolah yang sifatnya langsung. Misalnya, dari kelas VII sampai kelas XII. Ini biasanya dimiliki oleh sekolah denga model penggabungan antara sekolah dengan pondok.

Akibatnya sistim yang diterapkan oleh pemerintah yang demikian itu, seorang anak harus selalu siap untuk beradaptasi ke dalam lingkungan yang baru setiap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Keuntungannya adalah siswa akan memiliki kawan baru. Siswa akan mempunyai suasana dan lingkungan baru. Mestinya anak merasa senang akibat dari model pendidikan di Negara kita.

Dari suasana yang demikian itu, maka salah satu fungsi seorang guru adalah sebagai penyeimbang emosi siswa. Kebijakan sekolah agar setiap periode tertentu merotasi siswa dalam pengelompokan kelas sudah baik. Pertimbangannya beraneka ragam, mulai dari berdasarkan prestasi, keseimbangan gender, berdasarkan tingkah laku anak dan lain-lain. Bila sebuah kelas telah ditetapkan anggotanya dengan pertimbangan komposisi di atas, berikutnya adalah peran guru dalam mengemas suasana kelas.

Komposisi kelas yang telah diatur berdasarkan prestasi akademik, maka seorang guru siap-siap untuk meredam gejolak emosi anak manakala menghadapi kelas khusus (akademiknya rendah). Bila guru sudah tidak dapat mengatur ritme suasana kelas, sudah tidak memiliki wibawa, yang terjadi adalah adanya pertengkaran antara siswa dengan guru, suasana kelas yang selalu ramai, tak jarang terjadi pertengkaran yang berujung pertikaian. Inilah kelas yang selalu menjadi polemik. Kelas yang selalu mewarnai setiap rapat dewan guru. Apapun alasannya, bila sejak awal pembagian kelas sudah ditetapkan seperti itu, resiko harus ditanggung semua guru.

Membangun kewibawaan seorang guru tidak datang tiba-tiba. Kewibawaan seseorang telah melalui proses yang panjang dan berinteraksi dengan banyak orang. Maka sebenarnya agak memalukan bila seorang guru tidak memiliki peran yang aktif dalam masyarakat. Kalau seorang guru hanya sebagai anggota dalam sebuah komunitas, berarti mata kuliah yang berhubungan dengan kemasyarakatan gagal diserap.

Bagaimana mungkin dapat mengendalikan suasana kelas, bila gurunya sendiri tidak terlibat aktif dalam masyarakat. Bagaimana mungkin dapat mengendalikan emosi anak, namun gurunya sendiri belum bisa mampu meredam emosi. Sebab emosi seseorang berasal dari masyarakat.