Melukis itu Mencerdaskan

Saat saya masih kecil, yang namanya orang cerdas itu pinter dalam pengetahuan. Kalau rujukan di sekolah, anak yang cerdas adalah mereka yang mendapatkan nilai yang baik setiap ulangan. Minimal 8, lebih sering dapat 10. Hanya segelintir anak yang menikmati golongan kelas cerdas. Selebihnya hanya penggembira. Pura-pura ikut kompetisi. Namun sejatinya sudah dalam kondisi menyerah dan hanya membuat senang orang tua. Ada juga kelompok pecundang, yang hampir selalu membuat ulah dalam kelas. Itu ukuran kecerdasan waktu itu.

Lambat laun ternyata profesi seseorang diluar kecerdasan diatas diakui oleh orang lain. Orang yang trampil memainkan instrument dalam bermusik semakin mendapat perhatian orang lain. Bahkan dengan bermusik ternyata seseorang mampu menghidupi keluarga. Anak yang pandai bergaul dengan temannya, sehingga mampu mengerahkan dalam setiap aktifitas dianggap cerdas dalam bermasyarakat. Dikemudian hari, anak ini bahkan menduduki di sebuah lembaga Negara, dan mampu mengelola masyarakat dengan baik. Tidak jarang kita temui seorang anak yang mampu memperagakan kuas untuk melukis diatas kanvas. Anak ini juga mampu memvisualkan keanekaragaman yang terjadi dalam masyarakat. Orang akan mampu membaca kehidupan masyarakat hanya dengan melihat lukisan.

» Read more