Guru Mestinya Optimis

“Saya guru, Pak” demikian ungkapan lugas mantan siswa sembari mengulurkan jabat tangan dalam perjumpaan reuni sekolah di akhir tahun. Menyebut diri guru tanpa ditanya terlebih dahulu atau memperkenalkan diri sebagai guru tanpa menampakkan perasaan rendah diri di tengah forum, sungguh mengharukan. Ada optimisme, ada kegembiraan, pun ada kebanggaan menjadi guru. Andai saja perasaan itu dialami oleh semua guru dan semua mahasiswa calon guru, betapa beruntungnya anak-anak kita yang dididik oleh orang-orang yang gembira dan optimis.

Secara khusus sebagai pribadi tentu lebih terharu ketika mendengar penuturan para mantan siswa yang menjadi guru kerena terinspirasi oleh gurunya. Satu bukti lagi bagaimanapun guru adalah sosok iklan dan teladan yang mampu menggerakkan hati para muridnya untuk memilih kebaikan. Pilihan-pilihan profesi siswa di masa depan pun tak jauh dari iklan para guru. Tidak jarang terdengar ungkapan bernada bangga, seperti “gara-gara guru itu saya sekarang menjadi seperti ini”, atau “coba kalau tak ada pak guru, pasti saya tidak akan memilih pekerjaan ini”.

» Read more

5 Peran Guru

Mengenyam pendidikan di abad-21 sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Teknologi informasi sangat berperan dalam alih budaya yang semakin cepat. Era digital menuntut setiap orang untuk berpikir cepat dan tepat.
Cepat saja tidak mungkin. Bisa salah sasaran. Andai salah sasaran, dan tidak mampu memperbaiki, ia akan semakin tersesat. Jauh dari jalan yang mestinya ia tempuh.

» Read more

Lembar Kerja Siswa

Banyak media yang bisa dipakai oleh seorang guru untuk menyampaikan materi pelajaran. Media klasik yang sampai sekarang masih bertahan dan banyak pemakai adalah metode ceramah. Semua informasi tunggal. Berasal dari guru. Cara ini kelayakannya kurang bisa diterima oleh model pembelajaran mutahir mengingat sumber belajar semakin beragam. Berbagai cara yang ditempuh oleh pemangku jabatan agar guru dalam menyampaikan ilmu dengan menggunakan multi metode. Disesuaikan dengan kondisi dan karakter siswa.

Lembar kerja siswa (LKS) adalah salah satu cara pembelajaran yang sebenarnya tergolong mudah dan murah. Guru dengan sangat leluasa membuat LKS sesuai dengan siswanya. Bahasa, budaya, kebiasaan di sekolah, bahkan tata letak LKS bisa diujudkan. Kalau memungkinkan, tidak memakai LKS yang dibuat oleh orang lain. Karena LKS sebenarnya spesifik sekali. LKS akan melekat dengan karakter seorang guru.

Ada 5 (lima) yang dapat dipetik dengan membuat LKS.

» Read more

Menikmati Hari Guru di Malaysia

sumber gambar : blogfina.com

sumber gambar : blogfina.com

Waktu pertama kali masuk ke negeri Jiran, kebetulan saat itu bertepatan dengan Hari Guru. Sama seperti di Indonesia, Hari Guru juga di peringati di Malaysia. Rupanya memang guru harus diapresiasikan sesuai dengan kemampuan dan proporsional. Beruntung saya bisa menyaksikan Hari Guru di Malaysia. Kalau menurut catatan, hari guru jatuh tanggal 19 Mei.

Saya menyaksikan momen tersebut saat berada di Universitas Utara Malaysia. Suasananya demikian akademik, karena pelaksanaannya diisi dengan berbagai macam temu ilmiah. Tanggal 20 Mei bagi bangsa Indonesia merupakan hari Kebangkitan Nasional. Disaat bangsa kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, saya dan rombongan malah melancong ke negeri tetangga. Toh, bukan asal jalan-jalan belaka. Ada misi yang hendak kami emban dengan mengunjungi Malaysia. Tak lain adalah “ngangsu kawruh – jawa”, menimba ilmu. Persoalannya sudah tidak lazim lagi membangkitkan pepatah : dulu Malaysia belajar pada kita. Sekarang kita malah belajar dari Malaysia.

» Read more

Tiga Tahapan Konstruksi Vygotsky

zpd

Lahir di tanah Rusia pada tanggal 17 November 1896. Vygotsky sebenarnya bukanlah yang memiliki ahli dalam pendidikan, karena awalnya dia seorang sastrawan. Penyuka pusi. novel, menulis cerpen dll. Saat usia memasuki 28 tahun, ia mulai serius dalam bidang psikologi. Basic keilmuan yang dikantongi adalah sastra, namun kakinya melangkah ke bidang psikologi. Tahun 1925 beliau menuangkan desertasinya dengan judul “psycology of art”.

Dari desertasi inilah awal mula perkembangan belajar yang menganut konstruksivisme, yang mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif seseorang bukan hanya dipengaruhi oleh individu diri sendiri, namun juga dipengaruhi oleh lingkungan. Ada dua perkembangan konstruksi yang ia kemukakan :

» Read more

Uang Sekolah

Elementary School Student Counting on Fingers --- Image by © Redlink/Corbis

dokumen pribadi

Organisasi atau Lembaga tanpa keuangan sama saja dengan sekelompok orang yang berkumpul tanpa arah. Padahal organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki itikad dan tujuan yang sama. Tujuan tersebut akan dinikmati secara bersama-sama. Untuk mencapai tujuan diperlukan biaya. Demikian pula sebaliknya, hartanya melimpah tapi tanpa digunakan dengan dengan benar, jadilah harta yang menganggur. Ekonom bilang sia-sia.

Sekolah memiliki tujuan. Arah yang akan dicapai telah disepakati bersama. Oleh karenanya menggerakkan sekolah salah satunya dengan uang, meskipun tidak harus banyak. Dengan uang yang dimiliki, maka tujuan yang hendak dicapai akan terasa ringan karena segala kegiatannya dapat tercukupi.

» Read more

Umur Ideal Seorang Guru

Dalam sebuah komunitas yang bernama sekolah ada sub kelompok kecil yang dinamakan guru. Dari dulu, guru menjadi kelompok yang dominan. Karena penelitian mengatakan bahwa 76,6% proses pembelajaran di sekolah didominasi oleh guru (Nana Sudjana). Inilah satu sebab yang oleh banyak pengamat pendidikan di Indonesia berjalan stagnan atau malah semakin menurun.
Meski kebijakan tentang pendidikan telah berganti-ganti, dalam realisasi guru masih memberi warna dalam aktifitas di sekolah. KTSP dan Kurikulum 2013 memberi ruang peran guru semakin sempit. Sebaliknya peran siswa dan orang tua diperlonggar. Area pengikisan peran guru bukan berarti semakin berkurang dalam kegiatan belajar. Kurikulum 2013 memberi amanat agar guru menjadi figur pembimbing, atau moderator. Kegiatan siswa dioptimalkan. Kebijakan model ini memberi persepsi yang berbeda-beda dari masing-masing guru.
Menerima dengan antusias, pasrah setengah menggerutu, atau menolak dengan asumsi bahwa kegiatan administrasi guru semakin ribet, tidak bisa lagi mencuri waktu untuk pekerjaan sampingan.
Ketiga katagori tersebut, setelah dihitung dengan teliti, ternyata umur tidak berpengaruh. Ada beberapa generasi tua yang masih semangat dengan kebijakan baru yang lebih mementingkan proses dan hasil akhir. Mereka optimis dengan ditemukannnya model-model terkini untuk membangkitkan semangat belajar. Tidak sedikit ditemukan generasi muda yang lunglai menghadapi pekerjaan yang menyita waktu hanya untuk proses pemelajaran.
Semangat idealisme yang masih hangat dari bangku kuliah buyar tersirami dengan tersitanya energi untuk kegiatan sekolah. Bila ditelusuri lebih jauh, ternyata indikator niat menjadi faktor penentu dalam mengembalikan tujuan mulia pendidikan dan pemelajaran di sekolah. Meskipun salah satu syarat penerimaan menjadi guru adalah ingin mengajar dengan sungguh-sungguh, namun faktor itu tidak menjamin. Karena sifatnya masih tertulis (legal formal), peminat untuk menjadi guru ternyata cukup banyak sehingga harus diseleksi, ada beberapa yang bukan berasal dari jurusan pendidikan meski telah memiliki akta 4.
Pengaruh kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial juga berperan penting. Tanpa menyampingkan kompetensi pedagohik dan professional. Guru yang berlatar belakang atau memiliki pengalaman dalam aktifitas sosial lebih cepat beradaptasi dan lebih cepat mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi di kelas atau sekolah. Tua atau muda tidak berpengaruh.
Golongan muda yang aktif di kampus atau di masyarakat cukup banyak. Sementara kelompok tua yang tidak memiliki aktifitas di masyarakat juga tidak sedikit. Jadi umur tidak berpengaruh secara signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan dari sudut pendidik.

1 2