Idul Fitri Nan Ceria

sumber gambar : antvklik.com

Tradisi Idul Fitri yang telah menasional dapat dipastikan (hanya) milik Indonesia. Di Negara lain, memang ada kebiasaan mudik, seperti di China bila Gong Xi Fat Choi. Mudik adalah milik rakyat. Namun tidak semeriah seperti di Indonesia. Siapapun ikut pulang kampong meskipun mereka tidak beragama Islam. Bahkan ritualnya ikut kecipratan juga. Seperti libur, dagangan laris. Penyelenggara Negara, mulai dari Lurah hingga Presiden harus turun tangan langsung menangani mudik lebaran.

Kebiasaan yang patut disyukuri sebagai forum kekerabatan masal, meski bukan perintah agama, namun tradisi ini telah menyatu dengan ritual agama. Aktifitas masyarakat menjadi semarak. Forum ukhuwah kian meningkat. Membumikan perintah agama kian merata.

» Read more

10 Kesalahan Orang Tua terhadap Anak.

sumber gambar : pasarsemarang.com

Membimbing anak, gampang-gampang susah. Atau kalau dibalik susah-susah gampang. Jaman sekarang sudah tentu berbeda dengan saat kita masih kanak-kanak. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap psikologi anak. Berikut ini hasil rangkuman tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Sadam, S. Ag, yang mengambil dari blognya isdaryanto.

1. Kurang Pengawasan. Robert Billingham menulis “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu tragedy yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Menitipkan anak, atau anak sekolah, kunjungilah secara rutin atau antar dan jemputlah anak bila kegiatan sekolah telah selesai.

» Read more

Ingin Pintar

Sejak nol tahun hingga menjelang pernikahan, peranan orangtua sangat dominan. Disamping mencukupi kebutuhan pertumbuhan jasmani, orangtua juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak. Orangtua akan selalu mendampingi keinginan anak, memberi motivasi dalam mencapai citi-cita anak. Tak sedikit ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai segala keperluan anak.

Guru yang sebenarnya adalah orangtua. Dia menjadi panutan, pendamping dan sekaligus motivator bagi anak-anaknya. Orangtua menjadi tempat bertanya dalam segala hal kehidupan,  ia juga sebagai tempat bersandar manakala anak-anak menemui kegalauan. Orangtua juga menjadi inspirator, terkait dengan masa depan, Yang ada dalam benak seorang anak dalam merengkuh kehidupan, orangtua menjadi salah satu referensi  utama.

Tidak sedikit, orangtua yang memberi wejangan kepada kita tentang kehidupan kelak dikemudian hari. Kita takzim mendengarkan tutur kata beliau. Untaian kata-katanya seolah menjadi bara untuk mengobarkan semangat. Ia hanya mengatakan “besok kalau sudah jadi orang, jadilah orang yang berguna bagi orang lain” hanya itu saja. sederhana sekali. Namun maknanya sangat mendalam.

Berguna bagi orang lain” ternyata dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas serta ketrampilan yang mumpuni. Untuk memberi kebutuhan papan bagi orang lain, dituntut menjadi seorang yang ahli membuat bangunan rumah. Menghadapi krisis pangan yang terjadi di masyarakat, kita diberi beban untuk mengembangkan rekayasa genetika pangan.

Karena demikian sentralnya peran yang disandang oleh orangtua, maka tugas pendidik yang utama adalah orangtua. Bila peran ini diganti oleh orang lain maka akan merusak tatanan kehidupan sosial. Ada ketidakseimbangan antara kebutuhan psikologis seseorang dengan kehidupan bermasyarakat. Cermin tatanan keluarga akan memantulkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Membentuk keluarga yang diidamkan menjadi dambaan manusia. Keluarga yang tenteram tidak datang seketika, Perjalanan kehidupan tidak dengan jalan yang lurus. Godaan yang ditemui datang silih berganti. Sangat disayangkan apabila nilai-nilai yang telah dipahami dan dianut oleh keluarga akan ditukar dengan nilai-nilai yang dibawa oleh orang lain, yang tidak memiliki sendi-sendi kemanusiaan. Semakin tercerabutlah fungsi keluarga yang hakiki. Keharmonisan akan luntur, kesejukan akan lebur.

Perkembangan ilmu dan ketrampilan, tiap saat mengalami perubahan. Bahkan bisa jadi melampaui batasan waktu.  Perkembangan ini akan sangat berpengaruh dalam budaya yang telah disepakati dalam masyarakat. Orang dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan iptek.

Untuk mendapatkan ketrampilan, seseorang harus belajar dengan orang lain yang lebih mumpuni dalam bidangnya. Oleh karena itu, masyarakat kemudian membuat sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk menguasai dan mengembangkan ilmu dan ketrampilan. Dari segi teknis semacam ini, orangtua dapat menyerahkan anak kepada orang lain, agar supaya memiliki ilmu dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.