Menjadi Simpatik dengan Komunikasi

Menjadi simpatik tidak datang seketika. Simpatik dibangun sejak dini dengan landasan dasar “tidak meremehkan orang lain”. Kunci ini manjur dalam setiap pergaulan. Dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Wajah simpatik yang alami datang dari hati, karena menghormati orang lain.
Dengan gestur tubuh yang sipatik, sebenarnya orang lain sudah menaruh hormat kepada kita. Apalagi bila dibarengi dengan tutur kata yang menenteramkan. Bertambahlah rasa empatinya. Berkomunikasi juga perlu latihan secara terus-menerus. Tak mengenal finish. Karena komunikasi menjalin kebersamaan dalam kesetaraan.

» Read more

Komunikasi

Kebudayaan dibentuk dikarenakan ada komunikasi, ada dialog antar person dalam koloni. Hubungan antar manusia bisa berjalan disebabkan karena ada saling pengertian. Tidak mungkin manusia membentuk masyarakat tanpa ada saling tegur sapa yang efektif. Dalam pengertian lebih luas lagi, pergaulan antar sesama bisa berjalan dengan lancar, karena satu dengan lainnya sudah saling mengetahui maksud dan tujuan, apa yang menjadi keinginan masing-masing orang. Misalnya, bila saya berpapasan dengan sesorang, maka saya akan mengatakan “hai”, “met pagi”, “mo kemana? “udah makan lom?’ Dst. Orang yang saya ajak berbicarapun akan menjawab sesuai dengan maksud dan tujuan saya. Dialog yang terjadi antara dua orang atau lebih, akan nyambung bila masing-masing telah mengetahui inti dari bahan obrolannya. Dengan demikian maka komunikasi dalam lingkungan yang setara akan berjalan efektif.

» Read more