Menggagas Enterprenur di Sekolah

sumber gambar : youtube.com

sumber gambar : youtube.com

Mencermati penuturan Prof. Dr. Ing. Imam Robandi dalam forum (kaget) kepala sekolah di Kota Yogyakarta, menarik untuk disimak. Saya sebutkan kaget karena memang tidak direncanakan secara matang. Satu dan lain hal kesibukan beliau, maka saat lawatan ke Yogyakarta tak disia-siakanĀ  oleh kepala sekolah Muhammadiyah se Yogyakarta.

Salah satu yang saya cermati adalah, sekolah mesti memiliki naluri berdagang. Kata dagang lebih tepat dikatakan jualan, sangat tidak lazim bila yang melakukan lembaga pendidikan. Pendidikan, bagi sebagian orang masih merujuk pada institusi sebagai wahana transfer nilai dan ilmu. Sangat jauh bila bersentuhan dengan penjualan. Namun kata pak Robandi, kalau sekolah ingin eksis dilingkungan masyarakat salah satu yang harus dilakukan dengan berjulan.

» Read more

Prinsip Pengembangan Kurikulum

sumber gambar : aljbr.sch.id

sumber gambar : aljbr.sch.id

Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan

Lembaga pendidikan tidaklah berdiri sendiri. Pendidikan berbaur dengan masyarakat. Orang tua sebagai inti pendidik, secara harfiah telah memberikan amanat kepada lembaga pendidikan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. Sehingga dalam hal ini, segala aspek yang terkait dengan potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungan secara formal telah diberikan kepada lembaga pendidikan. Sebaliknya lembaga pendidikan terikat dengan lingkungan masyarakat. Tanpa peran serta masyarakat dalam mengapresiasikan pendidikan mustahil terwujud lembaga pendidikan. Sebaliknya, lembaga pendidikan memiliki peran yang startegis untuk mengembangkan potensi anak didik untuk dapat berpartisipasi secara aktif.Beragam dan terpadu

» Read more

Umur Ideal Seorang Guru

Dalam sebuah komunitas yang bernama sekolah ada sub kelompok kecil yang dinamakan guru. Dari dulu, guru menjadi kelompok yang dominan. Karena penelitian mengatakan bahwa 76,6% proses pembelajaran di sekolah didominasi oleh guru (Nana Sudjana). Inilah satu sebab yang oleh banyak pengamat pendidikan di Indonesia berjalan stagnan atau malah semakin menurun.
Meski kebijakan tentang pendidikan telah berganti-ganti, dalam realisasi guru masih memberi warna dalam aktifitas di sekolah. KTSP dan Kurikulum 2013 memberi ruang peran guru semakin sempit. Sebaliknya peran siswa dan orang tua diperlonggar. Area pengikisan peran guru bukan berarti semakin berkurang dalam kegiatan belajar. Kurikulum 2013 memberi amanat agar guru menjadi figur pembimbing, atau moderator. Kegiatan siswa dioptimalkan. Kebijakan model ini memberi persepsi yang berbeda-beda dari masing-masing guru.
Menerima dengan antusias, pasrah setengah menggerutu, atau menolak dengan asumsi bahwa kegiatan administrasi guru semakin ribet, tidak bisa lagi mencuri waktu untuk pekerjaan sampingan.
Ketiga katagori tersebut, setelah dihitung dengan teliti, ternyata umur tidak berpengaruh. Ada beberapa generasi tua yang masih semangat dengan kebijakan baru yang lebih mementingkan proses dan hasil akhir. Mereka optimis dengan ditemukannnya model-model terkini untuk membangkitkan semangat belajar. Tidak sedikit ditemukan generasi muda yang lunglai menghadapi pekerjaan yang menyita waktu hanya untuk proses pemelajaran.
Semangat idealisme yang masih hangat dari bangku kuliah buyar tersirami dengan tersitanya energi untuk kegiatan sekolah. Bila ditelusuri lebih jauh, ternyata indikator niat menjadi faktor penentu dalam mengembalikan tujuan mulia pendidikan dan pemelajaran di sekolah. Meskipun salah satu syarat penerimaan menjadi guru adalah ingin mengajar dengan sungguh-sungguh, namun faktor itu tidak menjamin. Karena sifatnya masih tertulis (legal formal), peminat untuk menjadi guru ternyata cukup banyak sehingga harus diseleksi, ada beberapa yang bukan berasal dari jurusan pendidikan meski telah memiliki akta 4.
Pengaruh kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial juga berperan penting. Tanpa menyampingkan kompetensi pedagohik dan professional. Guru yang berlatar belakang atau memiliki pengalaman dalam aktifitas sosial lebih cepat beradaptasi dan lebih cepat mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi di kelas atau sekolah. Tua atau muda tidak berpengaruh.
Golongan muda yang aktif di kampus atau di masyarakat cukup banyak. Sementara kelompok tua yang tidak memiliki aktifitas di masyarakat juga tidak sedikit. Jadi umur tidak berpengaruh secara signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan dari sudut pendidik.

Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yang digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Manajemen Kurikulum (2)

Tujuan pendidikan nasional seeperti yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak, serta ketrampilan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan meliputi :
1. Demokratis dan berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
2. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dalam rangka pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat
3. Memberikan keteladanan dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik
4. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
5. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
Secara hirarkis tujuan pendidikan ada empat macam :
1. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang tertinggi di suatu Negara. Tujuan ini sangat umum dan kualitatif serta sangat ideal. Tujuan ini harus memperhatikan falsafah Negara (Pancasila), TAP MPR dalam GBHN.
2. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu unit atau lembaga tertentu. Tujuan ini mencerminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui suatu lembaga pendidikan tertentu
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai setelah siswa mempelajari bidang studi atau mata pelajaran atau sejumlah isi pengajaran. Tujuan ini tentu saja harus menggambarkan tujuan istitusional.
4. Tujuan instruksional
Tujuan istruksional adalah tujuan yang ingin dicapai siswa dalam mempelajari suatu pokok bahasan tertentu. Tujuan ini harus dirumuskan dalam setiap terjadinya proses belajar mengajar.
Isi atau bahan ajar
Setelah tujuan pendidikan dirumuskan langkah selanjutnya adalah mengembangkan bahan kurikulum. Pengembangan bahan-bahan kurikulum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Relevan dengan lingkungan siswa, perkembangan iptek, dunia kerja, kehidupan masa kini dan yang akan datang
Efektif, sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut
Efisien, di mana tujuan dapat dicapai dengan bahan seminimal mungkin
Kontinuitas, dalam arti berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
Fleksibilitas, dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.
Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar merupakan kelanjutan dari penyusunan sekuensi bahan ajar. Setiap bahan pengajaran menuntut strategi tertentu. Bahan pelajaran serlebih dahulu dianalisa, dengan metode yang sesuai. Pada kurikulum 2013, seorang guru dituntut untuk merancang proses belajar mengajar sejak dari rencana pelajaran sampai dengan evaluasi. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Masing-masing materi pelajaran memiliki keunikan tersendiri, menggunakan metode tertentu.
Pandangan tradisional, startegi atau metode mengajar dianggap terpisah dari proses pengembangan kurikulum. Sekarang, seleksi strategi belajar mengajar menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum. Empat macam strategi belajar yang sering dilakukan dalam kegiatan belajar, yaitu : ekspositori, discovery atau inquiri, pendekatan konsep dan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di suatu kesempatan akan kami jabarkan strategi belajar tersebut.
Evaluasi Pengajaran
Setelah perumusan tujuan pendidikan, proses berikutnya menentukan bahan ajar dan startegi belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi adalah proses terakhir namun memiliki kandungan nilai yang sangat penting. Sebab dari kegiatan awal akan diketahui keunggulan dan kelemahannya. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana proses belajar mengajar telah sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi juga digunakan untuk umpan balik dan bermanfaat untuk bahan penyempurnaan. Proses mengevaluasi harus dilakukan secara terus menerus sejak dari rancangan sampai implementasinya.

Manajemen Kurikulum (1)

Manajemen kurikulum merupakan bagian dari manajemen pendidikan. Sebab, sangat mustahil manakala membicarakan kurikulum tanpa menyertakan pendidikan. Kalau harus diperas menjadi beberapa lingkup, memang manajemen kurikulum lebih kecil dan spesifik. Namun demikian bukan berarti bahwa yang lebih kecil untuk diabaikan. Bahkan dari beberapa segi, manajemen kurikulum memang sangat menentukan kebijakan pendidikan. Karena ruh kurikulum sejatinya bisa menjelma menjadi inti dari pendidikan.
Terdapat beberapa versi mengenai definisi manajemen yang diajukan oleh beberapa ahli. Perbedaan tersebut muncul karena factor sudut pandang dan latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh ahli-ahli tersebut. Namun substansinya tetap sama, yaitu bahwa manajemen berintikan : mengelola, mengurus, mengatur, mengendalikan, menangani menjalankan, melaksanakan. Sehingga secara sederhana, manajemen pendidikan adalah bagaimana mengatur atau mengelola bidang pendidikan.
Secara keilmuan, manajemen pendidikan terdiri dari dua unsur, yaitu material dan formal. Bidang material bahan yang menjadi tujuan yaitu pengetahuan. Sedang obyek formal meliputi pengaturan dalam pelaksanaan pendidikan.
Penyusunan kurikulum harus memperhatikan perubahan lingkungan pendidikan (baik internal maupun eksternal) yang demikian pesatnya. Sementara hasil kurikulum tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Keberhasilan kurikulum baru bisa diketahui setelah hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan. Dilema yang banyak dijumpai, adalah penyusunan kurikulum yang selalu berubah, sementara hasil belum bisa diketahui dengan pasti. Sehingga saat menuai hasil, terkadang kurikulum tidak sesuai lagi dengan saat ini. Oleh karena itu, dalam menysun kurikulum harus berlandaskan visi dan misi pendidikan.
Visi adalah jalan pikiran yang melampaui jalan pikiran. Cita-cita yang hendak diraih bisa dikatagorikan ideal. Sehingga cara meraihnya juga melebihi batas dari kemampuan. Menciptakan visi hendaknya yang belum pernah ada sebelumnya. Lembaga pendidikan yang akan melaksanakan visinya, maka lembaga pendidikan tersebut perlu menggambarkan kondisi yang akan diwujudkan di masa depan. Dari kondisi yang akan diwujudkan inilah sebenarnya kurikulum itu dirumuskan atau disusun.
Visi pendidikan nasional adalah “Terwujudnya pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah” Visi pendidikan yang dirumuskan oleh Depdiknas untuk tahun 2025 : “Insan Indonesia cerdas dan kompetitif”.
Misi adalah jalan pilihan suatu organisasi untuk menyediakan produk atau jasa bagi konsumennya. Perumusan misi bisa diibaratkan menyusun peta dalam suatu perjalanan tertentu. Rencana yang telah dirancang harus mengacu pada tujuan yang jelas melalui bagian demi bagian agar misi dapat dilaksanakan secara spesifik. Bila lembaga pendidikan telah melaksanakan misi sesuai dengan kebutuhan, maka dianggap bahwa lembaga pendidikan tersebut telah melaksanakan misi dengan baik.
Secara ringkas, misi pendidikan Indonesia dapat dirumuskan :
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan pendidikan
.
2. Membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak secara utuh
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang bermoral
.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan.
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan