Perjuangan Menaklukkan LMS

Pertemuan kedua menyisakan banyak pekerjaan yang harus ditunaikan peserta. Secara prinsip administratif tak ada permasalahan yang berarti antar peserta. Semua garapan yang diselesaikan, harus mengacu pada aktifitas siswa melalui pembelajaran aktif dan berwawasan. Tidak mengulang atau berfikir konvensional. Guru mengarahkan dan memberi sinyal-sinyal kepada siswa kemana langkah hendak dituju.

Namun bukan perkara yang gampang. Karena langkah-demi langkah harus diujudkan dalam sebuah tulisan atau dokumen. Tentu, bahasa tulisan sangat berbeda dengan bahasa lisan. Perlu menyusun kata demi kata agar kalimat menjadi familier dibaca. Kalimat sambung menyambung menjadi alinea yang memuat satu pokok pikiran.

Pada sesi yang kedua ini, peserta lebih banyak berkutat pada pembuatan Desain Model Pembelajaran dan Penilaian HOTS. Keduanya rata-rata dapat diselesaikan dengan baik. Sistim belajar kelompok lebih menguntungkan, sehingga pekerjaan dapat dibagi secara proporsional.

Persoalan baru timbul, saat file di harus diunggah ke Learning Management System (LMS) pada situs hattps://pkp.belajar.kemdikbud.go.id. Sistim ini menggunakan moodle sabagai basiknya. Bukan moodlenya yang jadi masalah. Tapi lebih pada problem link-nya. Entah itu ketersediaan besarnya wifi atau kesiapan hosting untuk menampung ribuan file pada saat yang bersamaan. Banyak peserta yang kesulitan mengirim tugas via daring. Jangan heran bila LMS menjadi bahan olok-olk menjadi lemes.

Di kalangan komunitas pendemen link system, moodle adalah yang paling power full diantara LMS yang ada. Di lingkungan pendidikan, moodle banyak dipakai sebagai salah satu sistem media pembelajaran. Dengan sedikit modifikasi, komunikasi antara dosen dan mahasiswa, antara guru dan siswa dapat berinteraksi kapanpun dan dimanapun. Mewujudkan dan menyemarakkan industri komunikasi 4.0 menjadi meriah.

Beruntunglah atas kebaikan instruktur. Ia menyediakan dokumen terbuka kalangan terbatas, dengan memakai fasilitas drivenya google. Lebih mudah terjangkau oleh siapapun. Dengan memakai rumah bersama ini, satu langkah teratasi yaitu pengumpulan tugas.

Bila boleh berandai-andai, tentu kami berharap kesiapan sarana dan prasara sebuah pelatihan massal dapat disiapkan dengan baik. Daring (dalam jaringan) saat ini sedang menjadi primadona untuk mengatasi jarak yang sulit terjangkau. Teknologi Informasi sangat membantu untuk mewujudkan pendidikan merata. Semua maju. Semua unggul, dengan tetap mengedepankan kompetensi.