5 Peran Guru

Mengenyam pendidikan di abad-21 sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Teknologi informasi sangat berperan dalam alih budaya yang semakin cepat. Era digital menuntut setiap orang untuk berpikir cepat dan tepat.
Cepat saja tidak mungkin. Bisa salah sasaran. Andai salah sasaran, dan tidak mampu memperbaiki, ia akan semakin tersesat. Jauh dari jalan yang mestinya ia tempuh.

» Read more

Tanya-Jawab Manajemen Mutu

  1. Apa yang mendasari munculnya manajemen mutu terpadu?

Mutu terkait langsung dengan pelanggan. Sebuah perusahaan hidup dari pelanggan. Pelanggan yang merasakan langsung hasil produk dari perusahaan. Oleh karena itu, apabila perusahaan ingin berdiri tegak, salah satu syaratnya dengan meningkatkan mutu produksi. Tidak heran apabila IBM (perusahaan computer berskala Internasional mendefinisikan bahwa “mutu sama dengan kepuasan pelanggan”

  1. Apakah berbicara mutu hanya sekedar inisiatif?

Bila membicarakan mutu hanya sekedar inisiatif, maka akan tertinggal dengan organisasi lain. Orang lain sudah memakai standar Internasional. Berawal dari The Citizen’s Charter, The Parent’s Charter sampai pada International Standard ISO 9000, merupakan bagian penghargaan dan standar mutu yang telah diperkenalkan untuk mempromosikan mutu dan keunggulannya.

» Read more

Negosiasi (2)

Negoisasi adalah bentuk tawar-menawar. Cuma mungkin namanya lebih keren. Membuat kesepakatan dengan pihak lain memang perlu seni tersendiri. Orang yang trampil dalam tawar-menawar biasanya sudah terasah sedari kecil. Orangnya supel, memahami kekurangan orang lain, senang bersahabat dengan siapapun tanpa memandang sekat suku, golongan dan kelas sosial.

Tawar-menawar bisa dikatagorikan sebagai sebuah permainan dengan aturan yang telah disepakati. Mengapa aturan disepakati? Karena tawar-menawar dilakukan dalam keadaan setimbang. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Aturan dapat berupa tertulis atau karena kebiasaan saja. Jual beli kendaraan bermotor, tentu lain dengan suasana di pasar hewan. Masuk di sekolah swasta berbeda dengan suasana di pasar modal. Meskipun intinya tetap sama. Tawar-menawar.

» Read more

Manajemen Kurikulum (2)

Tujuan pendidikan nasional seeperti yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak, serta ketrampilan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan meliputi :
1. Demokratis dan berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
2. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dalam rangka pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat
3. Memberikan keteladanan dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik
4. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
5. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
Secara hirarkis tujuan pendidikan ada empat macam :
1. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang tertinggi di suatu Negara. Tujuan ini sangat umum dan kualitatif serta sangat ideal. Tujuan ini harus memperhatikan falsafah Negara (Pancasila), TAP MPR dalam GBHN.
2. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu unit atau lembaga tertentu. Tujuan ini mencerminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui suatu lembaga pendidikan tertentu
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai setelah siswa mempelajari bidang studi atau mata pelajaran atau sejumlah isi pengajaran. Tujuan ini tentu saja harus menggambarkan tujuan istitusional.
4. Tujuan instruksional
Tujuan istruksional adalah tujuan yang ingin dicapai siswa dalam mempelajari suatu pokok bahasan tertentu. Tujuan ini harus dirumuskan dalam setiap terjadinya proses belajar mengajar.
Isi atau bahan ajar
Setelah tujuan pendidikan dirumuskan langkah selanjutnya adalah mengembangkan bahan kurikulum. Pengembangan bahan-bahan kurikulum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Relevan dengan lingkungan siswa, perkembangan iptek, dunia kerja, kehidupan masa kini dan yang akan datang
Efektif, sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut
Efisien, di mana tujuan dapat dicapai dengan bahan seminimal mungkin
Kontinuitas, dalam arti berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
Fleksibilitas, dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.
Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar merupakan kelanjutan dari penyusunan sekuensi bahan ajar. Setiap bahan pengajaran menuntut strategi tertentu. Bahan pelajaran serlebih dahulu dianalisa, dengan metode yang sesuai. Pada kurikulum 2013, seorang guru dituntut untuk merancang proses belajar mengajar sejak dari rencana pelajaran sampai dengan evaluasi. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Masing-masing materi pelajaran memiliki keunikan tersendiri, menggunakan metode tertentu.
Pandangan tradisional, startegi atau metode mengajar dianggap terpisah dari proses pengembangan kurikulum. Sekarang, seleksi strategi belajar mengajar menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum. Empat macam strategi belajar yang sering dilakukan dalam kegiatan belajar, yaitu : ekspositori, discovery atau inquiri, pendekatan konsep dan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di suatu kesempatan akan kami jabarkan strategi belajar tersebut.
Evaluasi Pengajaran
Setelah perumusan tujuan pendidikan, proses berikutnya menentukan bahan ajar dan startegi belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi adalah proses terakhir namun memiliki kandungan nilai yang sangat penting. Sebab dari kegiatan awal akan diketahui keunggulan dan kelemahannya. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana proses belajar mengajar telah sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi juga digunakan untuk umpan balik dan bermanfaat untuk bahan penyempurnaan. Proses mengevaluasi harus dilakukan secara terus menerus sejak dari rancangan sampai implementasinya.

Sekolah harus Memiliki Jiwa Dagang

market-3

Mencermati penuturan Prof. Dr. Ing. Imam Robandi dalam forum (kaget) kepala sekolah di Kota Yogyakarta, menarik untuk disimak. Saya sebutkan kaget karena memang tidak direncanakan secara matang. Satu dan lain hal kesibukan beliau, maka saat lawatan ke Yogyakarta tak disia-siakan  oleh kepala sekolah Muhammadiyah se Yogyakarta.

Salah satu yang saya cermati adalah, sekolah mesti memiliki naluri berdagang. Kata dagang lebih tepat dikatakan jualan, sangat tidak lazim bila yang melakukan lembaga pendidikan. Pendidikan, bagi sebagian orang masih merujuk pada institusi sebagai wahana transfer nilai dan ilmu. Sangat jauh bila bersentuhan dengan penjualan. Namun kata pak Robandi, kalau sekolah ingin eksis dilingkungan masyarakat salah satu yang harus dilakukan dengan berjulan.

Ada beberapa produk yang bisa dilakukan dalam melakukan penjualan.

1. Kartu Nama. Hari gini mungkin ada orang akan tertawa bila dimintai kartu nama. Kartu nama tidak identik dengan jaman digital. Kartu nama mungkin masih pas bila disertakan dengan kado atau amplop untuk menyumbang.

Ternyata anggapan itu keliru. Disaat gadget merambah disetiap sudut kehidupan, kartu nama masih memegang penting sebagai sarana informasi. Dalam sebuah kartu nama terdapat informasi nama, alamat rumah, alamat kantor, mail, dan blog. Sebuah papan nama yang hanya berukuran 90 mm x 55 mm, namun bisa memuat semua informasi pribadi.

2. Majalah. Meskipun media on-line kemajuannya sangat cepat dan cara memperoleh informasi hanya dengan sekali sentuh, tapi majalah tetap ada di sudut hati tersendiri. Majalah tidak bisa hilang begitu saja. Karena majalah sebagai dokumen tertulis yang bisa dijadikan untuk referensi dalam menulis karya ilmiah misalnya.

Majalah sekolah, disamping sebagai media promosi, majalah juga sebagai wahana untuk mengukur tingkat akdemis. Baik itu siswa, guru ataupun orang yang terlibat secara langsung dengan sekolah yang bersangkutan.

3. Papan Promosi. Belanja iklan pada perusahaan-perusahaan besar dapat mencapai  30% dari total biaya produksi. Artinya, bila sebuah produk diluncurkan dengan memakan biaya 1 milyar, maka biaya promosinya bisa mencapai angka Rp. 300 juta. Karena promosi merupakan salah satu faktor penunjang tingkat penjualan.

Tidak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan. Jual muka lewat media spanduk, baliho yang diletakkan pada tempat-tempat yang strategis, sangat berpengaruh terhadap input calon siswa baru. Dari pada berselancar lewat web, lebih baik melihat papan nama yang tersebar di pinggir jalan sambil berkendaraan. Bila tertarik, Ia akan mencatat nomor telepon atau web yang bisa dikunjungi.

4. Kalender. Setiap menjelang tahun baru, saya hampir selalu menerima tidak kurang dari 5 buah kalender. Dari berbagai lembaga, baik perusahaan maupun dari lembaga sosial. Intinya satu. Promosi.

Sekolah memiliki tempat yang strategis sebagai promosi face to face. Mengapa demikian? Karena setiap siswa hampir pasti akan diberi sebuah kalender yang lengkap dengan sarana dan macam kegiatan dalam satu tahun. Diharapkan siswa akan memasang kalender di rumah masing-masing. Bila dalam satu rumah ada 5 orang, berarti ada 4 orang akan melihat kalender sekolah. Kalau di sekolah ada 400 siswa berarti ada 2000 pasang mata akan menatap kalender sekolah. Belum lagi bila ada sanak saudara atau tamu yang berkunjung ke rumah.