Mengenal Maria Agnesi

Genetika atau keturunan tidak berbanding lurus dengan kecerdasan. Keturunan sangat mungkin untuk kemiripan fisik, tapi bukan pada kepandian, ketrampilan apalagi perilaku. Anak seorang professor belum tentu menjadi orang yang cerdik pandai. Pun demikian anak seorang abang becak tidak linier akan menjadi pengayuh becak.

Andai genetika berlaku hukum perbandingan senilai untuk segala sifat keturunannya, alangkah tidak adilnya dunia ini. Pepatah “siapa menanam, dialah yang mengetam” menjadi pegangan bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan. Berakit-rakit kehulu, beranang-renang ketepian, adalah pepatah yang manjur.

Genetika juga tak mengenal jenis kelamin untuk segala sifat keturunannya. Namun ada pemeo yang belum diuji kebenarannya, bahwa seorang pria mewarisi sifat nalar. Sedangkan wanita lebih cenderung ke ranah perasaan. Suatu ketika pasti ada pengecualiannya. Demikian yang dialami oleh Maria Gaetana Agnesi. Seorang yang dilahirkan sebagai matematikawati.

» Read more

Ingin Jadi Arsitek? Kemampuan Dasar Hitungan Nomor Dua

Belum lama ini, saya bertemu dengan mantan siswa. Sekarang sudah menjadi arsitek yang cukup handal. Beberapa proyek besar, ia tangani bersama rekan-rekannya. Saat berjumpa terakhir, ia sedang mengerjakan sebuah proyek untuk PLN. Dia termasuk orang yang dipercaya oleh pimpinan proyek dalam setiap pembuatan bangunan. Gedung perkantoran, mall, pasar atau bangunan lain yang berskala besar. Pernah suatu ketika ia presentasi didepan bupati untuk mengerjakan bangunan perkantoran, yang mengharuskan pakai jas. Diakuinya, bahwa ia pertama kalinya pakai jas, seperti memakai baju robot, katanya.

Dulu, sewaktu di sekolah, rasanya dia biasa saja. Tak terlalu istimewa untuk pelajaran matematika. Bahkan tak pernah masuk dalam 10 besar untuk kelas siswa yang berjumlah 40 siswa. Nilai rapot hanya diatas rata-rata sedikit. Pelajaran lainpun setali tiga uang.

» Read more

Lomba Matematika Nasional di Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Untuk kali ke-3 ini saya mengantar anak-anak mengikuti Lomba Matematika tingkat Nasional  (LMN) di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Even yang selalu hadir setiap tahun bernuansakan kompetisi. Wajar bila peserta utusan dari sekolah merupakan anak yang terpilih. Ada sekitar 800 anak siap bertempur untukmendapatka yang terbaik, mulai dari jenjang SD sampai dengan SMA.
Penyelenggaranya Fakultas Mipa, khususnya jurusan Matematika. Kata orang, matematika ini sulit, pelajaran yang bisa memusingkan. Itu katanya. Jangan mengikuti jargon ini sebelum membuktikan bagaimana nikmatnya belajar matematika. Matematika selalu hadir di setiap relung kehidupan. Jadi bersahabatlah dengan dia. Semakin dibenci, matematika akan semakin menemuimu di setiap saat.

» Read more