Optimalisasi Kecerdasan Spiritual

Aristoteles sebagai seorang filosof dan psikolog boleh berbangga telah menemukan metode untuk mengukur kecerdasan manusia, yaitu dengan mengukur Intellegence Quotient (IQ). Dalam perjalanan IQ ini dikritik, karena menafikan sisi kemanusiaan. Hanya otak yang penuh kalkulasi yang bisa diandalkan. Beruntung Daniel Goleman menemukan sisi lain tentang keberadaan manusia yaitu Emotional Quotient (EQ). EQ merupakan prasarat dasar untuk penggunaan IQ. Pada akhir abad keduapuluh, ada interseksi antara psikologi, neurologi, ilmu antropologi dan kognitif untuk menunjukkan sisi yang ketiga yaitu Spiritua Quotient (SQ).

» Read more

Membaca, Menulis dan Berhitung

Ketika Uni Sovyet (Rusia) berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik, Amerika Serikat meradang. Kecemasan yang menghantui Amerika. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena setelah diteliti ditemukan bahwa proses transformasi ilmu di sekolah-sekolah mengalami kegagalan. Oleh karena itu mereka mulai kembali mereksonstruksi pendidkan dengan program bernama go back to basic. (prof. Suyanto dan Drs. Djihad Hisyam, M.Pd. dalam bukunya Refkeksi Dan Reformasi Pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III).

Program dan doktrin pendidikan itu berisi muatan yang sederhana, yaitu reading, writing and arithmetik. Mengapa yang dikedepankan justru reading dan writing, bukan arithmetika sebagai ilmu dasar dalam pengembangan teknologi? Mereka menganggap bahwa kunci untuk menguasai iptek adalah kemampuan berkomunikasi. Dengan penguasaan komunikasi diharapkan kebijakan nasional langsung dapat diketahui oleh masyarakat.

Komunikasi ternyata memegang peranan yang sangat fundamental dalam membangun kerangka kebudayaan bangsa dan mewujudkan perkembangan teknologi. Dengan menguasai kemampuan berkomunikasi, maka dapat mengungkap rahasia-rahasia alam di sekitarnya. Tanpa kemampuan berkomunikasi dengan baik, jangankan mengungkap rahasia alam, memahamipun tidak pernah bisa. Sehingga setiap siswa harus memiliki kompetensi dalam berkomunikasi. Kemampuan menawarkan ide lewat komunikasi, dalam kurikulum 13 (kurtilas) menjadi salah satu tonggak keberhasilan proses belajar mengajar.

Seberapa besar kemampuan komunikasi dikalangan kita? Atau bisa juga diajukan pertanyaan benarkah kita sudah berkomunikasi dengan baik dan teratur?

Bahasa lisan misalnya. Banyak kita jumpai dalam bercakap-cakap kurang benar, sehingga harus mengulang dua atau tiga kali kalimat yang telah kita ucapkan. Hal ini menimbulkan banyak energy dan waktu terbuang. Terkadang, dalam berkomunikasi  kita juga harus memakai alat bantu dengan bahasa isyarat untuk meyakinkan ucapan. Itu baru bahasa percakapan.

Marilah kita tengok bahasa yang disampaikan dalam forum resmi. Didalam lingkungan terbatas, atau komunitas formal, hanya orang-orang yang sudah banyak membaca saja yang dapat menguasai komunikasi. Karena dengan membaca (apalagi menulis), ia memiliki banyak perbendaharaan kata dan referensi yang bisa diungkapkan.

Bagaimana kalau kemampuan menulis? Pembaca lebih mengetahui.

Dari keadaan yang demikian, usaha apa yang perlu kita gapai agar mendapatkan generasi yang mampu membaca, menulis dan trampil berhitung? Ada dua wacana yang mesti ditempuh.

Pertama : Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mewajibkan semua warga negara untuk membaca. Untuk aset masa depan, sekolah mesti digarap dengan sungguh-sungguh. Perpustakaan difungsikan sebagaimana mestinya. Perpustakaan bukan gudang buku, perpustakaan juga bukan sebagai alat untuk memperoleh akreditasi yang baik.

Kepala Sekolah mewajibkan kepada guru untuk membaca dan merangkum. Hasil rangkuman dipresentasikan didepan guru lain dalam sebuah pertemuan rutin. Bila guru telah melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, siswa secara otomatis akan mengikuti, tanpa harus diperintah.

Kedua : Orang tua, wajib menyisihkan sekian persen uang belanja untuk pembelian buku  bacaan keluarga. Mengapa wisata bersama keluarga atau long weekend dapat terlaksana tanpa hambatan yang berarti, namun membeli buku tidak mampu? Mengapa sangup mengganti handphone yang jauh lebih bagus, sedangkan mengoleksi buku tidak mampu?

Membaca buku harus dilandasi dengan kemauan yang kuat. Koleksi buku adalah sebuah aset untuk masa depan. Menciptakan keluarga yang memiliki wawasan luas harus menjadi idaman. Dengan memiliki keluarga yang mempunyai nafsu untuk selalu membaca dan sekaligus bisa menulis, maka membangun budaya gemar membaca dan menulis semakin nampak di depan mata.

Merananya Perpustakaanku

Saya kira tidak hanya diperpustakaan sekolahku saja. Hampir merata disetiap sekolah memiliki perpustakaan yang terbengkelai. Perpustakaan tak lebih dari tempat untuk menyimpan buku. Ada yang lebih sinis dengan mengatakan bahwa perpustakaan adalah gudang buku. Buku apapun yang tidak terpakai disimpan di perpustakaan.

Hampir dipastikan, dalam setiap merancang ruang-ruang dalam sekolah, lebih mengutamakan ruang kepala sekolah, guru, kelas, laboratorium dan BP. Ruang Perpustakaan merupakan pilihan terakhir. Akibatnya ukuran ruang perpustakaan hanyalah sisa dari pilihan-pilihan utama. Tidak heran ruang perpustakaan menempati di sudut-sudut lokasi sekolah.

Dalam hal perawatanpun, perpustakaan hampir selalu menjadi prioritas yang nomor dua. Pihak pengelola sekolah lebih senang memperbaharui mebeler, mengganti komputer terbaru meskipun komputer lama masih bisa dipakai, tukar tambah barang-barang elektronik lainnya. Anggaran perpustakaan selalu  dialokasikan dana sisa.

Selama keluarga besar sekolah belum memiliki minat membaca, jangan diharapkan perpustakaan akan menjadi pilihan utama dalam rancangan anggaran sekolah. Selama kepala sekolah dan guru masih menancapkan budaya lisan maka jangan barharap perpustakaan

Untuk menyokong wibawa perpustakaan ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan :

1. Serius mengalokasikan dana untuk memperlebar ruang, memperbaharui koleksi buku, membuat nyaman ruangan. Koleksi buku jangan mengharapkan datang dari bantuan. Koleksi buku harus dipilih dengan kwalitas yang memadai. Apabila calon alumni diwajibkan untuk menyumbang buku, disarankan dalam bentuk uang saja. Karena sumbangan buku kadang tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah.

2. Guru mempelopori bedah buku secara periodik. Luangkan waktu 60 – 90 menit per bulan untuk mengkaji buku. Dua minggu sekali lebih baik. Presentasi boleh dilakukan oleh 2 orang. Buku yang telah dibaca supaya ditulis dalam bentuk ringkasan.  Dengan demikian secara tidak langsung guru juga menulis. Membaca buku sekaligus menulis.

3. Penugasan siswa hendaknya diarahkan untuk menggunakan buku di perpustakaan. Mendorong siswa agar masuk ke perpustakaan, sebagai salah satu cara agar siswa gemar membaca. Dalam periode tertentu, datangkan nara sumber dari luar. Saat ini banyak sekali komunitas yang komitmen dengan baca dan tulis.  4.  Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki, maka perpustakaan menjadi solusinya. Sekolah memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

4.Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa meluangkan waktu untuk membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki untuk memperoleh buku yang bermutu, program membaca dan menulis yang berbasis perpustakaan menjadi solusinya. Satu buku bisa dibaca oleh beberapa orang. Sekolah juga memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.