Dunia Entertainment memang Glamour

idol

Aku berbisik dalam hati

Mungkinkah ini kan terjadi sesungguhnya
Kulangkahkan kaki menyusuri
Panggung pemilihan ratu sejagad
Putar ke kiri balik ke kanan
Senyum sana senyum sini ikuti irama
Oh semua tepuk tangan
Seiring ku berlalu
Sampai menghilang dibalik layar

Akupun bersorak lepas kegirangan
Tapi terjatuh dari kursi goyang
Kiranya ku mimpi uuhhh jadi ratu sejagad semalam.

Voc : Vonny sumlang
» Read more

Tim Hore Navis

20170305_071502

Tak disangkal, sekarang Navis telah jadi artis. Enam bulan lalu ia hanyalah anak kecil yang punya suara bagus. Kebetulan juga masuk ke SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Karena pandai bernyanyi seketika langsung dikenali oleh semua siswa.
Dede, demikian panggilannya. Ia bergaul dengan teman sekelas biasa saja. Bermain seperti layaknya masih SD. Saling ejek ciri khas mereka. Saling umpat adalah istiadatnya. Namun begitu bel masuk, semua hilang rasa permusuhan. Kembali ke kelas mendengarkan petuah guru, mengasah kenampuan otak dan saling berkompetisi. Itulah ritme sehari-hari di sekolah kami.

» Read more

Menanti Navis di Puncak

navis-21a

Tinggal satu tangga lagi yang harus dilalui Navis untuk bisa meraih puncak. Seorang bocah dari sebuah dusun di sudut Bantul telah membuktikan bahwa di era Teknologi Informasi ini, ternyata bisa menjejakkan kakinya dalam ajang yang sangat bergengsi. Indonesian Idol Junior. Bahwa dimanapun manusia berpijak asal memiliki kemampuan dan mampu bersaing, disitulah kesuksesan digenggam.
Kaki kuat nan kukuh sudah menancap hingga urat membuncah sampai relung sekujur tubuh. Empat kaki siap untuk berderap menggapai impian. Dua orang Idol Junior saatnya harus bertarung dalam grand final. Siapapun juaranya, kata sang juri dan pengamat musik sudah bukan lagi masalah. Karena keduanya memiliki karakter yang berbeda. Hanya mereka yang mampu bertahan dan secara terus menerus mengasah keprofesionalannyalah yang akan mendapat sambutam dari masyarakat.

» Read more

Navis

navis 2

dokumen pribadi

Navis. Demikian beliau dipanggil. Pemilik nama asli Ali Akbar Navis adalah sastrawan dan budayawan yang lahir di Kampuang Jao Padang Panjang Sumatra Barat. Sebuah propinsi yang melahirkan sastrawan sebelum masa kemerdekaan. Atau sering disebut sastra Indonesia modern. Gaya bicaranya ceplas-ceplos apa adanya, lebih tepat kita sebut orang yang berpandangan hitam putih, lahir pada 17 November 1924 dan meninggal 22 Maret 2003. Hasil karya yang monumental ialah Robohnya Surau Kami. Novel yang bercerita tentang perubahan masyarakat yang berakibat retaknya sendi-sendi adat ninik mamak.
Hampir satu abad melintasi segala zaman, menurunkan beberapa generasi, dan berjarak ribuan kilometer, seorang anak lahir dengan nama sama yaitu Navis. Lengkapnya Muhammad Aditya Navis. Panggilan sehari-harinya Dede. Seorang lelaki berperawakan kecil mungil tapi memiliki tenaga dan potensi yang amat besar. Keduanya memiliki nama yang sama yakni Navis. Keduanya juga memiliki kemampuan yang hampir sama. Bila Ali Akbar seorang sastrawan, maka Muhammad Aditya Navis adalah seorang seniman. Penyanyi. Penulis yakin masih banyak anak manusia yang bernama Navis, tapi belum semoncer mereka berdua.
Dede lahir dari pasangan Bapak Hamdi, SKM dan Ibu drg. Chanis Sukma di Bantul. Sebuah kabupaten yang terletak di selatan kota Yogyakarta. Beliau berdua  punya profesi yang sama, bergerak dalam bidang kesehatan. Apakah Dede akan menapaki jalan yang sama dengan kedua orang tuanya? Kita tunggu saja.

» Read more