Guru Mestinya Optimis

“Saya guru, Pak” demikian ungkapan lugas mantan siswa sembari mengulurkan jabat tangan dalam perjumpaan reuni sekolah di akhir tahun. Menyebut diri guru tanpa ditanya terlebih dahulu atau memperkenalkan diri sebagai guru tanpa menampakkan perasaan rendah diri di tengah forum, sungguh mengharukan. Ada optimisme, ada kegembiraan, pun ada kebanggaan menjadi guru. Andai saja perasaan itu dialami oleh semua guru dan semua mahasiswa calon guru, betapa beruntungnya anak-anak kita yang dididik oleh orang-orang yang gembira dan optimis.

Secara khusus sebagai pribadi tentu lebih terharu ketika mendengar penuturan para mantan siswa yang menjadi guru kerena terinspirasi oleh gurunya. Satu bukti lagi bagaimanapun guru adalah sosok iklan dan teladan yang mampu menggerakkan hati para muridnya untuk memilih kebaikan. Pilihan-pilihan profesi siswa di masa depan pun tak jauh dari iklan para guru. Tidak jarang terdengar ungkapan bernada bangga, seperti “gara-gara guru itu saya sekarang menjadi seperti ini”, atau “coba kalau tak ada pak guru, pasti saya tidak akan memilih pekerjaan ini”.

» Read more