Model Pembelajaran

Untuk kesekian kalinya saya mengikuti work shop tentang Lesson Studi. Sebuah model pembinaan profesi pendidik yang berbasis kolaborasi. Model kerja sama yang dibangun antar sesam pendidik. Karena memang (mungkin) hanya itu yang dapat dilakukan. Tanpa kehadiran dari profesia lain.

Berbeda dengan Lesson Study yang dikembangkan di negeri asal, yaitu Jepang. Di Jepang, ilmu ini lahir dan berkembang, Siswa belajar di kelas bukan lagi monolog. Bahkan bukan saja dialog. Siswa sebagai subyek benar-benar dioptimalkan dalam mendapatkan pengalaman belajar.

Lesson Study tidak hanya melibatkan guru dan siswa. Metode yang dikembangkan merambah hingga melibatkan orang tua siswa. Orang tua, guru dan mungkin juga pakar pendidikan terlibat langsung dalam pembelajaran.

» Read more

Melalui Perbaikan RPP Berharap Pembelajaran Lebih Baik

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Bertempat di SMP Negeri 15 Yogyakarta, MGMP SMP untuk mata pelajaran : Matematika, IPA dan Bahasa Inggris telah melakukan kegiatan berupa pelatihan Pembinaan dan Pengembangan Mutu SMP. Kegiatan ini merupakan follow up dari kegiatan sejenis yang diselenggarakan oleh Dikpora DIY. Dari hasil evaluasi oleh peserta, dirasa perlu dan penting untuk diteruskan pada tingkat kabupaten dan kota, karena masing-masing daerah memiliki karakteristik dan spesifikasi yang berbeda-beda.
Musyawarah Guru Mata Pelajaran Matematika dan juga IPA serta Bahasa Inggris menyelesaikan pekerjaan pembuatan RPP untuk masing-masing pelajaran yang berlangsung 3 hari dari tanggal 8 – 10 September 2016. RPP diharapkan se,mua sekolah yang bernaung di Kota Yogyakarta akan seragam tanpa mengurangi keragaman sekolah masing-masing, Namun pembuatan RPP ini sebagai langkah awal dalam memulai kurikulum 13 (kurtilas). Kurikulum yang syarat dengan perubahan yang berbasis pada kreatifitas siswa.

» Read more

Manajemen Kurikulum (2)

Tujuan pendidikan nasional seeperti yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak, serta ketrampilan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan meliputi :
1. Demokratis dan berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
2. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dalam rangka pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat
3. Memberikan keteladanan dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik
4. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
5. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
Secara hirarkis tujuan pendidikan ada empat macam :
1. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang tertinggi di suatu Negara. Tujuan ini sangat umum dan kualitatif serta sangat ideal. Tujuan ini harus memperhatikan falsafah Negara (Pancasila), TAP MPR dalam GBHN.
2. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu unit atau lembaga tertentu. Tujuan ini mencerminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui suatu lembaga pendidikan tertentu
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai setelah siswa mempelajari bidang studi atau mata pelajaran atau sejumlah isi pengajaran. Tujuan ini tentu saja harus menggambarkan tujuan istitusional.
4. Tujuan instruksional
Tujuan istruksional adalah tujuan yang ingin dicapai siswa dalam mempelajari suatu pokok bahasan tertentu. Tujuan ini harus dirumuskan dalam setiap terjadinya proses belajar mengajar.
Isi atau bahan ajar
Setelah tujuan pendidikan dirumuskan langkah selanjutnya adalah mengembangkan bahan kurikulum. Pengembangan bahan-bahan kurikulum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Relevan dengan lingkungan siswa, perkembangan iptek, dunia kerja, kehidupan masa kini dan yang akan datang
Efektif, sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut
Efisien, di mana tujuan dapat dicapai dengan bahan seminimal mungkin
Kontinuitas, dalam arti berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
Fleksibilitas, dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.
Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar merupakan kelanjutan dari penyusunan sekuensi bahan ajar. Setiap bahan pengajaran menuntut strategi tertentu. Bahan pelajaran serlebih dahulu dianalisa, dengan metode yang sesuai. Pada kurikulum 2013, seorang guru dituntut untuk merancang proses belajar mengajar sejak dari rencana pelajaran sampai dengan evaluasi. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Masing-masing materi pelajaran memiliki keunikan tersendiri, menggunakan metode tertentu.
Pandangan tradisional, startegi atau metode mengajar dianggap terpisah dari proses pengembangan kurikulum. Sekarang, seleksi strategi belajar mengajar menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum. Empat macam strategi belajar yang sering dilakukan dalam kegiatan belajar, yaitu : ekspositori, discovery atau inquiri, pendekatan konsep dan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di suatu kesempatan akan kami jabarkan strategi belajar tersebut.
Evaluasi Pengajaran
Setelah perumusan tujuan pendidikan, proses berikutnya menentukan bahan ajar dan startegi belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi adalah proses terakhir namun memiliki kandungan nilai yang sangat penting. Sebab dari kegiatan awal akan diketahui keunggulan dan kelemahannya. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana proses belajar mengajar telah sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi juga digunakan untuk umpan balik dan bermanfaat untuk bahan penyempurnaan. Proses mengevaluasi harus dilakukan secara terus menerus sejak dari rancangan sampai implementasinya.