Untuk Anak Kita Kelak

Setelah Ujian Nasional (UN) tertunaikan, langkah berikut menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Belajar tak pernah mengenal titik. Selalu tanda koma setelah huruf terakhir. Kata berantai menjadi kalimat. Kalimat berkelindan menjelma jadi sebuah paragraf. Lembaran selalu tersedia, andai mau membuka.Ilmu tak kan mungkin habis diserap. Pena tak kan mungkin kering untuk menorahkan satu-dua huruf dan angka.

Bulan Maret hingga Mei, adalah bulan perjuangan. Minggu demi minggu yang menyesakkan. Di bulan-bulan tersebut kata evaluasi menjadi senjata bagi setiap yang menggunakan. Berpuluh-puluh catatan harus dibongkar lagi demi mendapatkan ingatan.

Saat ini tak ada bedanya dengan dengan waktu tahun lalu, maupun masa depan. Bahkan ada sekolah yang rela untuk mendatangi rumah siswa sejak bulan Januari. Ujian menjadi kata yang sakral bagi seorang siswa yang mampu menatap masa depannya sendiri. Ujian ibarat batu terakhir untuk meloncat ke arena yang baru.

» Read more

5 Peran Guru

Mengenyam pendidikan di abad-21 sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Teknologi informasi sangat berperan dalam alih budaya yang semakin cepat. Era digital menuntut setiap orang untuk berpikir cepat dan tepat.
Cepat saja tidak mungkin. Bisa salah sasaran. Andai salah sasaran, dan tidak mampu memperbaiki, ia akan semakin tersesat. Jauh dari jalan yang mestinya ia tempuh.

» Read more

Moratorium Ujian Nasional

unas

sumber gambar : lensaindonesia.com

Pro kontra dalam kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendi terkait dengan penghapusan ujian nasional (unas) untuk jenjang SMP dan SMA/SMK terus bergulir. Ibarat sebuah jalan, kedua kubu menuju lorong yang tiada akhir. Masing-masing memiliki argumen cukup kuat antara tetap dilaksanakannya unas atau ditiadakan.

Muhajir Effendi sendiri, setelah menemui Presiden Jokowi sangat percaya diri bahwa ujian nasional tinggal menunggu regulasi Keputusan Presiden. Mendikbud beralasan bahwa moratorium penghapusan unas ini sejalan dengan konsep Nawacitanya Presiden Jokowi. Pemerintah akan menerapkan desentralisasi pendidikan. Mahkamah Agung, 7 tahun yang lalu juga sudah menetapkan bahwa ujian nasional layak untuk ditiadakan.

Alasan lain yang menguatkan unas ditiadakan adalah menghindari orang tua stress tahunan. Tidak sedikit orang tua yang justru tidak bisa mengendalikan emosi setiap akan menghadapi ujian nasional. Sedangkan anaknya justru mengabaikan. Ini membuktikan bahwa sebenarnya yang bernafsu untuk mendongkrak prestasi anak adalah orang tua.

» Read more

Menikmati Hari Guru di Malaysia

sumber gambar : blogfina.com

sumber gambar : blogfina.com

Waktu pertama kali masuk ke negeri Jiran, kebetulan saat itu bertepatan dengan Hari Guru. Sama seperti di Indonesia, Hari Guru juga di peringati di Malaysia. Rupanya memang guru harus diapresiasikan sesuai dengan kemampuan dan proporsional. Beruntung saya bisa menyaksikan Hari Guru di Malaysia. Kalau menurut catatan, hari guru jatuh tanggal 19 Mei.

Saya menyaksikan momen tersebut saat berada di Universitas Utara Malaysia. Suasananya demikian akademik, karena pelaksanaannya diisi dengan berbagai macam temu ilmiah. Tanggal 20 Mei bagi bangsa Indonesia merupakan hari Kebangkitan Nasional. Disaat bangsa kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, saya dan rombongan malah melancong ke negeri tetangga. Toh, bukan asal jalan-jalan belaka. Ada misi yang hendak kami emban dengan mengunjungi Malaysia. Tak lain adalah “ngangsu kawruh – jawa”, menimba ilmu. Persoalannya sudah tidak lazim lagi membangkitkan pepatah : dulu Malaysia belajar pada kita. Sekarang kita malah belajar dari Malaysia.

» Read more

Prinsip Pengembangan Kurikulum

sumber gambar : aljbr.sch.id

sumber gambar : aljbr.sch.id

Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan

Lembaga pendidikan tidaklah berdiri sendiri. Pendidikan berbaur dengan masyarakat. Orang tua sebagai inti pendidik, secara harfiah telah memberikan amanat kepada lembaga pendidikan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. Sehingga dalam hal ini, segala aspek yang terkait dengan potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungan secara formal telah diberikan kepada lembaga pendidikan. Sebaliknya lembaga pendidikan terikat dengan lingkungan masyarakat. Tanpa peran serta masyarakat dalam mengapresiasikan pendidikan mustahil terwujud lembaga pendidikan. Sebaliknya, lembaga pendidikan memiliki peran yang startegis untuk mengembangkan potensi anak didik untuk dapat berpartisipasi secara aktif.Beragam dan terpadu

» Read more

Tidak Sekedar Mengajar

Pendidikan yang hebat bukan sekedar menjadikan anak pintar, tetapi juga mampu menjadikan anak yang mandiri, bergaul dengan sejajar, dan bersikap bijak dalam menghadapi masalah.

Pintar saja tidak cukup. Bila yang dicari secara intelektual saja, anak-anak kita di masa yang akan datang bisa jadi akan kecewa dengan banyak persoalan. Dalam kehidupan, persoalan yang sering kali dihadapi bukan hanya pada soal matematis mekanistik, tetapi juga harus ada nilai emosi dan estetik.

Begitu banyak persoalan hidup yang akadang harus dihadapi bukan dengan kecerdasan intelektual. Orang boleh saja memiliki nilai 9 di rapornya, tetapi tidak selamanya cerdas menghadapi persoalan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, bila tujuan pendidikan hanya mencetak sosok manusia pintar, tujuan pendidikan terlalu dangkal dan sempit. Mencari formula pendidikan adalah upaya serius yang harus terus terus dilakukan dan tidak boleh berhenti. Mencari format pendidikan selalu menjadi kreativitas yang harus dikembangkan dengan baik. Upaya terus-menerus untuk belajar dalam mencari cara terbaik dalam proses belajar adalah pembelajaran itu sendiri.

ditulis oleh : Prof. DR. Komarudin Hidayat dalam 250 Wisdoms membuka mata, menangkap makna

Pendidikan dan Kebudayaan

Dimasa rezim dari pada Soeharto, keberadaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan lama bercokol. Menteri boleh berganti tapi nama departemen tetap sama. Departemen yang mengurusi orang Indonesia supaya menjadi orang yang pinter dan berbudi. Tapi mestinya tidak usah pakai dan. Cukup pakai atau. Kalau memakai dan berarti orang yang berpendidikan dan berkebudayaan munculnya mestinya sama. Yang terjadi banyak yang pinter tapi sedikit yang berbudi. Sehingga cocoknya menjadi Departemen Pendidikan atau Kebudayaan.

Reformasi bergulir dengan segala korbannya, nama departemen ini bercerai dengan alasan karena pendidikan dan kebudayaan memiliki bidang garap yang berbeda. Pendidikan harus dikelola sendiri, kebudayaan harus digarap tersendiri. Otomatis menteripun juga berbeda. Satu menteri mendalami sekolah, sejak TK sampai S-3. Menteri kebudayaan memberdayakan seni dan budaya.

Setelah masing-masing bubar jalan, mengerjakan urusan masing-masing, ternyata mengalami kebingungan sendiri. Kebudayaan semakin merana dan tak tentu arahnya, sementara di pihak pendidikan semakin kacau, terutama setelah kekuatan ekonomi mulai masuk. Walhasil nama departemenpun rujuk lagi.

Arief Rahman Hakim, seorang pakar pendidikan  mengatakan : “ Sebaiknya jangan dipisahkan. Program Pendidikan membuat Kebudayaan yang baik, dan Kebudayaan melahirkan Pendidikan yang Mulia”. Lebih jauh, beliau meminta agar  Tujuan Pendidikan untuk membentuk masyarakat yang berbudaya dan beradab. Jika sudah berbudaya maka secara otomatis akan mendorong terbentuknya masyarakat yang berkecukupan.  Pendidikan dan Kebudayaan ibarat seperti pohon ilmu yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Yang harus dipertegas adalah konsep dan filosofinya.

Bila merujuk pada definisi kebudayaan, banyak sekali yang menelurkan konsep kebudayaan. Maestro kebudayaan, Koentjaraningrat misalnya mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat. Sedangkan Ki Hajar Dewantara bertutur bahwa kebudayaan adalah buah budi manusia. Yaitu hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, zaman dan alam. Keduanya merupakan bukti bahwa kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Itulah konsep kebudayaan menurut ahli kebudayaan. Sulit kan mencernanya? Sama.

Dari berbagai pendapat tokoh diatas, maka bisa ditarik benang putih bahwa pendidikan dan kebudayaan itu adalah : 1. Nafas Kita. Pendidikan adalah belajar. Belajar memerlukan waktu 24 jam. Setiap detik harus merupakan pembelajaran. Konsep ini telah berhasil dilaksanakan oleh pondok pesantren dan individual. Rumah tangga yang berhasil adalah mereka menerapkan pola belajar 24 jam. Belajar di sekolah mungkin hanya sebagai referensi, selanjutnya di kembangkan di rumah. 2. Masyarakat yang menilai. Budi pekerti atau yang sekarang sedang ngetop adalah pendidikan karakter (Walaupun sebenarnya saya kurang setuju menyamakan budi pekerti dengan karakter). Budi pekerti sebaiknya diserahkan kepada masyarakat. Masyarakat yang mengelola sekaligus menilai. Sebab budi pekerti memang masih tergantung dengan situasi dan kondisi setempat. Tapi secara umum bahwa satu daerah dengan daerah yang lain memiliki ruh yang sama yaitu akhlak yang luhur.

Akhlak mengajarkan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Budi pekerti meletakkan posisi manusia. Dengan orang yang lebih tua harus bersikap tertentu, dengan umur yang sejajar dan umur yang lebih muda menempatkan diri dengan kedudukan tertentu. Tradisi yang adi luhung juga mendidika agar cinta terhadap alam dan makhluk yang lain.

1 2