Ramadhan

Sebentar lagi bedug jelang ramadhan akan bertalu-talu. Muslim dan muslimah akan menjalankan acara ritual tahunan yang telah mendarah daging. Anak-anak seperti biasa akan dengan takzim mendengarkan petuah agama dari sang mubaligh beneran atau mubaligh kagetan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an akan selalu bergelombang mendera disetiap kolong langit.
Kami telah memprediksikan bahwa kegiatan Ujian Nasional (untuk SMP) dan rangkaiannya,  bila tidak ada perubahan, akan berlangsung 3 tahun di bulan suci Ramadhan. Ujian Nasional memang salah satu aktifitas yang menyita tenaga dana pikiran. Bukan hanya untuk siswa kelas IX saja, namun berimbas pada adik-adiknya.
Ada rumor, pada saat pembagian tugas mengajar, khususnya guru bidang studi yang diunaskan, lebih cenderung memilih mengajar siswa kelas IX atau XII. mengapa? Karena kelas tersebut jatah waktu pelajarannya berkurang. Setelah pelaksanaan unas usai otomatis guru yang bersangkutan lebih banyak menganggur.
Bila dibandingkan tahun-tahun silam, ramadhan bukan hanya monopoli milik kampung. Siswa justru lebih banyak beraktifitas di sekolah. Sehingga pembelajaran lebih banyak dikelola oleh guru. Himbauan dari instansi terkait menyemangati agar sekolah yang mengarah pada peningkatan iman dan taqwa.
Namun untuk tahun ini berbeda. Anak-anak kembali akan diasuh oleh kampung. Kegiatan ramadhan di kampung akan lebih semarak. Menurut penulis suasana seperti ini bagus. Artinya bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya dipundak guru. Masyarakat juga berhak untuk mengajarkan kepada anak-anak. Amanah dalam undang-undang juga seperti itu.
Dukungan real dari masyarakat mudah-mudahan mampu mengangkat pendidikan karakter. Ramadhan adalah bulan suci yang penuh dengan keberkahan. Mengais ilmu adalah memaknai rasa syukur, bahwa akal merupakan nugerah yang sangat bermanfaat. Ramadhan sebagai sarana untuk mengasah jiwa, sehingga akan bermapak pada perilaku yang islami.

Nishfu Sya’ban

Berbagai cara masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan. Masing-masing daerah memiliki tradisi dan cara tersendiri. Di pesisir utara, khususnya Semarang dan seputar ada perayaan Dug Deran. Di daerah Solo, Klaten dan lingkungannya ada tradisi Nyadran. Pun dengan daerah lain. Intinya tetap sama yakni menyambut tamu agung mesti melakukan persiapan fisik dan mental.

Nisfu Sya’ban adalah salah satu di antara sekian banyak kebiasaan menyambut Ramadhan. Pengertian sya’ban sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebut bahwa sya’ban artinya berpencar (yatasya’abuun). Karena pada jaman dulu masyarakat berpencar mencari sumber air. Ada yang memaknai tasya’ub karena kebiasaan berpencar di gua-gua. Ada pula yang mengartikan sya’aba yang berarti di antara dua bulan mulia yaitu bulan Rajab dan Ramadhan.

Yahya bin Mua’adz menafsirkan kata sya’ban dengan memerinci huruf demi huruf yang masing-masing :

Syiin menunjukkan bahwa di bulan tersebut orang-orang mu’min akan diberi syarof dan syafaat (kehormatan dan pertolongan) oleh Allah swt.

Huruf ‘ain pertanda akan diberi ‘izzah dan karamah (keperkasaan dan kemuliaan)

Huruf baa’ menunjukkan akan diberi birr (kebajikan)

Huruf alif pertanda akan deberi ulfah (kelemah-lembutan)

Huruf nun pertanda diberi nuur (cahaya)

Apa keistimewaan dan korelasinya bulan : Rajab, Sya’ban dan Ramadhan?

Ketiga bulan tersebut memiliki makna yang amat penting. Bulan Rajab saat manusia memohon ampun atas segala dosanya, bulan Sya’ban merupakan bulan rahabilitasi qalbu dari segala cacat, sedangkan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, diampuni segala macam dosa dan dibebaskannya manusia dari api neraka.

Ada apa sebenarnya pada nishfu (pertengahan) sya’ban?

Rasulullah s.a.w memberikan tauladan bahwa pada pertengangan bulan sya’ban disarankan untuk melaksanakan shalat malam dan berpuasa di siang hari. Kedua kebiasaan yang dilakukan Rasullah s.aw. tersebut terbukti manjur untuk segala urusan di dunia. Karena sifat-sifat Allah akan diberitahu sejak dari tenggelamnya matahari hingga waktu jelang fajar. Hanya orang tertentu yang bisa menangkap pesan itu.

Masih di hadits yang sama, Rasulullah juga menyampaikan “siapa saja yang meminta ampun, niscaya Allah akan memberi permintaannya, siapa saja yang minta rizki maka akan Allah berikan rizki itu.

Sore di Masjid Agung Jateng

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Semula saya hanya ngantar keluarga untuk mengikuti pelatihan Seni Baca Al Qur’an yang diasuh oleh Hj. Mawaddah Muhadjir. Kursus yang diselenggarakan oleh takmir Masjid Agung Semarang bersifat terbuka. Siapapun boleh mengikuti. Baik yang sudah pandai melantunkan lagu Al Qur’an ataupun yang masih mengenal huruf hijaiyyah. Karena seni bersifat universal.
Setelah menunggu mengular karena antri untuk keluar dari jalan tol Bawen-Semarang, akhirnya tiba juga di masjid selepas siang yang menyengat. Sebelumnya tampak ragu. Apakah lewat jalur konvensional (lewat ungaran) ataukah lewat tol. Namun setelah merasakan alur lalu lintas dari Salatiga, kuputuskan lewat jalan tol. Dan tentu saja agak jengah. Jalannya monoton.

» Read more

Washilah

Alhamdulillah… Tak terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban, bulan persiapan menuju Ramadhan.

Abu Bakar Al-Balkhi mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam dan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman, sementara bulan Ramadhan adalah bulan untuk memetik hasil panen.”

(Lathaif Al-Maarif)

Diantara amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Sya’ban adalah memperbanyak puasa sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummul Mukmini Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau banyak melakukan puasa melebihi puasanya di bulan Sya’ban.”

(HR. Bukhari Muslim)

Seperti halnya sholat yang memiliki rowatib (qabliyah dan ba’diyah), maka Ramadhan juga demikian. Dimana puasa pada bulan Sya’ban menjadi qabliyahnya sementara puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi ba’diyahnya. Dengan melakukan rowatib ini diharapkan dapat menutupi kekurangan yang ada pada bulan Ramadhan nanti.

Selamat menunaikan puasa Sya’ban

Catatan:

1.Puasa Sya’ban bisa dilakukan kapan saja (mutlak) selama bulan Sya’ban, terkecuali pada hari yang diragukan, yaitu satu atau dua hari menjelang Ramadhan.

2. Bagi yang ingin berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu, sebaiknya dibarengi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya.

Wallahu a’lam
_________

Madinah 1 Sya’ban 1437 H
ACT El-Gharantaly