Memberi, tidak Membuat Kita Rugi

Ulurkan tanganmu untuk meringankan teman. Tebarkan senyummu untuk menghibur kawan karena tangan maupun bibirmu tidak akan lepas dan berkurang dari dirimu hanya karena membantu yang lain. Semoga jiwamu kian mencerahkan.

Apakah memberi itu rugi? Apakah ketika akan memberi sesuatu kepada orang lain, lalu sesuatu yang ada pada diri kita ini ikut berkurang? kalau kita mengukurnya dengan materi dan hitungan matematis, mungkin saja kita akan mengatakan bila kita memberi pada orang lain, maka apa yang kita miliki jadi berkurang.

Apa yang akan terjadi ketika kita memberi senyum tulus kepada orang lain? Apakah senyum yang kita tunjukkan dengan bermodalkan bibir ini apakah akan membuat bibir kita terbuang dan berpindah orang lain? Tentu saja tidak. Tetapi dalam kaitan memberi dengan senyuman, sesungguhnya tidak sekedar swnyuman saja yang kita kerahkan. Satu hal yang lebih utama dalam melemparkan senyuman adalah kejujuran, ketulusan, dan rasa kasih.

Kalau tidak ada ketulusan, hal ini hanya menjadi lips belaka. Bibir kita mungkin akan tersenyum manis, semanis senyuman pramugari atau model, tetapi hati kita dipenuhi dendam dan kedengkian. Bukan senyum semacam ini yang dikatagorikan sunah oleh Rasulullah. Pada hakikatnya, senyum adalah menghamparkan dan mengamini kebenaran (shidq). Dan kebenaran adalah akar dari kata sedekah (shadaqah).

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdoms.