Ekstra Kurikuler

DSCN1164

Ekstra kurikuler adalah kegiatan kesiswaan yang dilakukan di luar jam belajar. Artinya bahwa kegiatan ini memang dilakukan oleh beberapa siswa dengan memilih salah satu kesukaan sesuai bakat dan minat mereka. Waktu yang digunakan sebenarnya bebas namun tidak mengganggu proses belajar.
Kegiatan siswa ini dilindungi oleh undang-undang dengan diterbitkannya permendikbud no62 tahun 2014. Aturan legalitas ini mengamanatkan secara penuh kepada satuan pendidikan atau sekolah untuk melaksanakan kegiatan siswa diluar proses belajar.

Ekstra kurikuler adalah bentuk pendampingan dari kurikuler. Disamping ekstra kurikuler masih ada lagi kegiatan berupa intra kurikuler dan ko kirikuler. Batasan ketiganya secara teknis tidak begitu jelas, karena ketiganya merupakan kegiatan kesiswaan.

» Read more

Tiga Tahapan Konstruksi Vygotsky

zpd

Lahir di tanah Rusia pada tanggal 17 November 1896. Vygotsky sebenarnya bukanlah yang memiliki ahli dalam pendidikan, karena awalnya dia seorang sastrawan. Penyuka pusi. novel, menulis cerpen dll. Saat usia memasuki 28 tahun, ia mulai serius dalam bidang psikologi. Basic keilmuan yang dikantongi adalah sastra, namun kakinya melangkah ke bidang psikologi. Tahun 1925 beliau menuangkan desertasinya dengan judul “psycology of art”.

Dari desertasi inilah awal mula perkembangan belajar yang menganut konstruksivisme, yang mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif seseorang bukan hanya dipengaruhi oleh individu diri sendiri, namun juga dipengaruhi oleh lingkungan. Ada dua perkembangan konstruksi yang ia kemukakan :

» Read more

Profesor Goes To School

Hari ini saya cukup bersyukur dapat menghadiri forum ilmiah yang tersaji dalam Profesor Goes to School, bertempat di SMP Negeti 3 Yogyakarta. Kapasitasku sebagai peserta yang diundang oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Prop. DIY. Saya mengapresiasi usaha Dinas Pendidikan untuk menghadirkan nara sumber dati Universitas Gajah Mada yaitu, Prof. DR. Kirbani Sro Brotopuspito dosen Geofisika dan Prof. DR. Rer. Net. Widodo dari MIPA UGM.
Puncak kesyukuran saya taktala berjumpa dengan sesama guru matematika dan juga guru IPA. Satu pertemuan yang jarang terjadi, kecuali bila ada undangan untuk pemberkasan sertifikasi. Forum ilmiah ini sengaja menghadirkan ilmuan dengan tujuan agar perkembangan ilmu murni dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Usaha ini juga diperkuat oleh kelembagaan dewan pendidikan DIY. Diharapkan kajian ilmiah tidak hanya sampai disini. Tentu usaha-usaha yang dilakukan oleh peminat pendidikan masih terus ditunggu gebrakannya dalam rangka mendongkrak mutu pendidikan.
Kesempatan presentasi pertama Prof. Widodo. Seorang dosen yang sekaligus praktisi pendidikan yaitu PPPPTK Matematika. Materi yang beliau sajikan tentang pemodelan. Baginya model diartikan sebagai representasi yang memuat struktur esensial dari suatu obyek dalam dunia nyata. Dalam matematika, model diartikan representasi masalah dalam dunia nyata. Karena banyak sekali kita jumpai simbol-simbol matematika yang justri kita gunakan sehari-hari. Simbol ini merupakan buah kesepakatan secara bersama-sama seperti + , × – dan : . Dari simbol tersebut manusia dapat mencapai puncak kebudayaan. Oleh karenanya matematika sangat membantu dalam setiap masalah yang dijumpai manisia.
Contoh yang disajikan oleh Prof Widodo tentang kredit. Pembaca pasti telah melakukan transaksi kredit. Misalnya kredit sepeda motor. Saat sefanh tawar menawar, petugas akan gesit melayani hitung menghitung yang sebelumnya sudah disetting. Sehingga dia akan menghitung secra trampil dan jitu. Sodorkan uang muka, janjikan berapa kali dibayar, ia akan memainkan tut kalkulator. Tak sampai 20 detik, tersaji angka yang fantastik. Bukan besar kecilnya uang cicilan, tapi coba jumlah secara keseluruhan berapa uang yang harus disetor ke dealer atau bank. Dikesempatan lain mudah-mudahan bisa kami tulis macam-macam bunga yang diterapkan oleh bank dan bagaimana cara mengatasinya.
Maksud yang hendak disampaikan oleh profesor, bahwa banyak sekali aktifitas manusia yang bisa dibuat pemodelan. Dari pemodelan ini guru digiring untuk berfikir logis, bahwa ternyata ada cara-cara lain yang bisa ditempuh agar uang bisa dihemat. Tidak dicekik oleh bunga, dan tidak diajak berantem bank plecit.

Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yanh digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Guru Dambaan Siswa

Siapa yang tak ingin dicintai orang lain? Disayangi orang lain adalah dambaan setiap orang. Menandakan bahwa sahabatnya banyak. Hubungan silaturahmi yang selalu dipupuk, akan melahirkan cinta kasih dengan sesame.

Idaman seorang guru adalah, apabila transfer ilmu berhasil dengan sukses. Tanpa tekanan. Tanpa ancaman. Siswa dapat menerima secara utuh pengetahuan yang diberikan oleh guru. Bahkan bisa mempraktekkan dan mengembangkan ilmu.

Namun apakah semua guru mampu melakukan seperti itu? Apakah siswa juga bisa menerima dengan baik?

Prasyarat terjadinya alih informasi ada dua yaitu : pemberi dan penerima. Pemberi, memberikan informasi kepada penerima lewat media. Transformasi pengetahuan dapat berjalan dengan baik, manakala antara pemberi dan penerima telah siap dengan segala kondisi sesuai fungsi masing-masing. Guru siap dengan materi dan metodenya, siswa siap melihat dan mendengarkan.

Ada syarat non teknis yang perlu diketahui oleh guru, agar siswa tertarik dengan kepribadian yang dimiliki oleh seorang guru. Faktor non teknis ini acap kali kadang menjadi penentu seorang siswa memperhatikan mata pelajaran dengan seksama atau justru akan mengganggu jalannya pelajaran. 1. Menyapa. Siswa yang disapa secara pribadi, akan menimbulkan rasa empati. Artinya, keberadaan siswa di kelas diakui dan diperhatikan. Guru menyapa siswa, mungkin tak ada kaitannya dengan keluarga. Namun menanyakan kabar Bapak, Ibu, atau saudaranya, sangat cukup membuat siswa  diperhatikan.

Ajakan bergurau akan membuat kondisi kelas selalu dinamis. Sesekali nembak siswa, tapi jangan sampai hati terluka. Membandingkan keadaan antar keluarga juga bisa dilakukan, sebatas informative dan sedikit candaan.  2. Berpakian yang bersih dan rapi. Jenis pakaian dan cara berpakaian seorang guru sangat diperhatikan oleh siswa. Mungkin guru tidak terlalu peduli dengan pakian yang dikenakan. Selain jenis pakaian seragam yang tidak terlalu nyaman, terkadang pakaian disetrika dengan sembarangan. Sehingga muncul dua garis. Dipandang sangat tidak elok.

Bila cara berpakian seorang guru sembarangan, seperti tidak rapi, kombinasi warna yang norak, apalagi berbau, yang pertama kali terjadi adalah siswa tidak respek. Bagaimana mungkin akan terjadi transfer ilmu, manakala penerima (siswa) tidak peduli dengan kondisi pemberi (guru). 3. Wajah Berseri. Senyum dengan orang lain akan mendapat pahala. Senyum akan memberi kesan seorang peramah. Seorang peramah memiliki banyak sahabat. Seorang peramah enak diajak bicara dan senang mendengarkan orang lain.

Senyum harus dimiliki seorang guru, meskipun hatinya sedang gundah. Langkah pertama memasuki ruang kelas, mesti diikuti dengan wajah yang ceria. Sebagaimana seorang penyiar. Dalam kondisi sedang duka sekalipun, penyiar selalu menyapa pendengar dengan ramah dan selalu mengundang senyum. 4. Menyuruh Siswa. Dulu, siswa berebut membawakan tas seorang guru, sesaat setelah turun dari sepeda. Sekarangpun siswa paling senang disuruh guru mengambilkan barang tertentu yang tertinggal di ruang guru, atau mengambilkan alat tulis di ruang administrasi. Namun, siswa paling tidak suka disuruh mengambilkan barang yang tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran.