Menjaga Progresifitas

Memasuki minggu akhir Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) bagi guru menunjukkan grafik yang semakin meningkat. Ditengah pekerjaan rutin yang menerpa setiap peserta, tagihan yang harus disetor semakin meningkat dan rumit. Tak hanya karya yang harus detail, namun koneksi internet yang akan masuk ke system menjadi ganjalan.

Sistim zonasi yang kita anut, menuntut adanya kerjasama antar tim atau antar kelompok. Tanpa kerjasama yang baik, beban pekerjaan semakin berat. Karena masing-masing tagihan memiliki tingkat perbedaan yang cukup tinggi. Meskipun isinya sudah merupakan bagian dari rutinitas harian, namun kalau ada hal-hal yang baru tetaplah pelik juga.

Progresifitas, yang merupakan judul dari tulisan ini dimaksudkan agar tenaga senantiasa terjaga, stabil dan bila perlu dapat menunjukkan grafik yang meningkat. Antara kegiatan mengajar yang rutin dan pelatihan ini berimbang. Tak berat sebelah. Apalagi pelatihan dianggap sebagai tenaga sisa. Bisa juga (secara waktu) mengerjakan tugas merupakan sisa.

Agar progresifitas tetap terjaga dan stabil, maka kami katagorikan menjadi tiga bagian, yaitu : Stamina.  Raga yang hanya satu itu diolah dan ditata sedemikian agar kondisi tetap prima, atau stabil. Tak lagi mengenal istilah LMS (lemes). Menjaga vitalitas agar membara menjadi kewajiban. Membara memang tak kenal umur. Tak kenal jenis kelamin. Vitalitas yang menggebu-gebu bersumber dari motivasi. Semua diberi daya dorong yang berupa motivasi. Andai motivasi terus menyala, maka tenaga akan tetap prima.

Daya tahan tubuh memiliki peranan penting. Untuk menjaganya perlu asupan energi yang proporsional. Protein dan vitamin harus berimbang dan disesuaikan dengan usia. Mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, (mencukupi kebutuhan tidur), dipercaya mampu meningkatkan daya tubuh. Tanda kurung sengaja saya cantumkan, sebab realisasinya tidak demikian.

Kinerja. Tenaga bukan satu-satunya tiang untuk membangun prestasi. Ada sebuah komponen yang penting yaitu kinerja. Pada Pada dasarnya kinerja yang baik adalah kinerja yang mengikuti tata cara atau prosedur sesuai standar yang telah ditetapkan. Namun demikian, kinerja bukanlah makhluk yang berdiri sendiri. Ia memiliki kriteria untuk dibangun.

Kriteria yang dimaksud adalah standar dimana ia beraktifitas. Kinerja seorang guru berbeda dengan seorang wiraswasta. Keduanya memiliki standar yang berbeda. Dari standar yang menjadi nilai minimal pada Lembaga yang bersangkutan dapat menimbulkan produksifitas meningkat atau justru menurun. Tentunya itu semua tidaklah muda membalikan telapak tangan. Akan ada tangan dibalik keberhasilan. Itulah standar manajemen.

Pelatihan ini sudah ditentukan standarnya. Ukuran dan batas-batasnya telah ditetapkan. Andai mengikuti prosedur yang benar, tentu kinerja peserta akan berada pada track yang benar. Tak terlalu melaju atau tergopoh-gopoh. Menjaga kinerja yang benar termasuk menjaga progresifitas.

Teknologi. Tak bisa dibayangkan andai dalam melaksanakan tugas tidak memakai jasa teknologi. Teknologi Informasi (TI) terbukti sangat membantu dalam segala lini kehidupan. Tak terkecuali dalam setiap pelatihan. Dengan TI semua menjadi semakin cepat dan efisien, andai dilakukan dengan prosedur atau cara-cara yang melekat dengan TI itu sendiri.

Apa benar dengan TI semua jadi beras? Belum tentu. Karena TI disertai dengan aturan dan cara penggunaan yang melekat. Bila tidak bisa menguasai, maka harus belajar terlebih dahulu. Sehingga tak heran, TI justru memperlambat kinerja yang berujung pada kelelahan stamina. Teknologi Informasi akan membantu dengan sepenuh raga agar pengguna dapat menikmatinya, dengan syarat memiliki pengetahuan yang cukup.