Nishfu Sya’ban

Berbagai cara masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan. Masing-masing daerah memiliki tradisi dan cara tersendiri. Di pesisir utara, khususnya Semarang dan seputar ada perayaan Dug Deran. Di daerah Solo, Klaten dan lingkungannya ada tradisi Nyadran. Pun dengan daerah lain. Intinya tetap sama yakni menyambut tamu agung mesti melakukan persiapan fisik dan mental.

Nisfu Sya’ban adalah salah satu di antara sekian banyak kebiasaan menyambut Ramadhan. Pengertian sya’ban sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebut bahwa sya’ban artinya berpencar (yatasya’abuun). Karena pada jaman dulu masyarakat berpencar mencari sumber air. Ada yang memaknai tasya’ub karena kebiasaan berpencar di gua-gua. Ada pula yang mengartikan sya’aba yang berarti di antara dua bulan mulia yaitu bulan Rajab dan Ramadhan.

Yahya bin Mua’adz menafsirkan kata sya’ban dengan memerinci huruf demi huruf yang masing-masing :

Syiin menunjukkan bahwa di bulan tersebut orang-orang mu’min akan diberi syarof dan syafaat (kehormatan dan pertolongan) oleh Allah swt.

Huruf ‘ain pertanda akan diberi ‘izzah dan karamah (keperkasaan dan kemuliaan)

Huruf baa’ menunjukkan akan diberi birr (kebajikan)

Huruf alif pertanda akan deberi ulfah (kelemah-lembutan)

Huruf nun pertanda diberi nuur (cahaya)

Apa keistimewaan dan korelasinya bulan : Rajab, Sya’ban dan Ramadhan?

Ketiga bulan tersebut memiliki makna yang amat penting. Bulan Rajab saat manusia memohon ampun atas segala dosanya, bulan Sya’ban merupakan bulan rahabilitasi qalbu dari segala cacat, sedangkan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, diampuni segala macam dosa dan dibebaskannya manusia dari api neraka.

Ada apa sebenarnya pada nishfu (pertengahan) sya’ban?

Rasulullah s.a.w memberikan tauladan bahwa pada pertengangan bulan sya’ban disarankan untuk melaksanakan shalat malam dan berpuasa di siang hari. Kedua kebiasaan yang dilakukan Rasullah s.aw. tersebut terbukti manjur untuk segala urusan di dunia. Karena sifat-sifat Allah akan diberitahu sejak dari tenggelamnya matahari hingga waktu jelang fajar. Hanya orang tertentu yang bisa menangkap pesan itu.

Masih di hadits yang sama, Rasulullah juga menyampaikan “siapa saja yang meminta ampun, niscaya Allah akan memberi permintaannya, siapa saja yang minta rizki maka akan Allah berikan rizki itu.

Malam Nisfu Sya’ban adalah malam pada tanggal 15 Sya’ban. Ada perbedaan pendapat soal hadis yang menjadi dasar keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Ustaz Bachtiar Nasir menerangan memang banyak sekali hadis yang meriwayatkan tentang keistimewaan malam Nisfu Sya’ban. Sebagian ulama mengatakan, tidak ada satu pun hadis sahih tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Sedangkan, sebagian ulama hadis mengatakan, ada riwayat yang karena banyaknya sanad hadis tersebut maka ia menjadi sahih atau paling tidak menjadi hasan yang bisa dijadikan sebagai sandaran.

 

Washilah

Alhamdulillah… Tak terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban, bulan persiapan menuju Ramadhan.

Abu Bakar Al-Balkhi mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam dan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman, sementara bulan Ramadhan adalah bulan untuk memetik hasil panen.”

(Lathaif Al-Maarif)

Diantara amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Sya’ban adalah memperbanyak puasa sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummul Mukmini Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau banyak melakukan puasa melebihi puasanya di bulan Sya’ban.”

(HR. Bukhari Muslim)

Seperti halnya sholat yang memiliki rowatib (qabliyah dan ba’diyah), maka Ramadhan juga demikian. Dimana puasa pada bulan Sya’ban menjadi qabliyahnya sementara puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi ba’diyahnya. Dengan melakukan rowatib ini diharapkan dapat menutupi kekurangan yang ada pada bulan Ramadhan nanti.

Selamat menunaikan puasa Sya’ban

Catatan:

1.Puasa Sya’ban bisa dilakukan kapan saja (mutlak) selama bulan Sya’ban, terkecuali pada hari yang diragukan, yaitu satu atau dua hari menjelang Ramadhan.

2. Bagi yang ingin berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu, sebaiknya dibarengi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya.

Wallahu a’lam
_________

Madinah 1 Sya’ban 1437 H
ACT El-Gharantaly