Jum’at Berkah

Sesungguhnya kejayaan suatu umat terletak pada akhlaknya, jika akhlak telah hilang dari mereka, maka binasalah umat itu. (Syeikh Ahmad Syauqi Beik)

Islam yang saya pelajari, menurut ustadz ada 3 macam bagian. Bagian yang pertama merupakan dasar dalam Islam adalah Aqidah. Kedua adalah amalan-amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW yaitu Ibadah Mu’amalah. Ketiga, adalah akhlak. Ketiga bagian itu menjadi satu kesatuan utuh dan tidak boleh dipisah.

Kalau ada sebuah hadits yang mengatakan “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Itu merupakan misi utamannya. Salah satu tujuan Allah menurunkan para Nabi dan Rasul tak lain untuk memperbaiki perilaku masyarakat.  

Bukan berarti bahwa akhlak adalah yang utama, kemudian aqidah dan mu’amalah menjadi terabaikan. Menilik perjalanan Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, memang diawali dari perilaku beliau yang terpuji. Dalam bermasyarakat Rasulullah telah memperlihatkan kesantunan, mengangkat derajad para budak, memuliakan kaum wanita (terutama Ibu).

Tugas yang maha berat, ditengah masyarakat yang sangat feodalisme, mengagungkan harta benda. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin harus mengalahkan hawa nafsu. Agama yang memberi solusi persoalan yang dihadapi oleh umatnya.

Melalui teladan Rasulullah, sedikit demi sedikit persoalan yang melilit penduduk Mekkah saat itu mulai terurai. Rasulullah Muhammad SAW memberi penjelasan siapakah Allah swt sebenarnya. Untuk apa manusia dilahirkan sampai ajal menjemput. Mengapa umatnya diharuskan untuk menjalankan kewajiban. Sebaliknya, atas dasar apa Allah swt juga melonggarkan kewajiban bagi umatnya dalam kondisi tertentu. Semuanya itu dituturkan dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW. 

Akhlak mulia adalah sumber kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Kemuliaan seseorang diukur dari seberapa tinggi akhlaknya. Kesuksesan seseorang dalam menggapai cita-cita juga berawal dari penerapan akhlak. Kemakmuran sebuah bangsa dapat dinilai dari aplikasi akhlak warganya.

Kesuksesan seorang santri adalah manakala ia berakhlak mulia terhadap ustadznya. Bersikap sopan santun dan lemah lembut ketika berbicara orangtua, guru, dan temannya. Begitu penting sekali akhlak dalam kehidupan ini, menyebabkan para ulama terdahulu meluangkan waktunya untuk menyusun kitab-kitab khususnya yang terkait langsung dengan seputar akhlak. Buku-buku tersebut dapat menjadi panduan bagi kita semua.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *