Gempita silaturrahmi lebaran gaungnya masih lama terdengar. Pudarnya melebihi dari bulan syawal. Kalau bulan syawal 30 hari, silaturahmi dalam rangka lebaran bias berbulan-bulan. Di kantor, lembaga, atau di sudut kampung, masih terlihat menggeliat aktifitasnya. Tidak hanya di perkantoran, rumah tangga pun masih banyak dijumpai.  Tidak heran sang tuan rumah terlihat kebingungan manakala tamu datang, tapi persediaan makanan telah sirna..

Mengejar silaturrahmi sama saja dengan mengejar pahala yang berhadiah masuk surga. Karena yang akan digapai adalah surga, tentu dalam meraih tidak semudah dengan apa yang dibayangkan. Godaan pasti ada. Kalau dulu, orang bersilaturami masih susah, karena transportasinya masih susah. Namun, kesempatan masih sangat terbuka lebar, karena belum banyak agenda acara yang harus dilaksanakan. Sekarang, transportasi dan teknologi informasi sangat gampang didapatkan (meski macet), tetapi kesempatan sulit diraih. Sehingga menengok saudara di kampung halaman tidak merata. Rata-rata dikejar dead line waktu masuk kerja.

Ahad beberapa hari yang lalu, awal dari cerita ini. Sebagai makhluk sosial saya dan istri cukup toleran untuk menghadiri acara pernikahan saudara atau sahabat. Pendek kata menghadiri acara pernikahan. Karena dilaksanakan pagi hari, biasanya sebelum sholat dhuhur sudah berakhir. Kami sengaja tidak menuntaskan acara hingga usai, karena istri harus menghadiri kegiatan lain, sampai jam dua siang. Perlu diketahui, bahwa jam satu siang ada acara pembukaan pengajian rutin minggu siang, setelah terpotong dengan datangnya bulan ramadhan, pengajian dimulai lagi.  Siapa yang buat acara? Saya dan istri termasuk yang membuat acara.

Pukul 13.00 ada SMS masuk, kalau ada saudara jauh dari Karanganyar datang ke rumah. Saya tidak tahu persis dari jalur mana saudara ini. Kalau ditelusuri rumit. Tapi tetap saudara. Orangnya sudah berumur hampir 90  tahun. Datang berdua dengan istrinya dengan mengendarai sepeda motor. Ingatan masih tajam, Terbukti beliau masih ingat jalan dan kampong yang sudah lama ditinggalkan.  Saya disuruh memanggil Mbah De (Simbah gede – Kakek tua). Untunglah ada Ibu mertua yang bisa menunjukkan alur keturunan.

Setelah saya cerita tentang keadaan keluarga trah kecil di keluarga, beliau juga bercerita tentang keluarga. Hingga akhirnya ketahuan, bahwa selama beliau masih kuat untuk mengunjungi kerabat, beliau akan terus mencari saudara yang telah tercecer. Termasuk mertua saya (dan keturunannya) yang masih tergolong keponakannya.

Saya jadi cemburu, dengan semangat dan itikad beliau. Saya jadi bertanya sendiri. Mengapa kita sempat dan mampu menyelenggarakan kegiatan silaturahmi di kampung, di kantor, sahabat sesama alumni, tapi tidak sanggup untuk bersilaturami dengan keluarga sendiri.   

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *