Anak Dilahirkan untuk Dirinya Sendiri

Jum’at Berkah

Rasul SAW pernah mengingatkan, ”Kotoran yang menempel di bajuku akan hilang seketika bila dicuci, tapi sakit hati si anak itu karena bentakanmu, tidak akan mudah hilang.”

“Tidak menghakimi” adalah salah satu tindakan orang tua terhadap anak. Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya. Mereka mengalami pertumbuhan sesuai dengan waktunya. Tidak diperkenankan mendidik anak disamakan dengan saat orang tua dididik oleh orang tua mereka.

Penilaian dan harapan yang dilakukan orangtua yang dapat mempengaruhi persepsi negatif bila orang tua selalu curiga terhadap perilaku anak. Justri yang harus dikembangkan adalah membimbing dan menilai anak sesuai dengan karakternya. Orang tua, terutama seorang ibu pasti hafal benar terhadap karakter anak. Sejak bayi, seorang ibu diharapkan memperhatikan kejiwaan anak, agar kelak anak bisa diarahkan dan dibimbing sesuai dengan minat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa orangtua yang berprofesi sebagai dokter selalu menekankan anaknya untuk menjadi dokter, terlepas dari suka atau tidak suka anak tersebut. Orangtua yang ahli berhitung akan menentukan kehebatan anaknya dari kemampuannya berhitung. Demikian pula andai ada orang tua yang berdedikasi di bidang olah raga. Harapan terbesarnya, agar anak akan mengikuti jejaknya.

Alangkah sedihnya! Mengasuh dan membimbing dengan pola yang demikian itu. Buat apa anak kita sekolahkan dengan berbagai macam pelajaran, berbagai macam ketrampilan, dan juga bersosialisasi dengan teman sederajat, kalua akhirnya orang tua yang akan menentukan nasibnya. Tentu saja dalam hal ini bukan berarti sebagai orangtua kita pasrah dan melepas tanggung jawab untuk perkembangan jiwa anak. Bimbingan (terutama dalam hal beragama) orang tua harus terlibat di dalamnya. Pendidikan akhlak yang terbaik adalah dalam keluarga.

Orangtua harus secara sadar melihat anak mereka berkembang sebagaimana adanya. Orangtua harus benar-benar mampu menerima anak dengan atributnya sendiri dengan baik. Menerima bahwa mereka bukanlah duplikat kita semasa kecil.Menerima bahwa anak-anak masa kini berbeda dengan anak-anak masa lalu ketika orangtua masih berstatus anak-anak.

Saat ini, dunia memang tanpa batas. Kejadiaan saat ini di luar rumah, bisa diketahui saat ini juga oleh seorang anak. Dunia tanpa sekat ini, menandakan bahwa orang tua harus bijak mengambil sikap, andaikata anak menerima informasi dari luar. Jangan terlalu protok, sebaliknya juga jangan terlalu longgar. Informasi yang tidak jelas asal usulnya dan juga tidak jelas muatan nilainya, hanya akan memberi saham kepada anak untuk berbuat semaunya sendiri. Maka sebaik-baik orang tua, adalah yang dekat dengan anaknya, dan mampu membuka komunikasi secara terbuka tentang nilai kehidupan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *