Hari keduapuluhtujuh ramadhan 1442 H

Ar-Rayyan berasal dari kata Ar-Ray yang artinya puas minum atau pengairan. Dalam keadaan berpuasa, orang pasti merasa kelaparan dan kehausan. Ketika berbuka, maka haus terobati dengan minum, dan lapar terobati dengan makan. Jika ibadah lain dijanjikan 10 sampai 1000 kali lipat, maka berbeda dengan puasa. Hanya Allah saja yang mengetahui seberapa besar pahal orang yang berpuasa. Karena agungnya pahala orang-orang berpuasa, Allah menyiapkan pintu khusus di surga yang hanya dapat dimasuki oleh mereka yang menjalankan puasa, yaitu pintu Ar-Rayyan.

Riwayat lain menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya, surga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut Rayyan. Artinya, basah melimpah. Dipanggil-lah pada Hari Kiamat, ‘Wahai, mana orang-orang yang berpuasa?’ Bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutup.” Keterangan dari Rasulullah saw itu menegaskan benarnya janji Allah swt. Saat berpuasa, orang-orang yang beriman menahan diri dari hal-hal yang diperbolehkan dalam hari-hari biasa, semisal makan, minum, atau berhubungan intim (jimak) suami-istri. Maka kelak di akhirat, Allah swt mengganti semua itu dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Dari keterangan hadits diatas, maka dapat ditafsirkan bahwa pertama, orang-orang yang berpuasa, dan menjalankan ibadah puasanya dengan baik dan benar, dan didasari dengan niat tulus ikhlas mengharap ridha Allah swt, maka kelak bagi meraka disediakan satu pintu khusus untuk masuk surga. Pintu tersebut disebut dengan pintu “Ar-Rayyan”. Allah Swt menyediakan pintu ini bagi sha’imin, sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan baik. Sekaligus juga menggambarkan betapa mulianya ibadah puasa ramadhan.

Kedua, hendaknya setiap orang yang beriman, berupaya untuk melaksanakan ibadah puasa sebaik mungkin. Bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban dengan menahan diri dan makan dan minum saja. Seperti orang puasa biasa, yaitu shaumul umum. Namun hendaknya ditingkatkan menuju shaumul khusus (puasa khusus), dengan kriteria : menjaga : lisan,  pendengaran dan pandangan.

Selain menjaga tiga perbuatan tersebut, alangkah baiknya bila ditambah dengan kaffu baqiyatil abdan minal atsam (menjaga badan dari perbuatan dosa dan tidak bermanfaat),  ‘adamul israf indal ifthar (tidak berlebih2an ketika berbuka puasa) yaitu tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman saat berbuka puasa, dan al-khauf war raja’ indal ifthar (hatinya antara takut dan harap ketika berbuka puasa)

Ketiga, Mudah-mudaan Allah swt menerima ibadah puasa kita dan menjadikan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kelak layak masuk ke dalam surga melalui pintu Ar-Rayyan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *