Bersepeda dan Kesehatan

Enam bulan atau tujuh bulan selepas covid-19 menyerang, sehingga terjadi pandemi, memang telah terjadi kegalauan massal. Dua minggu sampai satu bulan mawas diri di rumah dan tidak keluar rumah bila tidak mendesak, telah menyebabkan kepenatan. Apalagi melewati bulan Ramadhan dan bulan Syawal di tahun 1442 H, yang biasanya umat manusia melakukan interaksi sosial, tiba-tiba tidak diperkenankan untuk tidak bertemu dengan tetangga atau kerabat. Kebosanan di rumah menjadi semakin lengkap.

Wajar, bila sekitar bulan September – November 2020 terjadi booming sepeda. Hasrat untuk melakukan sekedar gowes di sekitar rumah tak tertahankan. Sepeda menjadi barang yang dicari. Di toko-toko sepeda sempat terjadi antrian panjang demi mendapatkan sebuah sepeda baru, atau ingin mencari spare part. Bahkan ada pula yang harus antri dua sampai empat minggu.

Bersepeda menjadi kegiatan yang menyenangkan. Apakah bersepeda untuk olah raga atau sekedar menghirup udara kebebasan, setelah ditawan covid-19. Tiba-tiba, di setiap jalan atau gang di kampung terlihat mengular rombongan sepeda. Di tempat-tempat tertentu, menjadi daerah tujuan dalam bersepeda.

Terlepas dari aktivitas bersepeda hanya sekedar dapat keluar rumah, ternyata, gowes juga ada kaitan langsung dengan kesehatan. Reaksi tubuh setelah 60 menit bersepeda dapat dirinci sebagai berikut :

Sepuluh menit pertama, penat menghilang dan senyum gembira mengiringi setiap kayuhan. Sepuluh menit itu baru beberapa meter dari rumah. Mungkin baru keluar kampung. Tenaganya masih fresh, tapi pemandangan sudah terbuka.

Menit ke duapuluh, tubuh membersihkan kortisol, sehingga tidur bisa nyenyak. Ada rekomendasi bagi penderita insomnia. Aktivitas ini dapat dicoba, yaitu bersepeda 20 menit setiap hari. Harap dicatat bahwa penyakit insomnia ini penyebabnya karena fisik. Belum ada jaminan bila menderita psikis.

Menit ke empat puluh, aliran darah dan oksigen ke otak melonjak. Riset menunjukkan, orang yang bersepeda empat puluh menit minimal lima kali dalam seminggu, jarang menderita sakit. Kebenaran hanya dibuktikan dengan direalisasikan.

Menit ke empat puluh lima, hormone serotonin dan endorphin mulai dilepaskan. Mood menjadi meningkat. Hormon serotonin sebenarnya berperan sebagai neurotransmiter, yaitu pengantar sinyal antarjaringan saraf. Jadi selain memengaruhi suasana hati, hormon serotonin juga berperan dalam berbagai fungsi tubuh yang lain, seperti pencernaan, proses pembekuan darah, pembentukan tulang, dan fungsi seksual.  Sedangkan hormone endorphin berfungsi menghilangkan sress dan rasa sakit.

Menit ke enampuluh, resiko penyakit jantung berkurang setengah dibandingkan dengan mereka yang tidak berolah raga sama sekali.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *