dokumen pribadi
dokumen pribadi

Klaten tiap pagi hari minggu, orang berlalu lalang di jalan protocol. Jalan Pemuda. Pejalan kaki adalah yang mendominasi kerumunan, dan diikuti oleh penggemar sepeda. Sepeda motor dan mobil dilarang melintas di jalan satu arah yang membujur utara selatan. Hari itu (29 April 2012) adalah hari pertama pencanangan Car Free Day, yang akan terus dilaksanakan setiap hari minggu dari jam 06.00 – 09.00. Hanya 3 jam. Namun kerinduan untuk tidak mendengarkan suara knalpot dan kebisingan mesin sangat dinikmati warga.

Sebenarnya Klaten termasuk agak terlambat bila dibandingkan dengan kota Yogyakarta dan Surakarta. Mereka telah lama membuka akses jalan untuk kegiatan olah raga dan refreshing, pada jam tertentu. Tak ada kata terlambat, bagi orang yang ingin menggapai sesuatu. Sekarang warga Klaten bebas untuk menggunakan jalur utama sebagai ajang untuk unjuk diri.

Mulai dari pertigaan terminal bus sampai dengan pertigaan kantor kabupaten, ruas jalan memang disediakan untuk pejalan kaki atau kendaraan tidak bermesin. Cukup banyak komunitas yang bolehnya mengeluarkan kemampuan untuk diperlihatkan kepada orang lain.

1. Senam. Ada beberapa sanggar senam yang turut memeriahkan Car Free Day. Mereka unjuk kebolehan dalam menggerakkan anggota badan yang diiringi dengan hentakan music. Tua muda, besar kecil, serempak menukik, melompat dalam gerakan yang sama. Ajang ini cukup mendapat perhatian masyarakat. Ehm.. ehm.. .Ada pengunjung langsung bergabung, meskipun gerakannya agak bterlambat beberapa detik. Yang penting gerak. Yang penting heppy.

2. Olah Raga. Disamping jalan sehat, lari-lari kecil, bersepeda, ada juga komunitas yang turut andil bagian. Bela diri dan Tenis Meja. Ada 3 perguruan bela diri dan sebuah club tenis meja yang cukup menyita perhatian. Mereka memperagakan jurus-jurus kebanggaan. Dari arena tenis meja ada yang cukup bisa dibanggakan. Beradu ketangkasan memainkan bola, yang diikuti oleh kelompok anak-anak.

3. Kesenian. Selain panggung gembira milik salah satu dealer sepeda motor. Ada 2 stage yang bisa menghibur pengunjung. Drum Band anak TK diwakili oleh TK ABA ‘Aisyiyah 2 Jamalan, Tonggalan, Klaten Tengah. Anak-anak kecil telah mampu memainkan lagu-lagu lewat instrument Drum Band. Adapun penampilan SD Negeri 2 Glodogan Klaten Selatan lebih unik. Menamakan diri sebagai Drum Band Katrok, mereka memainkan instrument dengan alat-alat tradisional. Kaleng plastik bekas cat, kentongan yang biasa dipakai di pos ronda atau penghalau burung di sawah, botol minuman dan seperangkat alat musik tradisional lainnya. Iramanya merdu, harmoni alat musiknya seimbang. Mayoret cukup membawa tongkat pramuka. Praktis, murah meriah dan menghibur. Wayang kulit juga tidak mau ketinggalan. Yang bikin bangga adalah dalang maupun penabuh gamelan semuanya masih anak-anak. Lakon yang dibawakan satu babak. Cuma 15 menit. Dari waktu yang disediakan itu hanya perang tanding. Tokoh antagonis harus kalah. Setelah ada tokoh yang mati, dalangnya ganti. Ceritera yang dibawakan sama, beda tokoh. Namun tetep perang tanding. Siapa bilang kebudayaan yang dimiliki warga akan punah? Hanya saja mereka harus diberi wadah, diberi kesempatan untuk tampil, diluangkan jalannya agar mereka tetap berkembang.

4. Fotografi. Tidak bisa dipungkiri, bahwa arena fotografi yang paling besar peminatnya. Mengapa? Karena disitu ada peragawati yang bolehnya melenggak-lenggok, meskipun diatas aspal. Bukan di karpet. Organisasi penggemar foto ini cukup banyak peminatnya. Dengan penuh percaya diri, mereka menggenggam foto digital dari produk-produk yang sudah terkenal. Berdiri, jongkok, duduk, atau bahkan tiduran. Mengikuti mood untuk memperoleh angel yang pas. Sengaja saya tidak meng-upload peragawatinya, agar kompasioner tetap dapat konsentrasi membaca.

5. Komunitas lain. Cukup banyak dan beragam, komunitas yang ada di kota klaten untuk turut serta men sukseskan program Car Free Day. Penggemar sepeda fixie, bahkan mengusung sebuah tulisan yang cukup folosofis. Kelompok pelukis juga turut memamerkan karyanya. Bagi mereka, media lukisan tidak harus berupa kertas atau kanvas. Benda-benda lain juga bisa dipakai untuk media. Bahkan hasilnya malah menambah nilai seni. Demikian pula penyuka papan luncur, yang lebih didominasi oleh anak muda. Bermain papan luncur membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan keseimbangan tubuh yang luar biasa beratnya.

Akhirnya ruas jalan yang dipakai tak terhindarkan dari ajang promosi. Itu tidak salah. Memanfaatkan peluang. Disepanjang jalan, toko-toko yang semula buka jam 09.00, hari itu sudah buka jam 07.00. Beberapa sekolah juga memanfaatkan momentum. Musim penerimaan siswa baru segera tiba.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *